palestina

Israel kirim dokter spesialis untuk selamatkan nyawa Mahmud Abbas

Palestina menolak tawaran agar Abbas dirawat di rumah sakit Israel tahun lalu.

24 Januari 2019 23:19

Israel tahun lalu mengirim seorang dokter spesialis untuk menyelamatkan nyawa Presiden Palestina Mahmud Rida Abbas.

Mengutip seorang sumber, Yediot Ahronot kemarin melaporkan Abbas, 83 tahun, pada Mei 2018 dibawa ke Rumah Sakit Istisyari Arab karena menderita infeksi parah di telinganya, kemudian dengan cepat menjadi pneumonia dan komplikasi lainnya. Hal ini mengakibatkan nyawa Abbas dalam bahaya.

Takut Abbas wafat dan cemas Palestina tidak stabil sepeninggal Abbas, para pejabat israel diam-diam menawarkan supaya Abbbas dirawat di rumah sakit di negara Zionis itu. Alasannya, perlengkapan rumah sakit di Israel lebih canggih ketimbang rumah sakit di Palestina.

Berdasarkan sejumlah pertimbangan, para pejabat Palestina menolak tawaran itu karena mereka khawatir bakal menyulut kemarahan rakyat Palestina. Israel akhirnya mengirim seorang dokter spesialis untuk bergabung dengan tim medis menangani Abbas.

Para pejabat Palestina waktu itu berupaya keras untuk merahasikan kondisi kritis Abbas.

Abbas mengalami beberapa persoalan kesehatan serius sepanjang tahun lalu. Pada Februari, dia dirawat di Rumah Sakit John Hopkins di Kota Baltimore, Negara Bagian Maryland, Amerika Serikat, dengan dugaan kanker perut. Tapi hasil biopsi negatif.

Mengutio beberapa pejabat tinggi Palestina, stasiun televisi Channel 10 dari Israel Agustus tahun lalu melaporkan Abbas mengalami pikun dan berusaha keras untuk mengingat nama-nama dan wajah, termasuk orang-orang dekatnya. Dia juga menderita disorientasidan perasaan tidak berdaya, sehingga dia hanya bekerja dua jam sehari.

Namun seorang pejabat di kantor Abbas membantah laporan Channel 10 itu. Dia bilang Abbas datang ke kantor secara rutin. "Dia bekerja empat jam pada pagi dan awal sore, kemudian lima jam lagi malamnya," katanya kepada The Times of Israel.

Menanggapi laporan Yediot Ahronot kemarin, seorang pejabat di kantor Abbas mengaku kepada The Times of Israel, dia tidak mengetahui ada seorang dokter spesialis Israel ikut menangani Abbas ketika sakit tahun lalu. Dia mengaku tidak tahu soal tawaran agar Abbas dirawat di rumah sakit di Israel.

Pejabat itu bilang ada seorang dokter Amerika serikat tergabung dalam tim merawat Abbas.

Suhaib Hasan Yusuf, putra dari pendiri sekaligus pemimpin Hamas di Tepi Barat Syekh Hasan Yusuf, telah membelot dari Hamas. (Screencapture Channel 12)

Satu lagi putra pemimpin Hamas membelot

"Para pemimpin Hamas (di Turki) tinggal di hotel dan apartemen mewah, anak-anak mereka belajar di sekolah swasta dan mereka digaji mahal oleh Hamas," ujar Suhaib.

Duta Besar Amerika buat Israel David Friedman, utusan khusus Amerika bagi Timur Tengah Jason Greenblatt ikut merobohkan tembok saat peresmian terorongan menuju kompleks masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, 30 Juni 2019. (Facebook/Screen capture)

Israel resmikan terowongan menuju Al-Aqsa

Terowongan itu dibangun selama delapan tahun di bawah rumah-rumah warga Palestina.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan penguasa Oman Sultan Qabus bin Said di Muskat, 26 Oktober 2018. (Courtesy)

Oman berencana buka kedutaan di Ramallah

Kalau terwujud, Oman menjadi negara Arab Teluk pertama memiliki kedutaan di Palestina.

Jamal, nelayan asal Kota Gaza, tengah mempersiapkan sarapan buat putranya berupa roti lapis isi sardencis di tepi pantai, Kamis, 25 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co

OKI: Negara Palestina harus beribu kota di Yerusalem

OKI meminta wilayah negara Palestina nantinya adalah seluruh Tepi Barat dan Jalur Gaza sebelum terjadinya Perang Enam Hari 1967.





comments powered by Disqus

Rubrik palestina Terbaru

Satu lagi putra pemimpin Hamas membelot

"Para pemimpin Hamas (di Turki) tinggal di hotel dan apartemen mewah, anak-anak mereka belajar di sekolah swasta dan mereka digaji mahal oleh Hamas," ujar Suhaib.

09 Juli 2019

TERSOHOR