palestina

Indonesia serukan seluruh anggota OKI solid bela Al-Aqsa

"Sekarang sudah 50 tahun penjajahan terjadi di Palestina, namun kita masih belum berhasil membebaskan Palestina," ujarnya. "Oleh karena itu, kita ingin mengingatkan, kita tidak bisa menunggu 50 tahun lagi."

28 Juli 2017 20:00

Memburuknya situasi di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur, Palestina, bakal menjadi bahasan utama dalam pertemuan darurat Komite Eksekutif Organisasi Konferensi Islam (OKI), digelar di Kota Istanbul, Turki, Selasa pekan depan.

Dalam pertemuan itu, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi akan menyerukan kepada seluruh negara anggota OKI untuk solid membela Al-Aqsa dan perjuangan bangsa Palestina.

"Kita akan meminta kembali soliditas persatuan negara-negara anggota OKI dalam menjaga status quo dari kompleks Masjid Al-Aqsa, juga mendorong dan terus mengupayakan kemerdekaan Palestina," kata Arrmanatha dalam jumpa pers mingguan di kantornya hari ini.

Setelah dua polisi Israel terbunuh, aparat keamanan negara Zionis itu langsung menutup kompleks Al-Aqsa sekaligus membatalkan pelaksanaan salat Jumat di sana. Ini merupakan pembatalan salat Jumat pertama di Al-Aqsa dalam 48 tahun terakhir.

Dua hari kemudian, Israel membuka kembali kompleks Al-Aqsa, namun dipasang detektor logam lalu kamera di pintu masuk. Pengamanan tambahan ini diprotes keras warga Palestina, sehingga mereka menolak salat di dalam Al-Aqsa dan memilih beribadah di jalanan.

Mereka beralasan tambahan perangkat pengamanan tersebut dianggap sebagai upaya Israel mengontrol Al-Aqsa. Warga muslim Palestina baru salat lagi di Al-Aqsa kemarin setelah detektor logam dan kamera pengintai di gerbang masuk dibongkar.  

Arrmanatha menambahkan Indonesia juga akan menyuarakan konsep untuk mendorong masyarakat internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, memberikan perlindungan bagi kompleks Masjid Al-Aqsa.  

Arrmanatha menjelaskan dalam sidang darurat OKI itu, Indonesia akan kembali mengingatkan seluruh anggota, OKI itu dibentuk untuk memerdekakan Palestina. "Sekarang sudah 50 tahun penjajahan terjadi di Palestina, namun kita masih belum berhasil membebaskan Palestina," ujarnya. "Oleh karena itu, kita ingin mengingatkan, kita tidak bisa menunggu 50 tahun lagi."

Dia mengatakan pertemuan darurat OKI ini juga merupakan permintaan sekaligus usulan dari Indonesia, disampaikan Retno Marsudi kepada Sekretaris Jenderal OKI Yusuf al-Utsamain dan beberapa negara anggota.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam pertemuan darurat Komite Eksekutif Organisasi Konferensi Islam di Kota Istanbul, Turki, 1 Agustus 2017. Pertemuan ini membahas kekerasan berlangsung di Masjid Al-Aqsa. (Biro Pers Kementerian Luar Negeri)

OKI dukung usul Indonesia buat beri perlindungan internasional bagi Al-Aqsa

"Apakah kita akan membiarkan kejadian seperti di Al-Aqsa terus berulang? Kita tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi," ujar Retno Marsudi.

Polisi Israel memasang alat pendeteksi logam di pintu masuk kompleks Masjid Al-Aqsa. (Sky News)

Pemuka Yahudi di Indonesia prihatin atas krisis Al-Aqsa

"Terowongan itu sudah ada sejak zaman Sulaiman dan bukan dibuat oleh Israel untuk merobohkan Masjid Al-Aqsa," ujarnya.

Mufti Yerusalem Syekh Muhammad Husain. (Channel 2)

Raja Salman mengklaim berjasa redam krisis Al-Aqsa

Padahal Israel selama ini selalu mengandalkan Yordania saban kali konflik Al-Aqsa meletup. Sebab Yordania melalui lembaga Waqf berwenang mengelola kompleks Al-Aqsa.

Polisi Israel memasang alat pendeteksi logam di pintu masuk kompleks Masjid Al-Aqsa. (Sky News)

Warga muslim Palestina kembali salat di Al-Aqsa

Polisi Israel sudah membongkar detektor logam dan kamera di pintu masuk Al-Aqsa.





comments powered by Disqus