palestina

Empat tahun mengerikan bagi Palestina di era Trump

Manuver-manuver politik Trump mestinya menjadi pelajaran berharga bagi pemimpin dari negara-negara berpenduduk mayoritas muslim bagaimana seharusnya mendukung sahabat.

03 November 2020 10:04

Beragam kebijakan kontroversial Donald Trump selama empat tahun menghuni Gedung Putih, Amerika Serikat, bukan saja menyakitkan bagi bangsa Palestina namun membuat hipotesis menyebutkan Palestina adalah negara khayalan kian mendekati kenyataan.

Di lain pihak, keputusan-keputusan Trump memicu polemik sangat menguntungkan Israel, negara masih menjajah Palestina.

Namun harus diakui Trump adalah Presiden Amerika Serikat paling cerdas lantaran berani membikin terobosan dan mendobrak tradisi para pendahulunya.  

Manuver-manuver politik Trump mestinya menjadi pelajaran berharga bagi pemimpin dari negara-negara berpenduduk mayoritas muslim bagaimana seharusnya mendukung sahabat.

Berikut daftar kebijakan Trump terkait konflik Palestina-Israel memicu polemik:

Februari 2017

Trump menolak menyokong solusi dua negara sebagai upaya buat menyelesaikan konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel. Sejak konferensi di Kota Annapolis, Negara Bagian Maryland, Amerika Serikat, belum ada lagi perundingan langsung antara Palestina dan Israel.

Desember 2017

Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Pengakuan ini sejalan dengan klaim sepihak Israel melalui Hukum Dasar Yerusalem, disahkan oleh Knesset (parlemen Israel) pada 1980, menyebutkan Yerusalem adalah ibu kota abadi negara Zionis itu dan tidak dapat dibagi dua dengan Palestina.

Pengakuan Trump itu makin mengubur impian rakyat Palestina ingin memiliki negara merdeka dan berdaulat dengan Ibu Kota Yerusalem Timur. 

Mei 2018

Trump memindah Kedutaan Besar Amerika di Israel dari Ibu Kota Tel Aviv ke Yerusalem. Pemindahan pada 14 Mei ini bertepatan dengan ulang tahun ke-60 berdirinya negeri Bintang Daud itu.  

Agustus 2018

Trump menyetop semua bantuan keuangan bagi UNRWA, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengurusi pengungsi Palestina tinggal di Jalur Gaza, Tepi Barat, dan negara-negara tetangga. 

September 2018

Trump menutup kantor perwakilan PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) di Ibu Kota Washington DC, Amerika Serikat.

Februari 2019

USAID menghentikan seluruh bantuan bagi warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Januari 2020

Trump mengumumkan proposal damai memberikan kesempatan bagi Israel buat menganeksasi 30 persen wilayah di Tepi Barat. Rencana damai versi Trump ini mengizinkan negara Palestina berdiri dengan ibu kota di Abu Dis bukan Yerusalem Timur. 

Agustus-Oktober 2020

Diplomasi dan tekanan Amerika berhasil membuat Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Sudan sepakat untuk menjalin hubungan diplomatik dengan Israel.

Wakil pemimpin Hamas di Jalur Gaza Khalil al-Hayya. (Twitter)

Israel ledakkan rumah wakil pemimpin Hamas di Gaza

Khalil al-Hayya merupakan wakil dari Yahya Sinwar.

Wakil pemimpin Hizbullah Syekh Naim Qasim. (Al-Manar)

Wakil pemimpin Hizbullah temui perwakilan Hamas dan Jihad Islam di Libanon

Syekh Naim mengkritik para pemimpin negara muslim hanya mampu mengecam. "Palestina tidak butuh pidato. "Palestina perlu jihad, syahid, dan pengorbanan," ujarnya.

Seorang anak menjadi korba  serangan Israel ke Jalur Gaza. (Albalad.co/Supplied)

Di hari pertama lebaran, gempuran Israel tewaskan 52 warga Gaza

Mulai hari ini, Israel menggunakan artileri buat menyerang Gaza.

Juru bicara Brigade Izzudin al-Qassam (sayap militer Hamas) Abu Ubaidah. (Twitter)

Hamas tembakkan 250 roket Ayyasy ke Bandar Udara Ramon di Israel

Unites Airlines, Delta Airlines, dan American Airlines telah membatalkan penerbangan dari Amerika ke Tel Aviv. British Airways juga menghentikan rute dari dan menuju Tel Aviv. 





comments powered by Disqus