palestina

Takut Hamas menang, Israel dan Amerika minta Abbas tunda atau batalkan pemilihan umum

Krisis dalam Fatah mencapai puncaknya ketika Abbas memecat keponakan Arafat.

17 Maret 2021 14:35

Presiden Palestina menolak permintaan Israel dan Amerika Serikat untuk menunda atau membatalkan pelaksanaan pemilihan umum, seperti dilansir kantor berita Khabar kemarin.

Sejumlah sumber mengungkapkan kepada media asal Palestina itu, permintaan ini disampaikan lantaran terjadi perpecahan ditubuh faksi Fatah yang dipimpin oleh Abbas. Israel dan Amerika juga mencemaskan Hamas akan menang dalam pemilihan parlemen pada 22 Mei mendatang.

Selain pemilihan parlemen, Palestina juga bakal melangsungkan pemilihan presiden pada 31 Juli serta pemilihan Dewan Nasional Palestina di 31 Agustus.

Menurut sumber-sumber itu, Abbas mengatakan kepada Israel dan Amerika, ketiga pemilihan umum ini perlu dilaksanakan untuk mempersatukan rakyat Palestina dan mengakhiri konflik antara Hamas dan Fatah.

Seorang pejabat senior Palestina di Ramallah bilang kepada the Jerusalem Post, Abbas memang tidak berencana menunda atau membatalkan ketiga pemilihan umum itu. Namun dia menolak mengomentari soal permintaan Israel dan Amerika ini.

Krisis dalam Fatah mencapai puncaknya ketika Abbas memecat Nasir al-Qudwah. Langkah ini diambil karena keponakan dari mendaing pemimpin PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) Yasir Arafat sekaligus mantan menteri luar negeri Palestina itu mengumumkan rencana penyusunan daftar kandidat sendiri untuk pemilihan parlemen.

Hamas menang dalam pemilihan parlemen pada 25 Januari 2006, namun pemerintahannya hanya bertahan setahun. Sebab Israel dan Amerika menolak mengakui kemenangan Hamas karena menganggap Hamas organisasi teroris. Kebijakan kedua negara itu berujung pada konflik bersenjata antara Hamas dan Fatah dengan hasil Hamas menguasai Jalur Gaza dan Fatah mendominasi Tepi Barat.

Selain itu, Israel memblokade Gaza sejak kemenangan Hamas dan diperketat sejak pertengahan 2007.

Pemuda Palestina bentrok dengan pasukan Israel pada 7 Mei 2021 di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem Timur, Palestina. (Telegram)

Bentrokan pecah di dalam Masjid Al-Aqsa, 178 warga Palestina luka

Pasukan negara Zionis itu menggunakan tembakan peluru karet, granat kejut, dan bom gas untuk membubarkan pemuda Palestina melempari mereka dengan berbagai benda.

Raida, warga Palestina di Dyekh Jarrah, Yerusalem Timur, membuka rumahnya untuk demonstran Palestina berlindung dari tembakan gas air mata dan peluru karet pasukan Israel. (Middle East Eye)

Perlawanan dari Syekh Jarrah

Pengadilan Distrik Yerusalem telah memutuskan 40 orang Palestina dari empat keluarga itu tidak berhak lagi menempati rumah mereka lantaran terbukti sebelum 1948, tempat tinggal mereka adalah milik warga Yahudi.

Presiden Palestina Mahmud Abbas di Rumah Sakit Istisyari Arab di Kota Ramallah, Tepi Barat, pada 21 Mei 2018. (Twitter)

Abbas tetapkan keadaan darurat selama 30 hari

Palestina terakhir kali melangsungkan pemilihan parlemen pada 25 Januari 2006 dan dimenangkan oleh Hamas. Sedangkan pemiihan presiden dilakukan pada 2005 setelah Presiden Yasir Arafat wafat.





comments powered by Disqus