palestina

Perangi Hamas demi gas

Hamas menjadi ganjalan utama Israel buat memperoleh hak pengelolaan gas di lepas pantai Gaza.

26 Maret 2015 23:12

Israel saban kali menyerang Jalur Gaza selalu beralasan demi keamanan warga dan wilayah mereka. Tembakan roket-roket Hamas, Jihad Islam, dan kelompok pejuang lainnya kerap dijadikan pembenaran untuk membalas dengan membantai penduduk sipil Gaza.

Seperti terjadi dalam perang 50 hari musim panas tahun lalu. Operasi militer Israel bersandi Jaga Perbatasan, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, telah menewaskan sekitar 2.256 orang, 1.563 di antaranya warga sipil termasuk 538 anak. Angka ini melewati jumlah korban tewas dalam dua perang sebelumnya (2008-2009 dan 2012). Di pihak Israel hanya 66 tentara dan lima penduduk sipil meninggal.

Sehari sebelum Israel mulai menggempur wilayah seluas 360 kilometer persegi itu, Menteri Pertahanan Moshe Yaalon menegaskan perang ini untuk memberikan pukulan telak bagi Hamas. “Kami akan menghancurkan persenjataan, infrastruktur teror, sistem komando dan kontrol, institusi Hamas, bangunan-bangunan, rumah-rumah anggota Hamas, serta membunuh anggota mereka dari berbagai tingkatan,” katanya.

Tapi perlu diingat, aspek politik selalu berjalan beriringan dengan ekonomi. Pada 2007, setahun sebelum Israel melancarkan agresi, Yaalon menyorot soal kandungan gas alam sebanyak 1,4 triliun kaki kubik ditemukan di lepas pantai Gaza. Nilai kekayaan alam ditemukan awal milenium ketiga ini diperkirakan mencapai US$ 4 miliar.

Dia menjelaskan jika cadangan gas itu sampai dikelola oleh Palestina akibatnya sungguh fatal bagi Israel. “Hasil penjualan gas itu ke Israel tidak bakal menolong rakyat miskin Palestina. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, uang diperoleh akan dipakai untuk melancarkan serngan teror terhadap Israel,” ujar Yaalon.

Dia yakin transaksi gas dengan Otoritas Palestina bakal melibatkan Hamas, berkuasa di Gaza sejak 2007. Jika tidak mendapatkan royalti, Hamas akan menyabotase proyek itu, menyerang Fatah, instalasi gas, Israel, atau ketiganya. “Jadi jelas, tanpa operasi militer menyeluruh untuk mencabut kontrol Hamas di Gaza, pengeboran tidak bisa dilakukan,” tuturnya.

Dalam perang 2008-2009, Israel gagal menumbangkan Hamas meski konflik bersenjata itu membunuh 1.387 orang Gaza, termasuk 773 warga sipil, dan sembilan orang Israel, termasuk tiga penduduk sipil.

Sejak kandungan minyak dan gas ditemukan di lepas pantai Gaza, kekayaan alam itu kian menjadi sumber konflik, dipicu oleh krisis energi bakal dihadapi Israel.

Komentar Yaalon delapan tahun lalu itu menggambarkan kabinet Israel tidak sekadar mencemaskan Hamas. Mereka khawatir bila Palestina diberi kesempatan mengelola sendiri cadangan kekayaan alamnya, mereka bisa menjadi negara raksasa dan ini bisa mengancam kelangsungan Israel.

Israel memang telah menemukan sejumlah ladang minyak dan gas baru dalam jumlah besar, seperti Leviathan memiliki cadangan 18 triliun kaki kubik. Temuan ini bisa mengubah Israel menjadi negara eksportir dengan ambisi menyuplai kebutuhan minyak dan gas buat Eropa, Yordania, dan Mesir.

Namun tantangan potensialnya adalah sebagian besar dari 122 triliun kaki kubik gas dan 1,6 triliun minyak di Provinsi Levant Basin berada di perairan sengketa. Wilayah ini diperebutkan oleh Israel, Suriah, Libanon, Gaza, dan Siprus.

Dalam surat mereka pada 2012, dua ilmuwan Israel memperingatkan pemerintah: negara Zionis ini masih kekurangan pasokan gas untuk mendukung ekspor. Sumber domestik gas dan minyak Israel kurang dari setengah buat kebutuhan ekspor. Cadangan ini akan habis dalam beberapa dekade.

“Kami percaya penggunaan cadangan gas alam untuk kebutuhan dalam negeri bakal meningkat hingga 2020 dan Israel tidak seharusnya mengekspor gas. Cadangan gas akan habis dalam waktu kurang dari 40 tahun,” tulis kedua ilmuwan pemerintah itu.

Peringatan inilah membikin Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Februari 2011 mengumumkan kini saatnya untuk mengamankan kontrak pembelian gas. Tapi serangkaian perundingan dengan Otoritas Palestina, dimulai September 2012 dan tanpa melibatkan Hamas, belum mencapai kata sepakat.

Awal 2014 Hamas mengecam kontrak bisnis menyebutkan Otoritas Palestina akan membeli gas senilai US$ 1,2 miliar dari Israel selama dua dasawarsa setelah ladang Leviathan mulai beroperasi. Secara simultan Otoritas Palestina juga berunding dengan British Gas Group untuk mengembangkan cadangan gas di perairan Gaza, juga tidak melibatkan Hamas. Mereka juga mengajak bicara Gasprom, perusahaan minyak dan gas asal Rusia.

Yang tidak jelas sejauh ini adalah bagaimana Otoritas Palestina akan mengontrol pengelolaan cadangan minyak dan gas di lepas pantai Gaza jika tidak mengajak Hamas, penguasai di sana.

Sejatinya, strategi Israel akan selalu memisahkan rakyat Palestina dari tanah dan sumber daya alam mereka. Kemudian Israel mengeksploitasi kekayaan-kekayaan alam itu. Konsekuensinya, perekonomian Palestina tidak akan pernah berkembang.

Bagi pemerintah Israel, Hamas terus menjadi ganjalan utama untuk mencapai kesepakatan pengelolaan gas di perairan Gaza. “Pengalaman Israel selama perundingan Oslo mengisyaratkan keuntungan gas Palestina akan berujung pada pembiayaan kegiatan teror atas Israel,” kata Yaalon.

Jadi selama Hamas masih berkuasa di Gaza, perang akan terus berulang. Israel bakal memerangi Hamas demi memperoleh kekayaan gas.

Dr Fadi Muhammad al-Batasy, anggota Hamas diduga dibunuh Mossad di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, 21 April 2018. (Screengrab)

Dua pembunuh anggota Hamas di Malaysia pakai paspor Serbia dan Montenegro

Polisi telah menemukan mobil dan senjata digunakan kedua pelaku.

Jenazah Dr Fadi Muhammad al-Batasy diterima Hamas dengan upacara kemiliteran di perbatasan Rafah, Jalur Gaza, 26 April 2018. Korban diyakini dibunuh oleh Mossad di Kuala Lumpur, Malaysia, 21 April 2018. (Albalad.co/Istimewa)

Jenazah anggota Hamas dibunuh Mossad di Malaysia tiba di Gaza

Jenazah Fadi al-Batasy mungkin dimakamkan besok sehabis salat Jumat.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Kenangan Perang Gaza

Waktu perang meledak tahun lalu, kediaman Zahar rata dengan tanah akibat gempuran udara Israel.

Seorang anggota Hamas dalam terowongan baru dibangun sepanjang 3,5 kilometer tembus hingga ke wilayah Israel. (Al-Alam)

Hamas bangun terowongan 3,5 kilometer tembus ke Israel

Jalur bawah tanah sepanjang 3,5 kilometer ini bakal dipakai dalam perang berikutnya menghadapi Israel.





comments powered by Disqus