palestina

Memahami Nakbah

Nakbah telah menewaskan sekitar 15 ribu orang Palestina, membumihanguskan 418 desa dan kota Palestina, serta mengusir 800 ribu warga Palestina dari tanah kelahiran mereka.

11 Mei 2019 16:26

An-Nakbah, dalam bahasa Arab berarti petaka, merupakan salah satu peristiwa kunci dalam sejarah modern Timur Tengah. Nakbah pula memicu konflik Palestina-Israel sejak kejadian itu. Bencana ini berlangsung selama akhir 1947 hingga 1948, saat negara Israel dibentuk.  

Nakbah adalah hasil dari pembagian wilayah Palestina pada 1948 setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua. Banyak pihak menilai pembelahan wilayah Palestina - sebagian buat Yahudi dan yang lain untuk orang Palestina tidak tepat kalau dilihat dari perbandingan jumlah penduduk saat itu.

Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa nomor 181 disahkan pada 27 November 1947 membagi dua wilayah: 55 persen untuk bangsa Yahudi, 45 persen buat orang Palestina, dan tiga persen lainnya (Yerusalem) berada di bawah kontrol masyarakat internasional).

Ketika itu, warga Yahudi berjumlah 630 ribu orang atau 32 persen dari total penduduk di wilayah Palestina. Sedangkan jumlah orang Palestina waktu itu sebanyak 1,2 juta (62 persen), dan 140 ribu lainnya (8 persen) bermukim di Yerusalem).

Sebelum Resolusi nomor 181 keluar, bangsa Yahudi menguasai hanya enam persen wilayah Palestina.

Kelompok-kelompok paramiliter Yahudi - beberapa anggotanya kemudian menjadi pemimpin Israel, termasuk Yitzhak Rabin, Ariel Sharon, dan Moshe Dayan - merancang sebuah rencana untuk mengontrol teritori baru itu.

Melalui Rencana Dalet bikinan Haganah (pasukan paramiliter Israel), bangsa Palestina mulai diusir dan dibasmi dari wilayah mereka. Strategi militer ini mulai dilaksanakan pada Maret 1948.

Rencana Dalet itu memerintahkan penghancuran desa-desa orang Palestina (lewat cara dibakar, dibom, atau diledakkan dengan dinamit), terutama permukiman-permukiman orang Palestina sukar dikontrol seterusnya.

Rencana Dalet ini bertujuan menguasai daerah perbatasan utara Palestina dengan Suriah dan Libanon, mengontrol wilayah pesisir, menghancurkan desa dan kota berlokasi antara Yerusalem dan Jaffa. Semua sasaran ini dicapai melalui 13 operasi militer.

Dalam hitungan pekan dan bulan-bulan berikutnya, ribuan orang Palestina dibunuh dan disuir dari kampung halaman mereka oleh Haganah. Kelompok-kelompok pejuang Palestina juga berhasil membunuhi orang Yahudi.

Nakbah telah menewaskan sekitar 15 ribu orang Palestina, membumihanguskan 418 desa dan kota Palestina, serta mengusir 800 ribu warga Palestina dari tanah kelahiran mereka. Sekitar 150 ribu orang Palestina bertahan dalam wilayah israel didirikan pada 1948.

Nakbah mengakibatkan bangsa Palestina kehilangan wilayah 4,3 juta kilometer persegi direbut oleh Israel. Negara Zionis itu kini menguasai 78 persen dari total teritori Palestina.

Banyak orang Palestina diusir tidak pernah bisa kembali ke kampung halaman mereka, sebagian besar sudah menjadi wilayah Israel. Lebih dari 70 tahun kemudian, jutaan keturunan orang Palestina diusir hidup dalam lusinan kamp pengungsi di Jalur Gaza, Tepi Barat, dan negara-negara tetangga.

Sekitar 74 persen dari seluruh penduduk Palestina berstatus pengungsi. Jumlah mereka 5,4 juta orang dan mendiami 58 kamp di Timur Tengah.

Terdapat 2,2 juta pengungsi Palestina di sepuluh kamp di Yordania, 400 ribu di sembilan kamp di Suriah (sebelum pecah perang saudara), 500 ribu di 12 kamp di Libanon, 1,4 juta di delapan kamp di Gaza, dan 800 ribu pengungsi Palestina di 19 kamp di Tepi Barat.

Nakbah diperingati saban 15 Mei sehari setelah negara Israel dibentuk. Sebagian mengenang petaka itu saat dekalarasi berdirinya negara Bintang Daud itu.  

Petaka itu sudah menjadi duka dan air mata bangsa Palestina sampai batas waktu tak terkira.

Shimon Peres menandatangani formulir pengajuan untuk menjadi warga negara Palestina pada 1937. (PIC)

Shimon Peres pernah ajukan permohonan jadi warga negara Palestina

Tanda tangan Peres terlihat jelas di formulir permohonan untuk menjadi warga Palestina, termasuk pernyataan isinya: "Saya bersumpah akan setia kepada pemerintah Palestina."

Seorang lelaki melewati mural bertema perjuangan di Kota Gaza. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Wartawan dan intelektual Arab Saudi sokong Israel perangi Hamas

"Hati kami bersama kalian. Semoga Allah melindungi Israel dan rakyatnya," tulis Abdul Hamid al-Hakim.

Anak Palestina cedera akibat serangan udara Israrl ke Jalur Gaza pada 4 Mei 2019. (Shehab News)

Serangan udara Israel tewaskan ibu hamil dan bayinya

Perempuan tengah mengandung terbunuh itu bernama Filistin Abu Arar (37 tahun), janinnya Abdullah Abu Arar, dan bayinya Saba Abu Arar (14 bulan).





comments powered by Disqus

Rubrik palestina Terbaru

Shimon Peres pernah ajukan permohonan jadi warga negara Palestina

Tanda tangan Peres terlihat jelas di formulir permohonan untuk menjadi warga Palestina, termasuk pernyataan isinya: "Saya bersumpah akan setia kepada pemerintah Palestina."

20 Mei 2019

TERSOHOR