tajuk

Dua blunder sekaligus kekalahan Bin Salman

Masih tersisa satu blunder lagi, yakni Perang Yaman. Bin Salman pun dipermalukan lantaran koalisi negara Arab dipimpin Saudi menggempur sejak Maret 2015 belum mampu mengalahkan sebuah milisi bernama Al-Hutiyun sokongan Iran.

06 Januari 2021 11:31

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman kini sudah bisa bernapas lega. Kesalahan akibat blunder dia bikin tiga setengah tahun lalu telah dikoreksi.

Dia juga tidak terlalu dipermalukan lantaran yang mengumumkan perdamaian Saudi-Qatar adalah Emir Kuwait Syekh Nawaf al-Ahmad al-Jabir as-Sabah. Usaha menciptakan rekonsiliasi Saudi-Qatar ini bukan inisiatif Bin Salman tapi penasihat gedung Putih urusan Timur Tengah Jared Kushner berpekan-pekan melobi Bin Salman dan Emi Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani untuk bersedia berjabat tangan.

Hasilnya, di bawah tangga pesawat kemarin di Bandar Udara Al-Ula, Bin Salman menyambut lawatan tamunya Syekh Tamim bin Hamad, datang buat menghadiri pertemuan tingkat tinggi GCC (Dewan Kerjasama Teluk). Bukan sekadar bersalaman, Syekh Tamim bin Hamad duluan memeluk Bin Salman.

Pemutusan hubungan diplomatik dilakukan Arab Saudi bareng Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir sejak 5 Juni 2017 adalah sebuah blunder. Bin Salman dan Putera Mahkota Abu Dhabi Syekh Muhammad bin Zayid an-Nahyan, keduanya pemimpin de facto di negara masing-masing, berpikir negara Arab mungil supertajir itu bakal takluk.

Kenyataannya malah sebaliknya. Dengan kekuatan fulus dan kecakapan berpolitik di arena internasional Qatar dapat bertahan. Pasokan barang selama ini sekitar 80 persen dari Saudi digantikan oleh produk-produk Turki dan Iran menjadi aliansi baru Qatar. Meski dekat dengan Riyadh, Washington DC juga tetap setia bersama Doha.

Bahkan kesepakatan perdamaian antara Amerika dan Taliban dicapai di Doha, di mana kantor politik Taliban berada di sana. Nama Qatar kian harum di mata rakyat Palestina karena Syekh Tamim bin Hamad rela menghabiskan puluhan juta dolar Amerika buat menanggung gaji pegawai negeri dan membiayai infrastruktur serta satu-satunya pembangkit listrik di Jalur Gaza.

Sebaliknya, Saudi dan UEA dicap pengkhianat sebab makin mesra berhubungan dengan negara Zionis itu.

Bin Salman memang dikenal arogan. Jadi wajar saja orang-orang menentang kebijakannya bermusuhan dengan Qatar dipenjara, termasuk ualam tersohor Syekh Salman al-Audah dan dua pangeran senior berpengaruh: mantan Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Nayif serta Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz (adik dari Raja Salman bin Abdul Aziz).

Rekonsiliasi Saudi-Qatar menjadi penanda takluknya Bin Salman akibat sikap arogannya sekaligus bukti Qatar termasuk sedikit negara berpenduduk mayoritas muslim tidak bisa didikte oleh Saudi. 

Masih tersisa satu blunder lagi, yakni Perang Yaman. Bin Salman pun dipermalukan lantaran koalisi negara Arab dipimpin Saudi menggempur sejak Maret 2015 belum mampu mengalahkan sebuah milisi bernama Al-Hutiyun sokongan Iran. Bahkan wilayah-wilayah Saudi di perbatasan Yaman hingga Ibu Kota Riyadh dan Jeddah kerap menjadi sasaran serangan balik.

Keterlibatan Saudi secara militer telah menodai pamor negara Kabah itu. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan krisis kemanusiaan di Yaman akibat sikap pongah Bin Salman itu sebagai bencana kemanusiaan terbesar abad ini.

Belajar dari permusuhan dengan Qatar, Bin Salman tentu tidak mau terang-terangan mundur dari Yaman karena itu sama saja mengaku kalah secara terbuka. Kedua pemimpin ini akan menggunakan lagi negara lain sebagai penengah buat mengurangi rasa malu.

 

 

 

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. (Supplied)

Pakai rompi seharga Rp 92 juta, Bin Salman tampil modis

Sejak menjadi putera mahkota pada 2017, Bin Salman sudah menghabiskan setidaknya US$ 1,3 miliar untuk tiga barang supermahal.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman saat menyampaikan strategi baru PIF (Dana Investasi Pemerintah) untuk periode 2021-2025. . (Saudi Gazette)

Bin Salman janjikan anggaran pembangunan ekonomi Rp 563 triliun per tahun

Bin Salman memperkirakan aset PIF akan mencapai Rp 28.172,6 triliun pada 2030.

Dr. Abdullah al-Audah, a prominent Saudi opposition activist who has been living in the US since 2009. (Abdullah al-Audah for Albalad.co)

Bin Salman is a danger to the Saudi society and to the region

"As long as he is there, he is definitely a destabilizing factor," said Abdullah al-Audah.

Basa basi pemilihan umum Palestina

Dua pemilihan umum di Palestina akan pada Mei dan Juli nanti akan menjadi ujian seberapa serius dan kokoh rekonsiliasi serta konsolidasi semua faksi Palestina setelah empat tahun remuk dihantam beragam kebijakan kontroversial Trump.





comments powered by Disqus

Rubrik tajuk Terbaru

Israel and Indonesia: What lies ahead

If you look at the trade between Israel and Turkey which is around US$ 6 billion, you can see what can be achieved. The biggest potential is in agriculture.

31 Desember 2020

TERSOHOR