palestina

Tahanan Palestina hentikan mogok makan

Setelah tercapai kesepakatan dengan Israel kemarin.

27 Mei 2017 17:27

Setelah 40 hari, lebih dari seribu tahanan Palestina di penjara-penjara Israel menghentikan mogok makan. 

Keputusan itu diambil setelah mereka mencapai kesepakatan dengan pihak negara Zionis itu. 

The Israel Prisons Services (IPS) bilang perundingan berlangsung alot selama 20 jam antara pihaknya dengan pemimpin mogok makan Marwan Barghuti. Negosiasi diperantarai oleh ICRC (Komite Palang Merah Internasional).

Barghuti kini menjalani hukuman lima kali seumur hidup atas dakwaan pembunuhan saat intifadah kedua meletup.

Menurut IPS, tahanan Palestina akan mendapat fasilitas tambahan kunjungan keluarga saban bulan. Namun tidak ada penjelasan apakah Israel juga memenuhi tuntutan lainnya.

Lebih dari seribu tahanan Palestina di delapan penjara Israel mogok makan sejak 17 April lalu. Mereka meminta akses telepon untuk menghubungi keluarga, menambah frekuensi kunjungan keluarga, peningkatan layanan kesehatan, dan penghentian hukuman sel isolasi.

Saat ini terdapat sekitar 6.500 warga Palestina mendekam dalam penjara-penjara di Israel.

Dea, 2 tahun, menghadiri Aksi Islam Bela Al-Aqsa bareng ibunya di lapangan Monumen Nasional, Jakarta, 11 Mei 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Pejabat senior Palestina dirawat di rumah sakit Israel karena terinfeksi Covid-19

Erekat dibawa ke Rumah Sakit Hadassah kemarin sore dalam keadaan parah dan memerlukan bantuan oksigen untuk pernapasan.

Pemimpin senior Hamas Muhammad Saleh al-Khoudari, 81 tahun, ditahan di Arab Saudi sejak April 2019. (Screengrab)

Amnesty minta Raja Salman bebaskan pemimpin Hamas ditahan di Saudi

68 warga Palestina dan Yordania ditahan di Arab Saudi didakwa bergabung dengan organisasi teroris.

Demonstrasi menolak rencana pemindahan Kedutaan Besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem berlangsung di Jakarta, 11 Mei 2018. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Uni Eropa: Bantuan buat Palestina baru diberikan kalau mau bekerjasama dengan Israel

Beberapa pekan terakhir, Palestina telah meminta pinjaman darurat kepada Uni Eropa dan sejumlah negara Eropa untuk membayar gaji pegawai dan aparat keamanannya.

Pangeran Bandar bin Sultan, Duta Besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat pada 1983-2005. (BBC)

Pangeran Arab Saudi kecam para pemimpin Palestina

Menurut Pangeran Bandar, reaksi dari Hamas dan pemerintah Palestina menunjukkan kegagalan mereka dalam memperjuangkan nasib bangsa Palestina.





comments powered by Disqus