palestina

Hamas bilang perang dengan Israel bukan konflik agama

Hamas menyokong pembentukan negara Palestina dengan batas sebelum Perang 1967 dengan ibu kota Yerusalem.

02 Mei 2017 15:04

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal semalam mengumumkan dokumen politik baru organisasinya, seperti dilansir Al-Arabiya.

Dalam salinan dokumen politik baru diperoleh Albalad.co hari ini dari seorang pejabat Hamas, gerakan perlawanan Palestina ini menekankan perjuangan menghadapi Israel bukan konflik agama tapi bersifat politik.

"Hamas menegaskan Hamas berkonflik dengan Zionis bukan dengan bangsa Yahudi karena agama," kata Hamas dalam dokumen berjudul Prinsip dan Kebijakan Umum Hamas. "Hamas bukan berjuang menghadapi bangsa Yahudi karena agama mereka, tapi melawan Zionis menjajah Palestina."

Dalam dokumen itu, Hamas tidak lagi secara eksplisit bersumpah menghancurkan Israel, namun mereka tetap menolak mengakui negara dibentuk pada 1948 tersebut. Hamas juga tidak menyebut organisasi mereka sebagai Al-Ikhwan al-Muslimun cabang Palestina.

Hal ini untuk menjaga hubungan baik dengan Mesir. Sebab sejak rezim militer dipimpin Jenderal Abdil Fattah as-Sisi - kini menjabat presiden Mesir - menggulingkan Presiden Muhammad Mursi dari Al-Ikhwan pada 2013, Mesir menetapkan Al-Ikhwan sebagai organisasi terlarang dan teroris.

Hamas menekankan wilayah Palestina meliputi seluruh Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Israel saat ini. Meski begitu, Hamas mendukung sementara pembentukan negara Palestina dengan batas wilayah sebelum Perang Enam Hari 1967 dan beribu kota di Yerusalem.

Sedangkan Fatah, saingan Hamas menyatakan hal serupa tapi beribu kota di Yerusalem Timur. Namun Israel secara sepihak pada 1980 menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota abadi mereka dan tidak dapat dibagi dua dengan Palestina.

Demonstrasi menolak rencana pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem berlangsung di Jakarta, 11 Mei 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Uni Eropa: Bantuan buat Palestina baru diberikan kalau mau bekerjasama dengan Israel

Beberapa pekan terakhir, Palestina telah meminta pinjaman darurat kepada Uni Eropa dan sejumlah negara Eropa untuk membayar gaji pegawai dan aparat keamanannya.

Suasana dalam terowongan menghubungkan Mesir dan Jalur Gaza di perbatasan Rafah, 21 Oktober 2012. (faisal assegaf/albalad.co)

Pemimpin Hamas akui satu anggotanya membelot ke Israel

Para pejabat Hamas mengklaim awal bulan ini, mereka telah membekuk jaringan informan Israel di Gaza ingin melancarkan sabotase.

Seorang pengawal pemimpin Hamas memasuki terowongan di perbatasan Rafah,  tembus dari Jalur Gaza ke Mesir, Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Komandan pasukan laut Hamas berkhianat dan kabur ke Israel

Komandan Hamas itu kabur dengan membawa sebuah komputer jinjing, uang tunai, peralatan penyadap, dan sebundel dokumen rahasia.

Suhaib Hasan Yusuf, putra dari pendiri sekaligus pemimpin Hamas di Tepi Barat Syekh Hasan Yusuf, telah membelot dari Hamas. (Screencapture Channel 12)

Satu lagi putra pemimpin Hamas membelot

"Para pemimpin Hamas (di Turki) tinggal di hotel dan apartemen mewah, anak-anak mereka belajar di sekolah swasta dan mereka digaji mahal oleh Hamas," ujar Suhaib.





comments powered by Disqus