palestina

Hamas: Abbas dan Fatah berkhianat dan lakukan kudeta karena batalkan pemilihan umum

Hamas menekankan tidak perlu izin Israel buat menggelar pemilihan umum di Yerusalem Timur.

01 Mei 2021 19:34

Hamas merupakan pesaing terberat Fatah kemarin menuding Presiden Palestina Mahmud Abbas dan faksi Fatah dia pimpin telah berkhianat dan melakukan kudeta karena telah membatalkan rencana pemilihan umum. 

"Fatah dan pimpinan Otoritas Palestina bertanggung jawab penuh atas keputusan ini dan semua akibatnya," kata Hamas dalam siaran pers diterima Albalad.co. "Konsensus nasional tidak bisa disesuaikan dengan agenda satu faksi saja."

Hamas menegaskan warga Palestina bermukim di Yerusalem Timur terbukti mampu melawan penjajahan Israel. Karena itu Hamas meyakini mereka pun akan bisa mencalonkan diri atau menggunakan hak pilih tanpa perlu menunggu persetujuan Israel. 

Abbas Kamis lalu memutuskan membatalkan rencana pemilihan umum hingga Israel mengizinkan warga Palestina di Yerusalem Timur memakai hak pilih mereka. 

Abbas Januari lalu mengumumkan rencana pelaksanaan pemilihan parlemen pada 22 Mei, pemilihan presiden di 31 Juli, dan pemilihan Dewan Nasional Palestina pada 31 Agustus. 

Kepala Perpustakaan Nasional Palestina Ihab Basaisu dipecat oleh Presiden Mahmud Abbas karena mengecam pembunuhan aktivis Nizar Banat. (Screencapture/Twitter)

Abbas pecat kepala perpustakaan nasional karena kecam pembunuhan aktivis Nizar Banat

Abbas sudah memperingatkan semua pejabat Palestina untuk tidak membahas kematian Banat.

Ratusan warga Palestina pada 3 Juli 2021 berdemonstrasi di Kota Ramallah, Tepi Barat. Mereka menuntut Presiden Mahmud Abbas segera mundur sebagai bentuk tanggung jawab atas pembunuhan aktivis Nizar Banat. (Twitter)

Ratusan demonstran di Ramallah tuntut Abbas segera mundur

Perwakilan dari Uni Eropa sudah bertemu kepala intelijen Palestina Muhammad. Mereka meminta keterangan mengenai pembunuhan Banat.

Demonstrasi mengecam kematian Nizar Banat, aktivis kerap mengkritik pemerintahan korup Presiden Palestina Mahmud Abbas berlangsung di sejumlah kota di Tepi Barat sejak 24 Juni 2021. (Quds News Network)

Brutalnya penangkapan terhadap aktivis anti-Abbas hingga berujung pada kematian

"Setelah memukuli Nizar secara brutal, mereka mulai menelanjangi, menyeret, dan memborgol kedua tangannya, ujar Hasan Banat, sepupu korban.

Demonstrasi menuntut Presiden Palestina Mahmud Abbas mundur berlangsung di Kota Ramallah, Tepi Barat. (Quds News Network)

Antisipasi demonstrasi anti-Abbas meluas, pemerintah Palestina pesan gas air mata dan bom suara dari Israel

"Meminta bantuan dari musuh adalah kejahatan," kata juru bicara Jihad Islam Tariq Salami.





comments powered by Disqus

Rubrik palestina Terbaru

Bennett tidak akan usir sejumlah keluarga Palestina dari rumah mereka di Syekh Jarrah

The Nahalat Shimon Company mampu membuktikan di pengadilan mereka memiliki dokumen kepemilikan sah atas keempat rumah itu memang milik orang-orang Yahudi lari ketika terjadi Perang Arab -Israel pada 1948.

27 Juli 2021

TERSOHOR