palestina

16 negara pernah buka kedutaan besar di Yerusalem

Semua kantor pemerintahan, termasuk kantor presiden dan perdana menteri Israel, berada di Yerusalem.

06 Desember 2017 14:07

Kalau rencana Presiden Donald Trump terlaksana, Amerika Serikat bukan negara pertama membuka kedutaan besarnya di Yerusalem. Dalam sejarah Israel, setidaknya ada 16 negara pernah menempatkan duta besar mereka di kota suci bagi tiga agama - Islam, Yahudi, dan Nasrani - itu.

Mereka adalah Pantai Gading, Zaire (sekarang bernama Kongo), Kenya, Bolivia, Chile, Kolombia, Kosta Rika, Republik Dominika, Ekuador, El Salvador, Guatemala, Panama, Uruguay, Venezuela, Belanda, dan Haiti. Mereka membuka kedutaan besar di Yerusalem pada awal 1950-an.

Pendirian kedutaan besar di yerusalem itu bukan berarti mereka mengakui Yerusalem sebagai ibu kota negara Zionis tersebut. Konsensus internasional menyatakan status Yerusalem mesti diputuskan lewat perundingan antara Palestina dan Israel.

Sehabis Perang Yom Kippur, Pantai Gading, Zaire, dan Kenya memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel, setelah ketiga negara ini menghadiri pertemuan Gerakan Non-Blok di Ibu Kota Aljir, Aljazair, pada September 1973.

Mereka kemudian memulihkan kembali hubungan resmi dengan negeri Bintang Daud tersebut: Zaire pada 1981, Pantai Gading di 1986, dan Kenya pada 1988. Tapi ketiga negara ini membuka kedutaan mereka di Ibu Kota Tel Aviv.

Sebanyak 13 negara lainnya memutus hubungan diplomatik dengan Israel setelah Knesset (parlemen Israel) mengesahkan Hukum Dasar Yerusalem pada 1980. Undang-undang ini menetapkan Yerusalem sebagai ibu kota abadi Israel dan tidak dapat dibagi dua dengan Palestina.

Pada 1984, Kosta Rika dan El Salvador membuka kembali kedutaan besar mereka di Yerusalem namun ditutup pada 2006. Sedangkan Bolivia memutus lagi hubungan resmi dengan negara Yahudi itu di 2009.

Meski tidak ada lagi kedutaan asing di Yerusalem, namun para duta besar dan diplomat bertugas untuk Israel harus ke Yerusalem buat urusan-urusan resmi. Sebab, semua kantor pemerintahan, termasuk kantor presiden dan perdana menteri Israel, berada di Yerusalem.

Suasana salat Jumat di Yerusalem, 9 Desember 2017. (Albalad.co/Istimewa)

Khotbah Jumat di Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi tidak bahas Yerusalem

Kedutaan besar Arab Saudi dan Bahrain di Ibu Kota Amman, Yordania, memerintahkan warga mereka tinggal di negara Bani Hasyim itu untuk tidak ikut berdemonstrasi menentang keputusan Trump.

Presiden Palestina Mahmud Abbas bertemu Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz di Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi, November 2017. (Wafa)

Dukung Israel, Arab Saudi tawarkan Abu Dis sebagai ibu kota Palestina

Proposal damai Saudi ini juga menghapus hak pengungsi Palestina untuk kembali.

Yerusalem dan sokongan palsu negara-negara muslim

Para pemimpin dari negara-negara berpenduduk mayoritas muslim mestinya malu terhadap Trump. Mereka seharusnya bertindak seperti Trump: mengumumkan Yerusalem sebagai ibu kota Palestina.

Kedutaan besar Amerika Serikat di Ibu Kota Tel Aviv, Israel. (Google Maps)

Trump deklarasikan Yerusalem ibu kota Israel

Pengakuan Trump ini sejalan dengan kepentingan Israel menyatakan Yerusalem adalah ibu kota abadi mereka dan tidak dapat dibagi dua dengan Palestina.





comments powered by Disqus

Rubrik palestina Terbaru

Khotbah Jumat di Masjid Al-Haram dan Masjid Nabawi tidak bahas Yerusalem

Kedutaan besar Arab Saudi dan Bahrain di Ibu Kota Amman, Yordania, memerintahkan warga mereka tinggal di negara Bani Hasyim itu untuk tidak ikut berdemonstrasi menentang keputusan Trump.

10 Desember 2017

TERSOHOR