tajuk

Biden dan suksesi Saudi

Karena itu, paling mungkin bagi Bin Salman segera memaksa ayahnya itu lengser dan mengumumkan dirinya menjadi raja.

17 Februari 2021 19:58

Belum sebulan menjabat, Presiden Amerika Serikat Joe Biden sudah mengeluarkan tiga kebijakan membikin posisi Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Saman terpojok. Biden menghentikan dukungan militer terhadap Saudi dalam Perang Yaman, mencabut milisi Al-Hutiyun dari daftar organisasi teroris, dan menegaskan hanya mau berhubungan langsung dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan bukan dengan anaknya itu.

Biden menyoroti krisis kemanusiaan terhebat dalam abad ini versi Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi alasan dirinya mengambil dua keputusan pertama. Penilaian pemerintahan baru Amerika itu makin membuktikan keputusan Bin Salman menggempur Al-Hutiyun dukungan Iran sedari Maret 2015 malah memperburuk keadaan di Yaman sudah bertahun-tahun dilanda konflik sejak Presiden Ali Abdullah Saleh lengser pada 2011.

Bahkan situasi menyedihkan dialami rakyat Yaman, seratusan ribu tewas akibat perang dan jutaan mati kelaparan, makin mencreng pamor Saudi dan menguatkan tudingan organisasi-organisasi hak asasi manusia, Bin Salman telah melakoni kejahatan perang di negara Saba itu.

Sorotan Biden itu memperkuat bukti keputusan argan Bin Salman untuk terlibat dalam konflik domestik di Yaman adalah sebuah blunder. Hanya melawan satu milisi saja, pasukan koalisi dipimpin Saudi keteteran.

Sila baca: Bin Salman takluk di negeri Saba

Sikap terakhir Biden menjadi alasan kenapa sampai sekarang dia belum menelepon Bin Salman, merupakan pemimpin de facto di negara Kabah itu.

Tapi terasa naif kalau Biden hanya mau berbicara dengan Raja Salman diketahui sudah pikun dan kondisi kesehatannya sangat menurun. Ketika berpidato di hadapan anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta, dia berbicara tidak sampai tiga menit.

Ketika ada kunjungan delegasi dari Libya, Raja Salman malah menanyakan kabar pemimpin Libya Muammar Qaddafi, padahal dia sudah tewas di tangan pemberontak pada 2011.

Sila baca: Penyakit pikun Raja Salman makin memburuk

Bin Salman kelihatan sekali berusaha mengambil hati Biden dengan membebaskan orang-orang ditahan tanpa prosedur hukum jujur dan adil, termasuk Lujain al-Hazlul, aktivis perepuan dipenjara lantaran menuntut hak bagi perempuan saudi buat menyetir mobil dan mengendarai sepeda motor.

Tentu saja tiga keputusan Biden memojokkan itu membuat Bin Salman harus berpikir ulang. Biden begitu memperhatikan hak asasi manusia tentu akan menekan biar calon raja Saudi itu membebaskan semua tahanan politik, termasuk dua pesaing berat Bin Salman menuju takhta, yakni mantan Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Nayif dan adik dari Raja Salman, Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz.

Boleh jadi tahun ini adalah saat tepat bagi Bin Salman untuk naik takhta entah bagaimana caranya. Ada dua skenario bisa menjadikan dia menjadi raja. Dia menunggu Raja Salman wafat atau memaksa ayahnya itu lengser.

Kalau skenario pertama dipilih, Bin Salman bisa saja kehabisan waktu karena ajal seseorang tidak dapat diterka kecuali terjadi pembunuhan seperti menimpa Raja Faisal bin Abdul Aziz pada 1975. Bin Salman pastinya juga tidak mau mengambil risiko jika Bin Nayif dan Pangeran Ahmad sampai bebas karena tekanan Amerika.

Apalagi, di Pengadilan Washington DC Bin Salman menghadapi dakwaan rencana pembunuhan terhadap Saad al-Jabri, mantan pejabat intelijen Saudi sekaligus orang dekat Bin Nayif. Juga tuduhan percobaan pembunuhan atas salah satu putri Saad al-Jabri beberapa pekan sebelum tim khusus dari Saudi menghabisi Jamal Khashoggi pada 2 Oktober 2018 di dalam onsulat jenderal Saudi di Kota Istanbul, Turki.

Dalam kasus Khashoggi, hasil penyelidikan Turki, Kongres Amerika, CIA (dinas rahasia luar negeri Amerika), dan pelapor khusus PBB Agnes Callamard menyimpulkan Khashoggi dihabisi atas perintah Bin Salman.

Karena itu, paling mungkin bagi Bin Salman segera memaksa ayahnya itu lengser dan mengumumkan dirinya menjadi raja. Dia sudah pernah berbuat curang saat menyingkirkan Bin Nayif dari kursi putera mahkota pada 21 Juni 2017.

Sila baca: Tipuan Bin Salman di malam Ramadan

Usia renta, 86 tahun, dan sudah sakit-sakitan bisa dijadikan alasan oleh Bin Salman ayahnya tidak layak lagi duduk di singgasana.

 

Pangeran Turki bin Abdullah, putra ketujuh dari mendiang Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz. (Saudi Leaks)

Bin Salman tahan anak Raja Abdullah sejak 2017, pihak keluarga baru sekali menjenguk

Bin Salman juga berusaha merampas dana milik Yayasan Raja Abdullah senilai US$ 20-30 miliar. 

Biden, Bennett, dan selamat tinggal Palestina

Bennett intinya lebih mempertahankan status quo: Jalur Gaza dikuasai Hamas tetap terpisah dari Tepi Barat dikontrol Fatah.

Mantan Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Nayif. (Arab News)

Disiksa dalam tahanan, mantan putera mahkota Saudi sudah susah untuk berjalan

Bin Nayif ditahan bareng 19 pangeran Saudi lainnya, termasuk adik dari Raja Salman, sejak Maret tahun lalu.

Jamal Khashoggi, pengkritik pemerintah Arab Saudi. (Twitter)

Jamal Khashoggi akui Saudi adalah penyebar ajaran Islam tidak toleran dan ekstrem

Khashoggi bilang, "Apakah negara saya (Arab Saudi) bertanggung jawab karena membiarkan dan bahkan mendukung radikalisme?" Ya dan mereka mesti bertanggung jawab atas hal itu."





comments powered by Disqus