palestina

Perempuan Palestina terpilih sebagai guru terbaik sejagat

"Lingkungan di luar kelas keras. Dalam kelas saya memberikan perdamaian, harmoni, dan keamanan," kata Hanan

19 Maret 2016 18:54

"Saya akan mengangkat tinggi-tinggi trofi ini kepada anak-anak saya," kata perempuan 43 tahun itu di rumahnya di Kota Ramallah, Tepi Barat. "Murid-murid sayalah sebenarnya pemenang penghargaan ini. Inspirasi saya berasal dari anak-anak ini."

Hanan al-Harub akhir pekan lalu dinyatakan sebagai guru terbaik sejagat. Dia meraih penghargaan Global Teacher dengan hadiah fulus US$ 1 juta, dianggap setarahadiah Nobel di bidang pengajaran. Perempuan dibesarkan di sebuah kamp pengungsi di Bethlehem, Tepi Barat, ini menyisihkan delapan ribu peserta dan sepuluh finalis asal Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Australia, Finlandia, Pakistan, India. "Dan Palestina," ujarnya kelihatan bangga.

Pengumuman pemenang digelar di Kota Dubai, Uni Emirat Arab, disampaikan oleh Pemimpin Takhta Suci Vatikan Paus Fransiskus lewat pesan video. Pangeran William dan mantan Presiden Amerika Bill Clinton juga hadir.

Para pendukung Hanan menggelar nonton bareng di ruangan terbuka di jantung Ramallah. Ketika Paus Fransiskus membacakan nama Hanan sebagai pemenang, hadirin bersorak seraya mengibarkan bendera Palestina. "Kami berdoa dan kami menangis," tutur salah satu anak Hanan.

Juri memilih Hanan setelah menonton dan berpartisipasi saat Hanan mengajar dengan teknik bermain dan belajar, menggunakan barang-barang sehari-hari.

Di Sekolah Dasar Samiha Khalil di Al-Birah, di luar Ramallah, anak didik Hanan - berusia 6-10 tahun - hidup dalam sebuah lingkungan di mana kekerasan bersifat endemik. "Lingkungan di luar kelas keras. Dalam kelas saya memberikan perdamaian, harmoni, dan keamanan," kata Hanan kepada the Guardian.

Kerap menggunakan rambut palsu dan hidung merah khas badut, Hanan menggunakan permainan untuk mengajarkan murid-muridnya bekerja sama sebagai tim, membangun rasa saling percaya dan menghormati, serta melatih perilaku non-kekerasan. Dia telah menulis buku soal filosofi cara dia mengajar, berjudul Kami Bermain Kami Belajar.

Hanan baru mulai mengajar pada 2007. Setamat sekolah menengah atas, dia terpaksa tidak bisa kuliah karena semua universitas di Palestina tutup selama intifadah pertama 1987-1993. Dia kemudian menikah dan memiliki lima anak.

Pada 2000, ketika anak bungsunya mulai bersekolah, Hanan kuliah paruh waktu di Universitas Al-Quds. Beberapa bulan berselang, suaminya, Umar, dan dua putrinya, ditembak tentara Israel di sebuah pos pemeriksaan di Bethlehem. Umar luka di bahu dan dua anak perempuannya trauma.

"Kejadian ini mengubah hidup saya. Kami benar-benar kaget," kata Hanan. "Anak-anak saya menderita dan para guru tidak dilatih menangani trauma. Saat itulah saya memutuskan untuk mengabdikan hidup saya buat mengajar."

Dia lulus kuliah lima tahun dan bekerja sebagai guru dengan gaji 2.500 shekel (450 pound sterling) sebulan. Guru-guru di Palestina berunjuk rasa menuntut kenaikan gaji ketika Hanan di Dubai.

Dia secara tegas membantah tudingan Israel soal sekolah-sekolah Palestina mengajarkan kekerasan. "Saya mengalami masa amat sulit waktu kecil. Saya tidak mau anak asuh saya merasakan hal serupa," ujarnya. "Sekali saja siklus kekerasan tercipta, sangat sukar untuk memutusnya."

Umar tidak pernah ragu istrinya bakal meraih penghargaan itu. "Saya benar-benar yakin dan saya benar. Saya sangat bergembira," tuturnya seraya duduk di sofa ditemani empat dari lima anak mereka. Putri kembar mereka baru saja lulus menjadi pengacara, satu anak perempuan lain bekerja sebagai akuntan, seorang putra mereka menjadi koki, dan putra bungsu tengah belajar menjadi arsitek.

Berpakaian tradisional perempuan Palestian dengan riasan bordir, Hanan bilang dalam pidato kemenangannya: "Saya bangga menerima penghargaan ini sebagai kemenangan bagi seluruh guru dan guru Palestina khususnya."

Dia bakal menggunakan uang hadiah US$ 1 juta dalam sepuluh tahun untuk mendukung anak-anak muda Palestina ingin menjadi guru dan melatih para guru dengan metodenya.

Hanan tidak cuma ingin menjadi guru untuk lima tahun mendatang, sesuai kewajiban peraih Global Teacher. Tapi dia ingin mengajar hingga akhir hayatnya.

Ahad at-Tamimi (tengah), remaja Palestina penampar wajah tentara Israel, dibebaskan dari penjara pada 29 Juli 2018. (Middle East Eye)

Penampar tentara Israel bebas dari penjara

Ahad at-Tamimi bersumpah akan melanjutkan perlawanan sampai penjajahan Israel berakhir.

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Qatar buka lowongan bagi guru dari Gaza

Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani merupakan pemimpin negara Arab dan muslim pertama mengunjungi Gaza tengah diblokade pada Oktober 2012.

Seorang anak bersama ibunya tengah menunggu di perlintasan Rafah, Mesir, untuk menyeberang ke Jalur Gaza, Ahad, 21 Oktober 2012. (albalad.co/faisal assegaf)

Ribuan kaleng daging dilarang masuk Gaza karena tidak dapat sertifikat halal dari Israel

Syakir menjelaskan saban hari harus membayar US$ 600 untuk biaya penyimpanan di pelabuhan.

Suasana salat tarawih di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, 18 Mei 2018. (Albalad.co)

Mufti Yerusalem haramkan warga Palestina jual tanah ke orang Yahudi

Fatwa tersebut juga mewajibkan orang Palestina memboikot warga Palestina menjual tanah mereka kepada warga Israel.





comments powered by Disqus