palestina

Peci Yahudi bikinan Gaza

Industri tekstil di Jalur Gaza mengekspor kippah ke Israel.

12 Maret 2017 11:40

Di kamp pengungsi Syanti di jantung Jalur Gaza, deru mesin-mesin jahit terdengar saat para pekerja di konveksi kepunyaan Muhamnad Abu Syanab tengah menjahit peci khas orang Yahudi, disebur kippah atau yarmulke, untuk diekspor ke Israel.

Kelihatannya itu bisnis tidak mungkin berlaku di Gaza, wilayah dikuasai Hamas - milisi tidak mau mengakui Israel - sejak 2007. Namun fulus memang tidak mengenal kawan atau lawan.

"Orang-orang Israel memuji produk kami karena berkualitas dan kedekatan kami dengan pasar mereka," kata Abu Syanab. "Mereka juga takut perlintasan ditutup sehingga pengiriman barang tertunda."

Para penganut Yudaisme, agama orang Yahudi, memakai yarmulke sebagai tanda menghormati Tuhan.

Israel dan Mesir sudah memblokade Gaza dalam kurun hampir satu dasawarsa. Negara Zionis itu hanya mengizinkankan perlintasan Karem Shalom sebagai tempat keluar masuk barang Israel-Gaza.

Dengan selusin mesin jahit, konveksi milik Abu Syanab, berlokasi dekat rumah mantan pemimpin Hamas Ismail Haniyah, juga memproduksi kaus oblong dan celana panjang.

Namun volume produksi konveksinya belum sesuai harapan. Ketika Israel mulai menutup semua perbatasan dengan Gaza, pabrik tekstil kecilnya itu tutup. Tiga kali perang antara Hamas dan Israel - 2008-2009, 2012, 2014 - juga memaksa 50 pabrik di Gaza bangkrut. 

Konveksi Abu Syanab baru beroperasi lagi tahun lalu.

Sektor tekstil di Gaza sempat mengalami masa keemasan di awal 1990-an. Waktu itu, sekitar 900 konveksi mempekerjakan 35 ribu warga Gaza.

Abu Syanab, juga anggota Persatuan Industri Tekstil Palestina, bilang kala itu empat juta yarmulke diekspor ke Israel saban bulan.

Setelah Gaza diblokade tinggal 150 konveksi beroperasi dengan pekerja berjumlah empat ribu orang. Produksinya kebanyakan untuk pasar lokal.

Sekitar 25 perusahaan konveksi mengekspor produk mereka ke Israel dan Tepi Barat. Tiap bulan 30-40 ribu potong pakain dikirim ke Israel.

Di kawasan Syekh Radwan, utara Kota Gaza, Hasan Syihadah mempunyai konveksi dengan 50 pegawai. Perusahaannya berjalan sejak tahun lalu.

Syihadah mengatakan dirinya bisa mengekspor 5-10 ribu celana panjang ke Israel tiap bulan. "Pasar lokal lemah dan berdagang dengan Istael sangat bagus," ujarnya. "Kami memiliki keahlian dan kami dapat mengekspor lebih banyak."

Seorang lelaki mengendarai gerobak keledai melewati lokasi proyek rumah sakit di Kota Gaza bakal diresmikan Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani  pada 23 Oktober 2012. Lawatan emir Qatar itu menjadi kunjungan pertama pemimpin Arab ke Jalur Gaza sejak diblokade oleh Israel pada 2007. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Qatar bantu Gaza Rp 15,4 triliun sejak 2012

Sekitar 44 persen dari Rp 15,4 triliun fulus Qatar dipakai buat membangun infrastruktur.

Trem di Yerusalem pada Mei 2014. (Claude Villetanause/Wikimedia)

Perusahaan Spanyol tolak bangun rel kereta di Yerusalem karena serobot tanah Palestina

Kereta itu akan melayani permukiman Yahudi ilegal di Yerusalem Timur.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co, November 2013. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Hamas minta donasi dikirim lewat Bitcoin

Iran termasuk penyokong utama Hamas.

Kaum hawa di sebuah restoran di Gaza memesan air garam sebagai bentuk dukungan bagi tahanan Palestina sedang mogok makan di penjara Israel. (Twitter)

94 ribu keluarga miskin di Gaza dapat US$ 100 dari dana hibah Qatar

Qatar sudah menjanjikan hibah US$ 90 juta dalam enam bulan, dimulai sejak November tahun lalu.





comments powered by Disqus