palestina

Mayoritas rakyat Saudi anggap negara Israel tidak berhak ada

Lebih banyak rakyat Saudi menganggap Israel ketimbang Iran sebagai ancaman terbesar bagi kestabilan dan perdamaian di Timur Tengah.

13 November 2020 20:30

Hasil jajak pendapat dilansir Rabu lalu menunjukkan mayoritas atau sekitar 62 persen rakyat Arab Saudi menilai negara Israel tidak berhak ada. Poling itu dilakukan oleh Mitchell Barak untuk the Konrad Adenauer Foundation, berkantor di Yerusalem.

Sebanyak 57 persen rakyat Qatar dan 56 persen rakyat Maroko juga memiliki anggapan serupa.

Survei itu dilakukan Barak selama akhir Oktober hingga awal November dengan tingkat kesalahan 4-5 persen. Jajak pendapat ini melibatkan 300-600 di tiap negara dari sembilan tempat, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Maroko, Israel, dan Palestina. Poling itu untuk mengetahui tanggapan masyarakat Arab terhadap kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel dengan UEA, Bahrain, dan Sudan.

Selain itu, sebanyak 33 persen rakyat di negara kabah itu juga menganggap Israel sebagai ancaman terhadap stabilitas dan perdamaian di Timur Tengah. Hanya 25 persen menilai Iran menjadi ancaman atas kestabilan dan keamanan di kawasan ini.

Rakyat Bahrain sebagian besar berpaham Syiah juga sepakat. Sebanyak 24 persen memilih Israel sebagai ancaman terbesar buat Timur Tengah ketimbang 18 persen menuding Iran sebagai ancaman.

Responden di Qatar, Maroko, dan Palestina juga sependapat. Warga Maroko bahkan menempatkan Turki di peringkat kedua sehabis Israel sebagai ancaman terbesar untuk perdamaian di Timur Tengah, baru kemudian Iran.

Sebaliknya, 27 persen masyarakat UEA menuding Iran sebagai ancaman terbesar di Timur Tengah dan 17 persen menganggap Israel menjadi ancaman.

temuan ini berbanding terbaik dengan dugaan banyak pengamat menyimpulkan kian mesranya hubungan negara-negara Arab dengan Israel lantaran adanya ancaman dari Iran. "Tiap orang di Israel berpikir semua orang di dunia Arab menganggap Iran sebagai ancaman terbesar, tapi saya bisa mengatakan bahkan rakyat Israel juga tidak yakin Iran adalah ancaman," kata Mitchell Barak. "Iran tidak benar-benar dianggap menjadi ancaman."

Dia menambahkan hampir 75 persen rakyat UEA, Bahrain, dan Saudi, serta 80 persen warga Qatar memiliki pandangan positif terhadap pemerintahan Palestina. "Semua orang di dunia Arab menyukai Palestina," ujar Barak.

Survei itu menunjukkan 90 persen rakyat Maroko, 85 persen warga Qatar, 81 masyarakat UEA, dan 72 persen orang Bahrain menyokong berdirinya sebuah negara Palestina merdeka dan berdaulat.

Polisi Israel menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina di dalam Masjid Al-Aqsa, dalam bentrokan terjadi pada 26 Juni 2016. (Press TV)

Polisi Israel matikan pengeras suara di Masjid Al-Aqsa pada tarawih pertama

Palsstina peringatkan kejadian semacam itu bisa meletupkan perang agama terbuka.

Mansur asy-Syahatit, lelaki Palestina asal Kota Hebron, Tepi Barat, dibebaskan dari penjara Israel pada 8 April 2021. (Albalad.co)

Setelah 17 tahun mendekam dalam penjara Israel, lelaki Palestina ini jadi amnesia

Bahkan ketika ibunya menjemput Mansur di depan penjara, dia tidak memeluk atau menyapa sang ibu.

Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki saat jumpa pers pada 22 September 2020. (WAFA)

Israel cabut kartu VIP menteri luar negeri Palestina sepulangnya dari ICC

Shin Beth memeriksa Maliki selama setengah jam dan anggota rombongan sekitar sejam di perlintasan Allenby.

Ibrahim dan Muhammad Aghbariah berpose bareng orang tua mereka sebelum ditahan Israel pada Februari 1992. (The Palestinian Information Centre)

Dua warga Palestina sudah 30 tahun huni penjara Israel

Meski tinggal dalam penjara, Ibrahim serta Muhammad mampu menyelesaikan kuliahnya hingga meraih gelar magister. Mereka juga telah menulis sejumah buku dari dalam tahanan.





comments powered by Disqus