palestina

Israel bunuh 17 warga Palestina berdemonstrasi di sepanjang perbatasan Gaza

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan dibentuk sebuah penyelidikan independen dan transparan soal 17 demonstran Palestina ditembak mati oleh Israel itu.

01 April 2018 08:40

Para penembak jitu Israel Jumat lalu menewaskan 17 warga Palestina dan lebih dari 1.500 orang lainnya tengah berunjuk rasa di sepanjang perbatsan Jalur Gaza dan Israel.

Demonstrasi besar-besaran ini untuk memperingati Hari Kembalikan Tanah Palestina, diperingati saban 30 Maret. Pimpinan demonstran merencanakan protes panjang selama enam pekan dan puncaknya pada 15 Mei mendatang, bertepatan dengan Hari Nakbah, pengusiran sekitar 750 ribu warga Palestina dari kampung-kampung halaman mereka oleh pasukan Yahudi.

Hari Kembalikan Tanah Palestina ini diperingati setelah pasukan Israel menembak mati enam warga Palestina pada 30 Maret 1976, karena memprotes kebijakan Israel merampas tanah-tanah milik orang Palestina

Kelompok hak asasi manusia Palestina, Adalah, menyebutkan demonstrasi besar-besaran ini diikuti sekitar 30 ribu warga Gaza, wilayah berpenduduk sekitar 1,8 juta jiwa dan teah diblokade oleh Israel sejak pertengahan 2007.

"Demonstrasi ini bukan tidak terkontrol, segalanya telah direncanakan secara akurat dan terukur," kata Adalah melalui keterangan tertulis. "Dan kami tahu di mana tiap peluru Israel mendarat."

Rekaman video memperlihatkan pasukan Israel menggunakan peluru tajam buat membubarakan demonstran. Bahkan, para penembak runduk sengaja menembak punggung warga Palestina lari menjauh dari pagar batas.

Protes ini dirancang oleh beragam kelompok masyarakat sipil dan disokong oleh semua faksi di Palestina. Ada lima pusat kumpulan pengunjuk rasa di sepanjang perbatasan Gaza-Israel, berjarak sekitar 700 meter dari pagar batas dijaga ketat tentara negara Bin Tang Daud itu.

Unjuk rasa ini berlangsung di tengah kemarahan rakyat Palestina akibat pengakuan sepihak dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai ibu kota Israel di awal Desember tahun lalu. Washington DC berencana memindahkan Kedutaan Besar Amerika dari Ibu Kota Tel Aviv ke Yerusalem pada 14 Mei, bertepatan dengan ulang tahun ke-70 berdrinya negara Israel.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) gagal mengecam tindakan berlebihan Israel itu lantaran rancangan resolusi diveto oleh Amerika.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan dibentuk sebuah penyelidikan independen dan transparan soal 17 demonstran Palestina ditembak mati oleh Israel itu.

Suhaib Hasan Yusuf, putra dari pendiri sekaligus pemimpin Hamas di Tepi Barat Syekh Hasan Yusuf, telah membelot dari Hamas. (Screencapture Channel 12)

Satu lagi putra pemimpin Hamas membelot

"Para pemimpin Hamas (di Turki) tinggal di hotel dan apartemen mewah, anak-anak mereka belajar di sekolah swasta dan mereka digaji mahal oleh Hamas," ujar Suhaib.

Duta Besar Amerika buat Israel David Friedman, utusan khusus Amerika bagi Timur Tengah Jason Greenblatt ikut merobohkan tembok saat peresmian terorongan menuju kompleks masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, 30 Juni 2019. (Facebook/Screen capture)

Israel resmikan terowongan menuju Al-Aqsa

Terowongan itu dibangun selama delapan tahun di bawah rumah-rumah warga Palestina.

Jamal, nelayan asal Kota Gaza, tengah mempersiapkan sarapan buat putranya berupa roti lapis isi sardencis di tepi pantai, Kamis, 25 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co

OKI: Negara Palestina harus beribu kota di Yerusalem

OKI meminta wilayah negara Palestina nantinya adalah seluruh Tepi Barat dan Jalur Gaza sebelum terjadinya Perang Enam Hari 1967.

Shimon Peres menandatangani formulir pengajuan untuk menjadi warga negara Palestina pada 1937. (PIC)

Shimon Peres pernah ajukan permohonan jadi warga negara Palestina

Tanda tangan Peres terlihat jelas di formulir permohonan untuk menjadi warga Palestina, termasuk pernyataan isinya: "Saya bersumpah akan setia kepada pemerintah Palestina."





comments powered by Disqus

Rubrik palestina Terbaru

Satu lagi putra pemimpin Hamas membelot

"Para pemimpin Hamas (di Turki) tinggal di hotel dan apartemen mewah, anak-anak mereka belajar di sekolah swasta dan mereka digaji mahal oleh Hamas," ujar Suhaib.

09 Juli 2019

TERSOHOR