palestina

Satu lagi putra pemimpin Hamas membelot

"Para pemimpin Hamas (di Turki) tinggal di hotel dan apartemen mewah, anak-anak mereka belajar di sekolah swasta dan mereka digaji mahal oleh Hamas," ujar Suhaib.

09 Juli 2019 09:53

Suhaib, putra dari salah satu pendiri sekaligus pemimpin Hamas di Tepi Barat Syekh Hasan Yusuf, keluar dari organisasi itu. 

Dia mengikuti jejak abangnya, Musab, kini menetap di Amerika Serikat dan telah berpindah agama menjadi penganut Nasrani. Bedanya dengan Musab, Suhaib tidak pernah menjadi informan Israel. 

Sila baca: Putra Hamas dalam dekapan Yesus

Suhaib meninggalkan pos penempatannya di Turki bulan lalu dan terbang ke sebuah negara di Asia Tenggara. Dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi Channel 12 asal Israel Rabu pekan lalu, Suhaib membongkar praktek korupsi dalam Hamas. 

Ditemui dalam sebuah masjid, Suhaib (38 tahun) mengaku bekerja di kantor politik Hamas di Turki, sejatinya merupakan tempat mengumpulkan informasi intelijen. Mereka dilengkapi peralatan mutakhir buat menyadap orang-orang dan para pemimpin Palestina di Ramallah. 

"Hamas menjalankan operasi keamanan dan militer di wilayah Turki dengan samaran lembaga masyarakat sipil," katanya.

Dia menambahkan Hamas juga menyadap pembicaraan para pemimpin Israel dan negara-negara Arab, namun dia menolak menjelaskan secara rinci. 

Suhaib menegaskan Hamas bekerja buat agenda asing, bukan demi kepentingan rakyat Palestina. "Mereka menjual informasi ke Iran untuk mendapatkan bantuan keuangan," ujarnya seraya menyebut fulus itu ditransfer melalui bank-bank Turki. 

Dia mengklaim kantor Hamas di Turki dipakai untuk merekrut orang-orang buat melancarkan serangan terhadap warga Israel di Tepi Barat.

Suhaib kian benci terhadap Hamas lantaran menyaksikan para anggota seniornya hidup mewah di Turki. Dia pernah melihat anggota Hamas makan sebuah menu seharga US$ 200, sedangkan rakyat Palestina di Gaza hidup dengan duit US$ 100 sebulan. 

"Para pemimpin Hamas (di Turki) tinggal di hotel dan apartemen mewah, anak-anak mereka belajar di sekolah swasta dan mereka digaji mahal oleh Hamas," ujar Suhaib. "Mereka memperoleh US$ 4-5 ribu perbulan, memiliki pengawal, kolam renang, dan klub kebugaran."

Sedangkan menurut Biro Statistik Palestina, masyarakatnya di Gaza hidup dengan gaji rata-rata US$ 360 tiap bulan dan pengangguran di atas 50 persen. 

"Saya dibesarkan dalam Hamas, saya bekerja untuk Hamas, tapi ketika mengetahui ada korupsi di dalamnya, saya lebih baik keluar dan memutuskan hubungan dengan Hamas," tutur Suhaib. 

Dia pun mengaku tidak takut bakal dibunuh lantaran membelot. 

Suhaib meminta para pemimpin Hamas, termasuk ayahnya, keluar dari organisasi korup itu. "Saya yakin ayahnya saya juga mengetahui ada banyak anggota Hamas korup."

 

 

 

Duta Besar Amerika buat Israel David Friedman, utusan khusus Amerika bagi Timur Tengah Jason Greenblatt ikut merobohkan tembok saat peresmian terorongan menuju kompleks masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, 30 Juni 2019. (Facebook/Screen capture)

Israel resmikan terowongan menuju Al-Aqsa

Terowongan itu dibangun selama delapan tahun di bawah rumah-rumah warga Palestina.

Jamal, nelayan asal Kota Gaza, tengah mempersiapkan sarapan buat putranya berupa roti lapis isi sardencis di tepi pantai, Kamis, 25 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co

OKI: Negara Palestina harus beribu kota di Yerusalem

OKI meminta wilayah negara Palestina nantinya adalah seluruh Tepi Barat dan Jalur Gaza sebelum terjadinya Perang Enam Hari 1967.

Shimon Peres menandatangani formulir pengajuan untuk menjadi warga negara Palestina pada 1937. (PIC)

Shimon Peres pernah ajukan permohonan jadi warga negara Palestina

Tanda tangan Peres terlihat jelas di formulir permohonan untuk menjadi warga Palestina, termasuk pernyataan isinya: "Saya bersumpah akan setia kepada pemerintah Palestina."

Seorang lelaki berjalan melewati mural pengingat peristiwa Nakbah menjelang beridirnya negara Israel di Kota Gaza, Senin, 22 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Memahami Nakbah

Nakbah telah menewaskan sekitar 15 ribu orang Palestina, membumihanguskan 418 desa dan kota Palestina, serta mengusir 800 ribu warga Palestina dari tanah kelahiran mereka.





comments powered by Disqus