palestina

Arab Saudi tahan pemimpin senior Hamas

Dua tahun belakangan, Saudi telah mendeportasi sedikitnya seratus warga Palestina lantaran mendukung Hamas atau mengirim uang ke kampung halaman mereka.

11 September 2019 05:51

Hamas Senin lalu meminta Arab Saudi segera membebaskan pemimpin seniornya, Muhammad Saleh al-Khoudari, ditangkap sejak April lalu. Seruan itu disampaikan lantaran pria itu sudah sangat sepuh dan menderita penyakit.

Melalui keterangan tertulis, Hamas bilang lelaki 81 tahun itu ditangkap di Jeddah. Hani, putra sulung Muhammad Saleh al-Khoudari, juga dibekuk, namun Hamas tidak mengungkapkan kapan Hani ditangkap.

Khudari adalah orang selama ini menjadi penyambung kmunikasi antara Hamas dan Arab Saudi. Pria sudah tiga dasawarsa tinggal di negara Kabah itu memiliki hubungan baik dengan keluarga kerajaan dan badan-badan keamanan Arab Saudi. Dia juga menjadi penyambung komunikasi antara Hamas dan Arab Saudi.

Khoudari menjalankan peran penting bagi Hamas di Arab Saudi, termasuk mengatur haji dan umrah bagi para pejabat Hamas, mengadakan pertemuan dengan para menteri dan raja atas nama Hamas.

"Dia adalah pemimpin Hamas di Arab Saudi. Dia sangat disegani dan dia mengatur segala kunjungan dan pertemuan antara Hamas dan para pejabat Arab Saudi," kata Adnan Abu Amir, pengamat politik mempunyai hubungan dekat dengan Hamas, kepada Middle East Eye. "Semua dia lakukan dengan sebuah perjanjian resmi dan sepengetahuan negara Saudi."

Dia menambahkan pimpinan Hamas di Gaza merasa perintah penangkapan terhadap Khoudari muncul dari istana. Hingga kini, Hamas belum mengetahui di mana keberadaan Khoudari. Mantan Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal - memiliki hubungan baik dengan pangeran, menteri, dan para pejabat Arab Saudi, juga tidak mengetahui di mana dan sampai kapan Saudi bakal menahan Khoudari.

Hamas menyatakan selama ini sengaja menutupi penangkapan Khoudari lantaran berusaha membebaskan dia melalui jalan perundingan tapi tidak berhasil.

Penangkapan Khoudari ini berlangsung di tengah kian mesranya hubungan Saudi dan Israel. Hamas adalah kelompok pejuang sokongan Iran, negara menjadi musuh bebuyutan Saudi dan Israel. Bahkan Riyadh sudah menyatakan Hamas dan Al-Ikhwan al-Muslimun sebagai organisasi terlarang di negaranya.

Selama beberapa bulan terakhir, pasukan keamanan Saudi secara rahasia melancarkan operasi penangkapan besar-besaran terhadap warga Palestina menetap di negeri Dua Kota Suci itu. Dua tahun belakangan, Saudi telah mendeportasi sedikitnya seratus warga Palestina lantaran mendukung Hamas atau mengirim uang ke kampung halaman mereka.

Peta negara Palestina dan Israel versi proposal damai Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Twitter)

Perubahan peta Palestina sejak belum ada negara Israel

"Saya warga negara Palestina. Dari 1921 -1948, saya memakai paspor Palestina," kata Perdana Menteri Israel Golda Meir dalam sebuah wawancara televisi pada 1970.

Dua bocah perempuan tengah melintas di depan tembok sebuah rumah bolong-bolong terkena peluru Israel di Jabaliya, Jalur Gaza, 27 Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Surati Jokowi, pemimpin Hamas minta Indonesia gagalkan rencana aneksasi Israel di Tepi Barat

"(Indonesia) mengecam keras dan menolak rencana aneksasi wilayah Palestina di Tepi Barat oleh Israel," kata Faizasyah.

Rute perjalanan sebuah jet pribadi membawa para pejabat Uni Emirat Arab dan Israel pada 17 Januari 2019 terbang langsung dari Abu Dhabi ke Tel Aviv. (Flight Radar 24)

Bawa bantuan buat Palestina, pesawat Etihad kembali mendarat di Tel Aviv

Berbeda dengan penerbangan pertama ke Tel Aviv, pesawat kargo jenis Boeing Dreamliner 787 itu kali ini dilengkapi dengan nama dan logo Etihad, serta bendera UEA.

Ratusan warga Palestina bersiap untuk berbuka puasa dengan makanan sumbangan dari masyarakat Indonesia disalurkan melalui KBRI Amman, 25 Mei 2018. (Albalad.co)

Arab Saudi gelar pertemuan rahasia dengan Israel biar bisa masuk lembaga pengurus Al-Aqsa

Yordania akan mengizinkan Saudi memiliki perwakilan dalam Dewan Wakaf Islam kalau bisa mengusir pengaruh Turki.





comments powered by Disqus