palestina

Gaza, simbol perlawanan dan kehomatan

Setelah berjalan menyusuri terowongan, saya akhirnya disambut pemilik terowongan. "Ahlan wa sahlan fii Gaza."

16 Mei 2018 07:30

Setelah berkoordinasi dengan salah satu pendiri sekaligus pemimpin senior Hamas di Jalur Gaza Mahmud Zahar, saya akhirnya memutuskan untuk berangkat ke sana. Kejadiannya enam tahun lalu ketika Presiden Mesir Muhammad Mursi masih menjabat dan perlintasan di Rafah dibuka hampir saban hari. Saya pergi sendirian.

Setiba di Ibu Kota Kairo, saya langsung mencari taksi omprengan berupa Mercedes usang untuk langsung menuju perbatasan Mesir-Gaza di Rafah. Semua penumpang dalam taksi itu orang Gaza kecuali saya. Perjalanan dari Kairo ke Rafah sekitar lima jam dan sekali sarapan di Ismailiya.

Matahari sedang hangat-hangatnya saat saya tiba di dekat pintu perlintasan Rafah, dijaga ketat tentara Mesir dan setidaknya ada dua panser di sana. Pos perbatasan belum dibuka, sehingga siapa saja ingin ke Gaza harus menunggu.

Tidak lama kemudian, antrean mulai mengular. Warga Gaza habis berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari di Mesir satu-satu mulai melewati pos imigrasi. Waktu giliran saya tiba, saya diberhentikan. Petugas imigrasi Mesir bilang saya tidak boleh menyeberang ke Gaza. Seorang pengacara asal Argentina juga bernasib serupa.

Beberapa orang membisiki saya: selipkan saya US$ 100 dalam paspor, pasti dibolehkan ke Gaza. Atau pilihannya menyeberang secara ilegal melalui terowongan dengan harga sekitar US$ 200.

Saya mengambil opsi kedua setelah bertemu Ismail, calo terowongan datang menawari saya. Setelah tawar menawar, akhirnya kami sepakat di angka US$ 150 untuk melintasi terowongan sepanjang 250 meter.

Namun kami harus kucing-kucingan dengan patroli keamanan Mesir. Dari perlintasan Rafah, kami pergi ke Kota Rafah lalu berhenti di sebuah simpang. Saya - sambil menggendong tas ransel dan menarik koper - bareng Ismail dan temannya lalu meenuju sebuah tanah lapang sepi. Di sana, Ismail menghubungi pemilik terowongan.

Sambil menunggu jemputan, saya disuruh masuk ke masjid, berpura-pura untuk salat zuhur. Waktu itu jamaah zuhur baru saja bubar dan saya langsung menuju tempat berwudu.

Ketika kaki kanan baru dibasuh, Ismail berteriak memanggil, "Faisal, yallah (Faisal ayo cepat)!"

Saya selesaikan membasuh kaki kiri dan segera berlari untuk memakai kaus kaki dan sepatu. Taksi omprengan sudah parkir di samping masjid dan saya bergegas masuk. Saya kira jauh, ternyata kami berhenti di depan sebuah rumah, hanya sekitar seratus meter dari masjid.

Seseorang membukakan pagar lantas kami langsug berjalan menuju ke halaman belakang. Di sana sudah ada antrean warga Gaza. Mereka duduk di kursi plastik. Bagi penduduk lokal, tarif sekali melewati terowongan cuma 20 shekel atau US$ 6.

Mulut terowongan ditutupi ilalang agar tidak kelihatan lantaran patroli udara Mesir dan Israel rajin menyisir perbatasan Rafah.

Ketika giliran saya tiba, jantung berdegup kencang karena helikopter tempur sedang berputar-putar. Setelah mengucap basmallah, saya menuruni anak tangga masuk ke dalam terowongan sedalam dua meter. Lebarnya hanya buat satu orang dan panjangnya sekitar 250 meter.

Konstruksi terowongan cukup bagus dengan penerangan memadai. Hanya saja, kalau teralu di dalam bisa sesak napas.

Tarif terowongan di sepanjang perbatasan memang beragam. Makin bagus dan pendek, harganya mahal. Kian panjang dan jelek, ongkosnya murah karena risikonya lebih besar.

Setelah berjalan menyusuri terowongan, saya akhirnya disambut pemilik terowongan. "Ahlan wa sahlan fii Gaza."

Saya girang lalu menghubungi Mhamud Zahar. Dia bilang sudah menugaskan Kementerian Luar Negeri Hamas untuk mengurusi keperluan saya selama di Gaza.

Tidak lama berselang, Ahmad dari Kementerian Luar Negeri menelepon. Dia menyuruh saya menginap di Hotel Al-Mathaf, termahal kedua setelah Al-Masytal. Al-Mathaf berlokasi di depan pantai.

Hotel ini milik Abdul Aziz al-Khalidi, salah satu orang paling tajir di Gaza. Rumahnya berlantai tiga terletak di seberang hotel.

Gaza sungguh indah. Sepanjang jalan dari Khan Yunis di selatan Gaza ke arah utara menuju Kota Gaza, kami menyusuri pantai di sebelah kiri dan perbukitan di sisi kanan.

Gambaran Gaza sungguh berbeda dengan ditulis media-media Barat. Penduduknya ramah dan situasinya aman. Saya selalu keluar saban habis sarapan dan baru pulang tengah malam. Modalnya, cuma mengangkat tangan kanan sambil mengucap salam.

Lebih beruntungnya lagi, saya berasal dari Indonesia, dianggap sangat mendukung perjuangan bangsa Palestina. Ketika tahu saya muslim, kehangatan kian bertambah.

Saya bahkan bertemu dengan mantan juara tenis meja Palestina merupakan pengagum Soekarno.

Kehidupan berjalan normal di Gaza meski wilayah seluas 360 kilometer persegi ini diblokade Israel sejak pertengahan 2007. Lelaki dan perempuan bisa berbaur di tempat kerja. Saya bahkan berkenalan dengan seorang gadis Gaza dan bersalaman saat memberitahu nama masing-masing. Bahkan dia mengajak saya makan siang di rumahnya.

Ketika saya di Gaza, Oktober 2012, pertempuran sudah berlangsung di perbatasan dengan Israel. Tapi situasi tetap lazim. Anak-anak ke sekolah, pasar buka, dan kantor beroperasi.

Saya sempat bertakziah ke kediaman Yusuf Abu Jarad, malamnya terbunuh setelah meluncurkan roket ke Israel. Saya ikut bareng ribuan orang mengantarkan jenazahnya ke pekuburan Syekh Radwan. Di sana pula, pendiri Hamas Syekh Ahmad Yasin dimakamkan.     

Saya akhirnya berkesimpulan Gaza adalah simbol perlawanan dan kehormatan. Mereka tidak putus asa dan tetap menjalani waktu seperti kehidupan di tempat lain tidak diancam perang.

Karena itulah saya tidak kaget dengan yang terjadi saat ini. Mereka rela mengorbankan nyawa untuk menolak peresmian Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem. Sebab Gaza adalah simbol perlawanan dan kehormatan.

Gaza: Simbol Perlawanan dan Kehormatan inilah akhirnya menjadi judul buku saya.     

Putra dari Jamal, nelayan di Kota Gaza, ini tengah menikmati sarapan berupa roti isi ikan sardencis kecil dan terasa pahit di sebuah pantai di Kota Gaza, Kamis, 25 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Qatar buka lowongan bagi guru dari Gaza

Emir Qatar Syekh Hamad bin Khalifah ats-Tsani merupakan pemimpin negara Arab dan muslim pertama mengunjungi Gaza tengah diblokade pada Oktober 2012.

Seorang anak bersama ibunya tengah menunggu di perlintasan Rafah, Mesir, untuk menyeberang ke Jalur Gaza, Ahad, 21 Oktober 2012. (albalad.co/faisal assegaf)

Ribuan kaleng daging dilarang masuk Gaza karena tidak dapat sertifikat halal dari Israel

Syakir menjelaskan saban hari harus membayar US$ 600 untuk biaya penyimpanan di pelabuhan.

Razan an-Najjar, 21 tahun, perawat Palestina ditembak mati tentara Israel saat unjuk rasa di sepanjang perbatasan Jalur Gaza-Israel, 1 Juni 2018. (Middle East Eye)

Israel tembak mati satu perawat Palestina

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa gagal mengesahkan resolusi mengecam kebiadaban Israel itu setelah diveto oleh Amerika.

Hasil pemungutan suara di Dewan HAM PBB soal resolusi pengiriman tim investigasi buat menyelidiki dugaan kejahatan perang dilakukan Israel terhadap demonstran Gaza. (Twitter)

PBB akan selidiki kejahatan perang dilakukan Israel atas demonstran Gaza

Resolusi itu disahkan melalui pemungutan suara. Sebanyak 29 negara anggota Dewan Hak Asasi Manusia PBB setuju, dua menolak dan 14 negara lainnya abstain.





comments powered by Disqus