palestina

Bakar diri Fathi derita Gaza

"Apa bisa dilakukan seorang pria ketika istrinya akan melahirkan dan dia tidak punya fulus buat membayar dokter, membeli susu dan popok?"

21 Mei 2018 10:40

Kemarin subuh, Fathi Harb pamit kepada ibu dan istrinya tengah hamil tua untuk pergi mengambil upah US$ 14 dari hasil kerja serabutan.

Namun di tengah perjalanan, lelaki 20 tahun sebentar lagi menjadi ayah ini berubah pikiran. Dia membakar dirinya di tengah jalan. Suasana langsung heboh. Orang-orang berupaya memadamkan api melalap tubuh warga Kota Gaza ini dengan karung dan air.

Dia kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Syifa dan langsung mendapat perawatan di ruang rawat intensif.

Menurut dokter Nafiz Abu Syaban, kepala unit luka bakar di Rumah Sakit Syifa, hampir setengah badan Fathi mengalami luka bakar tingkat dua tiga. Dia juga sesak karena mengisap terlalu banyak asap. "Situasinya sangat berisiko, dia berada dalam keadaan kritis," katanya.

Sang ibu, Majda, kaget. Baru setengah jam putranya itu pergi, polisi datang ke rumah memberitahu Fathir ada di rumah sakit. Dia menduga hidup kelewat susah membikin Fathi depresi berat hingga memutuskan untuk bakar diri. "Apa bisa dilakukan seorang pria ketika istrinya akan melahirkan dan dia tidak punya fulus buat membayar dokter, membeli susu dan popok?"

Penderitaan membekap sekitar dua juta penduduk Jalur Gaza akibat blokade Israel sejak 2007. Sekitar 80 persen warga di sana hidup mengandalkan bantuan kemanusiaan. Tingkat pengangguran mencapai 45 persen dan air sudah tidak layak dikonsumsi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pernah bilang Gaza sudah tidak layak huni.

Ruang jaga dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. (Albalad.co)

Masjid Al-Aqsa tidak terbakar

Terdapat lima masjid dalam kompleks Al-Aqsa, yakni Al-Qibli (berkubah hijau), Kubah batu (berkubah emas), Al-Marwani, Al-Buraq, dan Bab Ar-Rahmah.

Suasana salat tarawih di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, 18 Mei 2018. (Albalad.co)

Australia buka kantor dagang dan pertahanan di Yerusalem

Baru Amerika dan Guatemala meresmikan kedutaannya di Yerusalem.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan penguasa Oman Sultan Qabus bin Said di Muskat, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Netanyahu sebut tidak akan pernah ada negara Palestina

Selama ini ada tiga isu sensitif terkait konflik Palestina Israel, yakni batas negara, pengungsi Palestina, dan Yerusalem.





comments powered by Disqus