tajuk

Relasi resmi Saudi-Israel cuma soal waktu

Ketimbang Indonesia, memang lebih mudah bagi Arab Saudi untuk membina hubungan diplomatik dengan Israel.

27 Oktober 2021 11:17

Perkembangan terjadi belakangan ini, prosesnya sudah dimulai sejak Pangeran Muhammad bin Salman menjadi putera mahkota pada akhir Juni 2017, mengisyaratkan terwujudnya hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan Israel cuma menunggu waktu.

Dalam pertemuan dengan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat Jack Sullivan pada 27 September lalu di Neom, proyek kota impian Bin Salman di tepi Laut Merah, calon raja kedelapan di negara Kabah ini mengiyakan untuk membuka relasi resmi dengan negara Zionis itu.

Bin Salman meminta sejumlah syarat sebelum memulai proses normalisasi dengan Israel, termasuk peningkatan hubungan dengan Amerika.

Kemudian Rabbi Yaakov Yisrael Herzog asal Israel bisa mendapat izin tinggal di Arab Saudi. "Saya dan keluarga saya sudah pindah ke negara ini," katanya kepada saya lewat WhatsApp Senin lalu.

Sejak pekan lalu, dia rajin mengunggah di media sosial dirinya berpakaian ala kaum Yahudi ultra-Orthodoks, berjas panjang dan bertopi serba hitam dengan jenggot tebal serta panjang, tanpa rasa cemas. Dia berpose di tepi jalan di Ibu Kota Riyadh, berjoget dengan warga Saudi, dan berbelanja pakaian di toko.

Bahkan pada 20 Februari tahun lalu, Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz untuk pertama kalinya menerima kehadiran seorang rabbi. Pertemuan dengan Rabbi David Rosen dari AJC (Komite Yahudi Amerika) ini berlangsung di Istana Al-Yamamah, Riyadh.

Ketimbang Indonesia, memang lebih mudah bagi Arab Saudi untuk membina hubungan diplomatik dengan Israel. Indonesia dan Saudi memang menjadi target utama bagi Israel untuk dijadikan teman resmi.

Kalau sudah berhasil mendekap salah satunya, bakal lebih mudah bagi Israel mengajak negara-negara muslim lainnya bersahabat. 

Kedua negara ini memiliki posisi bergengsi di dunia muslim: yang satu merupakan tempat kelahiran sekaligus kiblat umat Islam, satunya lagi negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar sejagat.

Dari sisi ekonomi, menggaet kedua negara itu akan menguntungkan bagi Israel. Saudi adalah negara dengan perekonomian terbesar di Timur Tengah. Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah sekaligus jumlah penduduk nomor empat terbanyak di dunia untuk dijadikan pasar.

Sebagai negara monarki absolut atau otoriter, Bin Salman tidak akan mendapat protes terang-terangan dari rakyatnya atau demonstrasi massal di jalanan menentang peresmian hubungan diplomatik dengan Israel.

Mengkritik melalui media sosial saja sudah banyak yang ditangkap. Bahkan kolumnis surat kabar the Washington Post, Jamal Khashoggi, dibunuh pada 2 Oktober 2018 di dalam kantor Konsulat Jenderal Saudi di Kota Istanbul, Turki gegara getol mengkritik kebijakan Bin Salman.

Tidak ada satu pun warga Saudi berani memprotes penahanan lusinan ulama ditahan karena dianggap membangkang terhadap Bin Salman. Pemimpin negara-negara berpenduduk mayoritas muslim pun bungkam. Terhadap kejahatan kemanusiaan dalam Perang Yaman pun, mereka tidak berani mengecam atau mendorong keluar sanksi terhadap Saudi.

Bicara soal waktu, Bin Salman baru bisa berjabat tangan dengan Israel setelah era ayahnya, Raja Salman, berakhir: lengser atau wafat. 

Sebab Raja Salman mengambil sikap berbeda. Ketika Bin Salman, dalam pertemuan para pemimpin organisasi Zionis di Amerika pada 2018, menyatakan Israel memiliki hak sama dengan Palestina untuk memiliki negara, Bin Salman buru-buru menegaskan Saudi tetap menyokong perjuangan bangsa Palestina. 

Tapi meski Raja Salman masih bertakhta, Bin Salman adalah pemimpin de facto di negeri Dua Kota Suci itu. Dia mempunyai mimpi sendiri soal Saudi di masa depan ingin dia wujudkan lewat Visi 2030. 

Yang sudah kelihatan adalah liberalisasi ekonomi, sosial, budaya, dan keterbukaan terhadap warga asing, termasuk dari Israel. Namun di sisi lain keras kepada para pembangkangnya, termasuk anggota keluarga kerajaan sendiri. 

Alhasil, menyaksikan Kedutaan Besar Saudi tegak di Ibu Kota Tel Aviv dan Kedutaan Israel berdiri di Ibu Kota Riyadh tinggal menunggu waktu. 

Rabbi Yaakov Yisrael Herzog asal Israel merayakan hari kedua Hanukkah di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, 29 November 2021. (Rabbi Yaakov Yisrael Herzog)

Rabbi asal Israel rayakan Hanukkah di Arab Saudi

Rabbi Yaakov mengklaim dirinya adalah kepala rabbi di Arab Saudi.

Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi. (Globes)

Pembicaraan normalisasi Saudi dan Israel kian gencar

Seorang pengusaha Israel bilang hubungan dagang dengan Saudi makin meningkat melalui Uni Emirat Arab dan terutama Bahrain.

Sebuah jet pribadi dari Israel mendarat di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, 26 Oktober 2021. (Flightradar24)

Jet pribadi dari Israel mendarat di Riyadh

Sekitar setengah jam sebelum jet pribadi dari Israel itu mendarat di Riyadh, satu pesawat pribadi biasa dipakai oleh Mossad terbang dari Tel Aviv menuju Ankara.





comments powered by Disqus