palestina

Ketua tim pencari fakta Perang Gaza mundur

Israel sudah lama mengecam penunjukan William Schabas karena dianggap pro-Palestina.

03 Februari 2015 17:31

Ketua tim pencari fakta Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) William Schabas kemarin bilang akan mundur. Keputusannya ini muncul di tengah tekanan Israel menuding akademisi asal Kanada itu bakal berlaku bias lantaran pernah menjadi konsultan buat Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Dewan HAM PBB Agustus tahun lalu menunjuk Schabas mengepalai komite beranggotakan tiga orang untuk menyelidiki sangkaan kejahatan perang selama Israel menggempur Jalur Gaza selama 50 hari pada Juli-Agustus tahun lalu.

Konflik bersenjata musim panas lalu itu adalah ketiga, sehabis perang pada Desember 2008-Januari 2009 dan November 2012, sejak Israel mundur dari Gaza pada 2005. Palagan terakhir menewaskan lebih dari 2.100 warga Gaza dan melukai 73 orang Israel.

Dewan HAM sebenarnya pernah membikin komisi serupa sehabis perang pada Desember 2008-Januari 2009. Komisi dipimpin Richard Goldstone, hakim Afrika Selatan keturunan Yahudi, ini menyimpulkan Israel dan Hamas sama-sama melakoni kejahatan perang. Namun kesimpulan itu tidak ditindaklanjuti.

Dalam salinan surat pengunduran diri sempat dibaca oleh kantor berita Reuters, Schabas bilang akan segera mundur agar tidak mengusik persiapan penyusunan laporan dan temuan. Tim pencari fakta Perang Gaza dijadwalkan menyampaikan lapran mereka bulan depan.

Mundurnya Schabas itu membuktikan betapa sensitifnya persoalan investigasi atas dugaan kejahatan perang dan kemanusiaan dilakoni Israel. Beberapa pekan sebelumnya Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) mengatakan telah memulai penyelidikan awal terhadap penyiksaan terjadi di wilayah Palestina.

Schabas menyebut dalam suratnya, sebuah pendapat hukum dia tulis pada 2012 bagi PLO - dia dibayar US$ 1.300 untuk itu - sifatnya tidak berbeda dengan saran-saran pernah dia berikan kepada pemerintah atau organisasi-organisasi lain.

"Pandangan saya soal Israel dan Palestina seperti banyak isu lainnya sudah diketahui banyak orang," kata Schabas. "Pekerjaan mempertahankan hak asasi manusia ini kelihatannya membikin saya menjadi sasaran bagi serangan-serangan jahat."

Israel sudah lama mengecam penunjukan Schabas karena dianggap pengkritik keras negara Zionis itu dan rezim berkuasa di sana sekarang. "Saya yakin sulit melanjutkan tugas saat sebuah prosedur untuk mencopot jabatan ketua komisi tengah berjalan," ujarnya. Dia menambahkan komisi pencari fakta sudah menyelesaikan sebagian besar pencarian bukti dan mulai menulis laporan.

Komisi itu bukan hanya mencari bukti dugaan kejahatan perang diperbuat Israel, tapi juga yang dilakukan Hamas. Kelompok berkuasa penuh di Gaza sejak 2007 ini tadinya menyambut baik penunjukan pengajar hukum internasional di Universitas Middlesex, Inggris, itu.

Dr Fadi Muhammad al-Batasy, anggota Hamas diduga dibunuh Mossad di Ibu Kota Kuala Lumpur, Malaysia, 21 April 2018. (Screengrab)

Dua pembunuh anggota Hamas di Malaysia pakai paspor Serbia dan Montenegro

Polisi telah menemukan mobil dan senjata digunakan kedua pelaku.

Jenazah Dr Fadi Muhammad al-Batasy diterima Hamas dengan upacara kemiliteran di perbatasan Rafah, Jalur Gaza, 26 April 2018. Korban diyakini dibunuh oleh Mossad di Kuala Lumpur, Malaysia, 21 April 2018. (Albalad.co/Istimewa)

Jenazah anggota Hamas dibunuh Mossad di Malaysia tiba di Gaza

Jenazah Fadi al-Batasy mungkin dimakamkan besok sehabis salat Jumat.

Pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar tengah memegang senapan AK-47 milik mendiang putranya, Husam, di rumahnya, Kota Gaza, Rabu, 24 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Kenangan Perang Gaza

Waktu perang meledak tahun lalu, kediaman Zahar rata dengan tanah akibat gempuran udara Israel.

Seorang anggota Hamas dalam terowongan baru dibangun sepanjang 3,5 kilometer tembus hingga ke wilayah Israel. (Al-Alam)

Hamas bangun terowongan 3,5 kilometer tembus ke Israel

Jalur bawah tanah sepanjang 3,5 kilometer ini bakal dipakai dalam perang berikutnya menghadapi Israel.





comments powered by Disqus