palestina

Coca Cola resmikan pabrik di Gaza

Nilai investasinya US$ 20 juta dengan kapasitas produksi tiga juta botol setahun.

04 Desember 2016 21:51

Pabrik Coca Cola Rabu lalu diresmikan di Jalur Gaza dengan kapasitas produksi sekitar tiga juta botol minuman bersoda setahun, seperti dilansir Wall Street Journal.

Perusahaan minuman ringan dunia ini menanamkan modal US$ 20 juta untuk membuka pabrik di Gaza, bekerja sama dengan National Beverage Company, perusahaan berpusat di Tepi Barat.

Pembangunan pabrik dimulai setelah mendapat persetujuan dari Israel pada Desember 2014, empat bulan setelah berakhirnya Perang Israel-Hamas.

Pabrik ini dimiliki oleh Munib al-Masri, miliarder asal Kota Nablus, Tepi Barat, dan pengusaha Amerika Serikat berdarah Palestina Zahi Khouri. "Kami menyaksikan realitas kondisi kehidupan (di Gaza)," kata keduanya kepada Wall Street Journal. "Apa yang kami lakukan di Gaza akan menguntungkan kami."

Pabrik Coca Cola itu menempati lahan seluas 15 ribu meter persegi, berlokasi di sebelah timur Kota Gaza dan hanya beberapa ratus meter dari perbatasan dengan Israel. Pabrik ini akan menciptakan lapangan kerja bagi sekitar seribu warga Palestina secara langsung dan tidak langsung.

Manajer NBC di Gaza Yasir Arafat bilang pembukaan pabrik Coca Cola itu merupakan pesan bagi banyak investor dan perusahaan global: investasi di Gaza bisa berhasil. "Bila kita jauh dari rasa takut, kita mampu mengurangi pengangguran," ujarnya.

Israel telah memblokade Gaza sejak pertengahan 2007, sehingga menciptakan krisis kemanusiaan dan memperburuk kondisi perekonomian di wilayah seluas 360 kilometer persegi itu.

Dea, 2 tahun, menghadiri Aksi Islam Bela Al-Aqsa bareng ibunya di lapangan Monumen Nasional, Jakarta, 11 Mei 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pejabat senior Palestina dirawat di rumah sakit Israel karena terinfeksi Covid-19

Erekat dibawa ke Rumah Sakit Hadassah kemarin sore dalam keadaan parah dan memerlukan bantuan oksigen untuk pernapasan.

Pemimpin senior Hamas Muhammad Saleh al-Khoudari, 81 tahun, ditahan di Arab Saudi sejak April 2019. (Screengrab)

Amnesty minta Raja Salman bebaskan pemimpin Hamas ditahan di Saudi

68 warga Palestina dan Yordania ditahan di Arab Saudi didakwa bergabung dengan organisasi teroris.

Demonstrasi menolak rencana pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem berlangsung di Jakarta, 11 Mei 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Uni Eropa: Bantuan buat Palestina baru diberikan kalau mau bekerjasama dengan Israel

Beberapa pekan terakhir, Palestina telah meminta pinjaman darurat kepada Uni Eropa dan sejumlah negara Eropa untuk membayar gaji pegawai dan aparat keamanannya.

Pangeran Bandar bin Sultan, Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat pada 1983-2005. (BBC)

Pangeran Arab Saudi kecam para pemimpin Palestina

Menurut Pangeran Bandar, reaksi dari Hamas dan pemerintah Palestina menunjukkan kegagalan mereka dalam memperjuangkan nasib bangsa Palestina.





comments powered by Disqus