tajuk

Perlukah Raja Salman ganti putera mahkota?

Membiarkan Bin Salman terus berkuasa, bahaya akan mengancam kawasan, dalam negeri, dan bahkan keutuhan keluarga Bani Saud. Perpecahan dalam keluarga kerajaan makin melebar.

03 Maret 2021 13:45

Laporan dilansir kantor Direktur Intelijen Nasional Amerika Serikat Jumat pekan lalu kian membuka borok Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman. Pamor sudah anjlok kian tercoreng dengan predikat calon raja negara Kabah itu sebagai dalang pembunuhan.

Sedari Raja Salman bin Abdul Aziz menunjuk anak kesayangan dari istri termudanya itu sudah mengkhawatirkan banyak pihak. Badan intelijen Jerman, Bundesnachrichtendienst (BND), sudah memperingatkan Bin Salman orang berbahaya dan arogan.

Raja Salman mengangkat anaknya itu sebagai wakil putera mahkota pada April 2015, sebulan setelah dia dijadikan sebagai menteri pertahanan. Di usianya baru 30 tahun waktu itu, Bin Salman langsung membikin kejutan. Dia langsung membentuk pasukan koalisi Arab untuk menggempur milisi Al-Hutiyun sokongan Iran di Yaman dengan alasan mereka memberontak terhadap pemerintah sah.

Tapi sebaliknya di Suriah, Saudi kala itu masih menyokong pemberontak lantaran rezim Presiden Basyar al-Assad juga didukung oleh Iran.

Keyakinan BND terbukti. Tanpa perhitungan matang, intervensi militer Saudi kian memperuncing konflik di Yaman. Bahkan krisis kemanusiaan terbesar abad ini versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah melanda negeri Saba itu. Tidak hanya mengancam stabilitas dan perdamaian di Timur Tengah, bahkan tindakan sembrono Bin Salman itu sudah dua tahun belakangan mengancam keamanan Saudi sendiri.

Peluru kendali dan pengebom nirawak Al-Hutiyun sudah rutin menyasar bandar-bandar udara di Abha, Jazan, dan Najran, serta menyerang obyek-obyek vital di Jeddah dan Ibu Kota Riyadh. Termasuk pengebom nirawak menyerbu Istana Al-Yamamah, tempat tinggal resmi Raja Salman di Riyadh pada 23 Januari lalu.

Bln Salman kembali mengulangi blundernya ketika pada 5 Juni 2017 memutuskan hubungan diplomatik sekaligus memblokade Qatar dari darat. laut, dan udara. Dia lagi-lagi mengajak negara lain, yakni Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir. Dia tadinya percaya Qatar, negara Arab Teluk mungil superkaya itu bakal takluk.

Ternyata Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad ats-Tsani, ketika itu lebih tua tujuh tahun ketimbang Bin Salman, berani melawan. Sebab Qatar selama ini sangat visioner. Dengan kekuatan fulusnya, dia mendirikan stasiun televisi kepercayaan kalangan kaum muslim sejagat karena diyakini sebagai tandingan perspektif CNN dan FOX News.

Di Qatar pula, Amerika Serikat mendirikan pangkalan militer terbesarnya di Timur Tengah, bukan di Dhahran, berperasi sejak Perang Teluk Pertama pada awal 1990-an. Qatar juga sukses menjalankan diplomasi olahraga, menjadi negara muslim pertama menggelar turnamen sepak bola paling bergengsi Piala Dunia FIFA pada 2022.

Qatar juga terlibat langsung dalam proses perdamaian Palestina dan Afghanistan. Di negara ini terdapat kantor Biro Politik Taliban dan Biro Politik Hamas.

Citra Qatar kian mentereng di kalangan muslim. Sejak 2018 menggelontorkan dana kemanusiaan untuk bantuan uang tunai bagi sekitar dua juta penduduk Palestina di Jalur Gaza, membiayai satu-satu pembangkit tenaga listrik dan menanggung gaji pegawai negeri di sana. Tahun ini, anggaran kemanusiaan itu dinaikkan menjadi US$ 360 juta dari US$ 240 juta tahun lalu.

Sebaliknya, Bin Salman kian mesra dengan Israel merupakan penjajah bangsa Palestina dan bahkan siap menjalin hubungan diplomatik. Pada November tahun lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terbang ke Neom, proyek kota impian Bin Salman, dan keduanya mengadakan pertemuan.

Bin Salman akhirnya menyerah dan awal Januari tahun ini bersedia berdamai lagi dengan Qatar.

Di dalam negeri, beragam kebijakan Bin Salman membikin guncang masyarakat dan menggoyang konsensus antara elite dan ulama. Sedari 2016, polisi syariah dilarang menangkapi orang di jalan dan tempat-tempat umum karena dianggap melanggar syariat.

Perempuan tidak wajib lagi berabaya dan berjilbab serba hitam, yang penting berpakaian sopan. Bahkan di Riyadh dan Jeddah sudah lumrah kaum hawa berkeliaran tanpa jilbab. Gaya hidup dan hiburan ala Barat selama ini diharamkan sudah lazim terlihat: bioskop beroperasi lagi, konser musik menjadi agenda tahunan. Bahkan sudah ada kafe bertema zombie serta setan di Jeddah dan Makkah.

Meski keran kebebasan sosial dan kultural dibuka, Bin Salman mengharamkan siapa saja menentang dirinya. Ulama, aktivis, wartawan, akademisi, pejabat, konglomerat, dan bahkan kerabat sendiri akan dipenjara bahkan dibunuh, seperti dialami kolumnis surat kabar the Washington Post Jamal Khashoggi.

Kian terbukanya borok Bin Salman akan makin memperburuk citra Saudi. Yang menarik ditunggu, apakah Raja Salman - sudah berumur 86 tahun dan pikun - bakal menggeser anaknya itu dari kursi putera mahkota. Sebab empat tahun belakangan belum ada jabatan wakil putera mahkota.

Tentu bukan perkara mudah. Kekuasaan mutlak sudah terpusat di tangan Bin Salman, mulai ekonomi, politik, militer, dan intelijen. Namun membiarkan Bin Salman terus berkuasa, bahaya akan mengancam kawasan, dalam negeri, dan bahkan keutuhan keluarga Bani Saud. Perpecahan dalam keluarga kerajaan makin melebar.

 

Mantan Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Nayif. (Arab News)

Disiksa dalam tahanan, mantan putera mahkota Saudi sudah susah untuk berjalan

Bin Nayif ditahan bareng 19 pangeran Saudi lainnya, termasuk adik dari Raja Salman, sejak Maret tahun lalu.

Jamal Khashoggi, pengkritik pemerintah Arab Saudi. (Twitter)

Jamal Khashoggi akui Saudi adalah penyebar ajaran Islam tidak toleran dan ekstrem

Khashoggi bilang, "Apakah negara saya (Arab Saudi) bertanggung jawab karena membiarkan dan bahkan mendukung radikalisme?" Ya dan mereka mesti bertanggung jawab atas hal itu."

Mantan komandan pasukan koalisi untuk Perang Yaman Letnan Jenderal Pangeran Fahad bin Turki bin Abdul Aziz. (Arab News)

Keponakan Raja Salman divonis hukuman mati karena rencanakan kudeta

Pangeran Fahad bin Turki dan putranya dibekuk dalam kampanye antikorupsi dilancarkan oleh Bin Salman.

Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Muhammad bin Salman dan pamannya, Pangeran Ahmad bin Abdul Aziz. (Middle East Eye)

Bin Salman bebaskan pamannya dari tahanan

Di kalangan keluarga Bani Saud, Pangeran Ahmad dipandang lebih pantas menjadi raja Saudi berikutnya.





comments powered by Disqus