palestina

Israel berencana bangun pulau di lepas pantai Gaza

Bakal berfungsi sebagai pintu keluar masuk barang dan warga Gaza. Pulau buatan itu juga tidak akan menjadi kepunyaan Israel atau Palestina, namun di bawah otoritas dan pasukan internasional.

23 Juni 2016 05:51

Pemerintah Israel tengah mempertimbangkan rencana membangun sebuah pulau di lepas pantai Gaza. Pulau buatan ini bakal dilengkapi sebuah pelabuhan, hotel, dan satu bandar udara internasional.

Israel Katz, Menteri Intelijen Israel, bilang negara Zionis ini sedang mencari rekanan buat melaksanakan proyek senilai US$ 5 miliar itu. Dia menyebut Arab Saudi dan Cina kemungkinan akan membangun pelabuhan di pulau buatan itu. Atau bahkan seorang pengusaha Israel, namun dia menolak menyebutkan nama-nama pengusaha itu.

Memang agak aneh Israel berharap Arab Saudi ikut mendanai pembangunan pelabuhan sekaligus hotel seharga US$ 1 miliar. Sebab kedua negara tidak memiliki hubungan diplomatik.

Katz menegaskan proyek itu bukan sebuah fantasi. Dia menambahkan dirinya telah memberi penjelasan singkat kepada sejumlah pejabat Amerika Serikat mengenai proposal ini.  

Dia mengungkapkan rencana ini telah dibahas dalam rapat kabinet keamanan Israel dan banyak menteri menyokong. "Perdana Menteri Benjamin Netanyahu sedang mempelajari opsi itu tapi belum membuat keputusan," kata seorang pejabat Israel terlibat dalam pembahasan soal rencana proyek pulau buatan itu.

Pulau buatan itu direncanakan seluas sepuluh kilometer persegi, berjarak tiga mil dari lepas pantai Gaza. Juga bakal dibangun sebuah jembatan dua lajur menghubungkan daratan Pulau Gaza dan pulau itu, namun Israel akan secara ketat mengontrol.

Jembatan ini bisa ditutup jika ketegangan meningkat. Bahkan Israel bisa meledakkan jembatan itu bila perang meletup sehingga akses ke pulau terputus.

Sebagian pihak menilai proposal pulau buatan ini sebagai upaya Israel membungkam kritikan lantaran proses perundingan dengan Palestina mandek. Negara Yahudi ini juga sudah memblokade Gaza, wilayah berpenduduk 1,8 juta orang, sejak Hamas berkuasa penuh pada pertengahan 2007.

Hampir sembilan tahun blokade, Hamas dan Israel sudah tiga kali berperang, yakni 2008-2009, 2012, dan 2014.

Katz mengakui pulau buatan itu sebagai cara buat menjamin keamanan Israel sekaligus memberi pintu bagi penduduk Gaza ke dunia luar. Namun Israel belum membahas proyek ini dengan Hamas atau pemerintah Palestina.

Dia bilang di tengah jembatan akan didirikan sebuah pos pemeriksaan dikelola pasukan internasional. Pulau buatan itu juga tidak akan menjadi kepunyaan Israel atau Palestina, namun di bawah otoritas dan pasukan internasional. Dia menyarankan NATO (Organisasi Pertahanan Atlantik Utara) mengelola pulau buatan itu.

Meski begitu, Katz menambahkan Israel bertanggung jawab atas keamanan perairan di sekitar pulau buatan itu.

Dia mengatakan pelabuhan di pulau itu bisa dipakai buat barang keluar masuk Gaza. Bandar udaranya pun dapat dimanfaatkan warga Gaza ingin bepergian ke negara lain.

"Ini baru permulaan," ujar Katz. "Kami juga akan membangun pembangkit listrik, pabrik penyulingan air laut. Pulau buatan ini akan menjadi pulau insiatif bagi segala hal."     

Yair Netanyahu dan pacarnya Sandra Leikanger. (dagen.no)

Anak Netanyahu sebut tidak ada yang namanya Palestina sebab nihil P dalam abjad Arab

"Lantaran tidak ada huruf J dalam bahasa Ibrani, berarti Yerusalem bukan bagian dari Israel, tidak ada yang namanya Yudea, atau Yahudi sama sekali.

Suasana salat tarawih di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, 18 Mei 2018. (Albalad.co)

Australia buka kantor dagang dan pertahanan di Yerusalem

Baru Amerika dan Guatemala meresmikan kedutaannya di Yerusalem.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan penguasa Oman Sultan Qabus bin Said di Muskat, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Netanyahu sebut tidak akan pernah ada negara Palestina

Selama ini ada tiga isu sensitif terkait konflik Palestina Israel, yakni batas negara, pengungsi Palestina, dan Yerusalem.





comments powered by Disqus

Rubrik palestina Terbaru

yair netanyahu

Anak Netanyahu sebut tidak ada yang namanya Palestina sebab nihil P dalam abjad Arab

"Lantaran tidak ada huruf J dalam bahasa Ibrani, berarti Yerusalem bukan bagian dari Israel, tidak ada yang namanya Yudea, atau Yahudi sama sekali.

25 April 2019

TERSOHOR