palestina

Pangeran Arab Saudi kecam para pemimpin Palestina

Menurut Pangeran Bandar, reaksi dari Hamas dan pemerintah Palestina menunjukkan kegagalan mereka dalam memperjuangkan nasib bangsa Palestina.

06 Oktober 2020 15:03

Pangeran Bandar bin Sultan bin Abdul Aziz dari Arab Saudi mengecam sikap para pemimpin Palestina lantaran menolak ti dan disndakan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain telah menandatangani perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel.

"Sikap rendahan ini bukan kami harapkan dari para pejabat mencari dukungan global untuk masalah negara mereka," kata Pangeran Bandar dalam wawancara khusus dengan stasiun televisi Al-Arabiya dan disiarkan kemarin. "Penghinaan terhadap pemimpin dari kedua negara Arab Teluk itu dengan sikap tercela sangat tidak dapat diterima."

Pangeran Bandar, menjadi duta besar Saudi untuk Amerika Serikat selama 1983-2005 dan menjabat kepala badan intelijen pada 2014-2016, kritikan terhadap UEA dan Bahrain lantaran berbaikan dengan negara Zionis itu menyakitkan untuk didengar.

Para pemimpin Palestina, termasuk Presiden Mahmud Abbas, menuding kebijakan UEA dan Bahrain itu seperti menusuk bangsa Palestina dari belakang. Abbas kemudian melunakkan sikapnya dan melarang pernyataan-pernyataan menyerang UEA dan Bahrain setelah Sekretaris Jenderal GCC (Dewan Kerjasama Teluk) Nayif al-Hajraf meminta maaf.

UEA dan Bahrain menandatangani perjanjian normalisasi hubungan dengan Israel pada 15 September di Gedung Putih, Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat. UEA dan Bahrain menjadi negara Arab ketiga dan keempat menjalin relasi resmi dengan Israel setelah Mesir pada 1979 serta Yordania di 1994.  

Menurut Pangeran Bandar, reaksi dari Hamas dan pemerintah Palestina menunjukkan kegagalan mereka dalam memperjuangkan nasib bangsa Palestina. Sedangkan Israel meski berada di pihak salah, malah berhasil dalam diplomasinya.

Dia bercerita pemimpin Palestina Yasir Arafat pernah mengecewakan Arab Saudi karena membela Saddam Husain. Padahal ketika terjadi Perang Teluk I, Saddam memerintahkan pasukannya menembakkan peluru kendali ke Ibu Kota Riyadh, Arab Saudi.

Para aktivis pembela Palestina mendirikan tenda di kawasan Syekh Jarrah, Yerusalem Timur, Palestina. (Maydan al-Quds)

Bennett tidak akan usir sejumlah keluarga Palestina dari rumah mereka di Syekh Jarrah

The Nahalat Shimon Company mampu membuktikan di pengadilan mereka memiliki dokumen kepemilikan sah atas keempat rumah itu memang milik orang-orang Yahudi lari ketika terjadi Perang Arab -Israel pada 1948.

Pemimpin Hamas di Jalur Gaza Yahta Sinwar meninjau kerusakan akibat Perang Gaza pada Mei 2021. (Biro Pers Hamas buat Albalad.co)

Hamas: Kerugian akibat Perang Gaza sekitar Rp 6,9 triliun

Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid menekankan solusi dua negara tidak memungkinkan saat ini. "Kami tidak bisa diminta ambil bagian dalam membangun sebuah negara mengancam keselamatan kami."

Abdullah Kamil, Gubernur Provinsi Salfit di Tepi Barat, Palestina. (Jerusalem Post)

Gubernur di Palestina perintahkan iklan komersial dan papan nama toko berbahasa Ibrani diganti bahasa Arab

Para pebisnis dan pemilik toko di Provinsi Salfit itu diberi waktu sepekan untuk melaksanakan instruksi ini.

Tulisan lan narhal (dalam bahasa Arab berarti kami tidak akan pergi) dipasang di sebuah papan penunjuk jalan di Al-Bustan, Silwan, Yerusalem Timur, Palestina. (Quds News Network)

Hari ini batas waktu 119 rumah warga Palestina di Yerusalem harus dirobohkan sendiri oleh pemiliknya

Israel memberi dua pilihan kepada 135 keluarga Palestina itu: membongkar sendiri rumah mereka atau bisa dirobohkan aparat berwenang Israel kapan saja.





comments powered by Disqus

Rubrik palestina Terbaru

Bennett tidak akan usir sejumlah keluarga Palestina dari rumah mereka di Syekh Jarrah

The Nahalat Shimon Company mampu membuktikan di pengadilan mereka memiliki dokumen kepemilikan sah atas keempat rumah itu memang milik orang-orang Yahudi lari ketika terjadi Perang Arab -Israel pada 1948.

27 Juli 2021

TERSOHOR