tajuk

Revolusi tidak serius di Iran

Bagi Amerika,  sokongan serius bagi revolusi di Iran adalah sebuah dilema.

21 November 2019 04:36

Setelah bertiup dari Tunisia, Mesir, dan Libya sejak 2011, angin Revolusi Timur Tengah akhirnya tiba di sasaran utama keduanya, Iran, setelah gagal di Suriah. 

Sedari Jumat pekan lalu, sebagian rakyat Iran berunjuk rasa di jalan-jalan memprotes kenaikan harga bensin sebesar 50 persen menjadi 15 rial (US$ 0,13), tetap termasuk termurah di dunia. Demonstrasi itu, menurut Iran News Wire, sudah meluas hingga ke140 kota. Amnesty International menyebut tindakan keras pasukan keamanan Iran telah membunuh paling tidak 106 orang. 

Teheran menegaskan kenaikan harga bensin itu sangat diperlukan. Menurut seorang diplomat Iran, pemerintahnya saban tahun menggelontorkan US$ 110 juta buat subsidi bahan bakar. Anggaran subsidi itu kini dialihkan buat bantuan tunai bagi 60 juta rakyat Iran, besarnya beragam mulai 500 ribu rial hingga 2,1 juta rial per keluarga bergantung pada jumlah anggota keluarga. 

Melihat perkembangan protes di Iran, sulit gerakan massa ini dapat menumbangkan rezim Mullah sudah berkuasa empat dasawarsa sejak kemenangan Revolusi Islam pada 1979. 

Hal ini terlihat fakta di lapangan. Demonstrasi itu berlangsung sporadis dengan kumpulan massa tidak begitu melimpah. Alhasil, pasukan keamanan mudah membubarkan mereka. 

Para pengunjuk rasa itu tidak memiliki pemimpin berkarisma dan bervisi seperti pemimpin Revolusi Islam Iran mendiang Ayatullah Khomeini. Sehingga massa bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi baik lantaran tidak ada pemimpin berwibawa sebagai pemersatu.

Selain itu, negara-negara berkepentingan agar rezim Mullah tumbang - Amerika Serikat, Israel, dan Arab Saudi - belum memberikan dukungan serius terhadap demonstrasi massal di Iran. Alhasil, penguasa negeri Persia itu leluasa menggunakan segala cara untuk membungkam para pengunjuk rasa, termasuk memutus koneksi Internet dan menembaki demonstran memakai peluru tajam.

Bagi Amerika,  sokongan serius bagi revolusi di Iran adalah sebuah dilema. Washington DC tentu menyadari menumbangkan rezim Mullah sudah lama berkuasa di Iran bisa menjadikan negara itu kacau balau, seperti di Libya, Mesir, Yaman. Keadaan itu bakal mudah dimanfaatkan kelompok teroris seperti ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) dan Al-Qaidah. 

Ancaman terhadap stabilitas dan keamanan kawasan makin mengerikan kalau persenjataan mutakhir Iran sanpai jatuh ke kelompok teroris. 

Belum lagi milisi Hizbullah di Libanon dan Hamas serta Jihad Islam di Palestina. Ketiga milisi didanai, dilatih, dan dipersenjatai oleh Iran itu pasti tidak rela bos mereka habis. Mereka tentu akan memberikan perlawanan dan menyerang Israel, musuh bebuyutan mereka dan Iran. Alhasil, perang saudara meletup di Iran akan meluas ke negara-negara lain di Timur Tengah. 

Washington DC kemungkinan besar tidak mau rezim Mullah lenyap dan Iran menjadi lemah. Karena nanti tidak ada lagi musuh bersama buat menakut-nakuti negara Arab supertajir, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, merupakan konsumen terbesar persenjataan Amerika dan negara Barat lainnya.  

Akhirnya tidak berlebihan menyebut gerakan ganti rezim di Iran bukanlah revolusi serius. Itu sekadar letupan kecil akan gampang dipadamkan. 

Dua blunder sekaligus kekalahan Bin Salman

Masih tersisa satu blunder lagi, yakni Perang Yaman. Bin Salman pun dipermalukan lantaran koalisi negara Arab dipimpin Saudi menggempur sejak Maret 2015 belum mampu mengalahkan sebuah milisi bernama Al-Hutiyun sokongan Iran.

Pembela Palestina sejati

Momentum normalisasi dengan Israel dibangun oleh Trump telah membongkar kedok negara-negara muslim.

Umrah dan alarm penanganan Covid-19

Tentu pemerintah harus berpikir keras untuk tidak mengecewakan kaum muslim buat kedua kalinya. Kalau tidak mampu mengendalikan wabah Covid-19, jamaah asal Indonesia bisa saja dilarang berumrah ketika pintu dibuka mulai 1 November.

Arab Saudi siap berdamai dengan Israel

Bin Salman mesti memutuskan: menormalisasi hubungan dengan Israel sekarang atau menunggu hasil pemilihan presiden di Amerika, itu pun dengan syarat Trump menaklukkan Joe Biden, calon dari Partai Demokrat.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Israel and Indonesia: What lies ahead

If you look at the trade between Israel and Turkey which is around US$ 6 billion, you can see what can be achieved. The biggest potential is in agriculture.

31 Desember 2020

TERSOHOR