palestina

Ratusan demonstran di Ramallah tuntut Abbas segera mundur

Perwakilan dari Uni Eropa sudah bertemu kepala intelijen Palestina Muhammad. Mereka meminta keterangan mengenai pembunuhan Banat.

04 Juli 2021 08:40

Ratusan warga Palestina berunjuk rasa di jantung Kota Ramallah, ibu kota pemerintahan Palestina, kemarin menuntut Presiden Mahmud Abbas segera mundur sebagai bentuk tanggung jawab atas pembunuhan terhadap Nizar Banat, aktivis kerap mengkritik Abbas.

Demonstrasi di Alun-alun Manara ini kelanjutan dari unjuk rasa meletup sejak pembunuhan Banat Kamis pekan lalu. Belasan agen intelijen Palestina menculik korban dari rumahnya di Hebron, Tepi Barat. Dia dipukuli hingga tewas.

Terdapat dua spanduk besar dibentangkan di tengah protes bertulisan Irhal yaa Abbas (dalam bahasa Arab berarti mundurlah wahai Abbas).

Para demonstran berteriak, "Abbas bubarkan pemerintah Palestina dan kalian semua lengserlah." Mereka juga menyerukan, "Kami terperangkan di antara pemerintah Palestina dan penjajah Israel."

Ketika protes kian memanas, ratusan pengunjuk rasa itu mulai meneriakkan slogan tersohor semasa Revolusi Arab satu dasawarsa lalu, yakni "Rakyat ingin rezim jatuh" dan "Berhentilah Abbas."

Ibu dari Nizar Banat dan kerabatnya juga datang dalam demosntrasi di Ramallah ini. Para pengunjuk rasa berpetpuk tangan menyambut perempuan hadir dengan memegang foto mendiang putranya itu.

"Darah Nizar bukan untuk dirundingkan," katanya kepada wartawan.

Warga Ramallah bernama Muhammad, 37 tahun, girang karena ada protes mendesak pembubaran pemerintahan Palestina dan Abbas mundur. "Saya anggota fatah dan saya memilih Abbas pada pemilihan umum 2006," ujarnya. "Tapi saat ini Abbas tidak punya pilihan selain menggelar pemilihan umum atau mundur."

Berbeda dengan unjuk rasa berlangsung pekan lalu, jumlah demonstrasi hadir sedikit karena takut aparat leamanan bertindak kasar. Namun demonstrasi kemarin di Ramallah berlangsung damai hingga dibubarkan.

Perwakilan dari Uni Eropa sudah bertemu kepala intelijen Palestina Muhammad. Mereka meminta keterangan mengenai pembunuhan Banat. Mereka juga mengunjungi keluarga korban di Hebron.

Kepala Perpustakaan Nasional Palestina Ihab Basaisu dipecat oleh Presiden Mahmud Abbas karena mengecam pembunuhan aktivis Nizar Banat. (Screencapture/Twitter)

Abbas pecat kepala perpustakaan nasional karena kecam pembunuhan aktivis Nizar Banat

Abbas sudah memperingatkan semua pejabat Palestina untuk tidak membahas kematian Banat.

Demonstrasi mengecam kematian Nizar Banat, aktivis kerap mengkritik pemerintahan korup Presiden Palestina Mahmud Abbas berlangsung di sejumlah kota di Tepi Barat sejak 24 Juni 2021. (Quds News Network)

Brutalnya penangkapan terhadap aktivis anti-Abbas hingga berujung pada kematian

"Setelah memukuli Nizar secara brutal, mereka mulai menelanjangi, menyeret, dan memborgol kedua tangannya, ujar Hasan Banat, sepupu korban.

Demonstrasi menuntut Presiden Palestina Mahmud Abbas mundur berlangsung di Kota Ramallah, Tepi Barat. (Quds News Network)

Antisipasi demonstrasi anti-Abbas meluas, pemerintah Palestina pesan gas air mata dan bom suara dari Israel

"Meminta bantuan dari musuh adalah kejahatan," kata juru bicara Jihad Islam Tariq Salami.

Kepala badan intelijen Palestina Mayor Jenderal Majid Faraj. (Alwattanvoice.com)

Kepala badan intelijen Palestina diduga terlibat dalam pembunuhan aktivis anti-Abbas

Keluarga menolak tim investigasi dibentuk oleh pemerintah Palestina. Mereka meminta pakar hak asasi manusia asal Prancis Agnes Callamard memimpin penyelidikan kasus kematian Banat.





comments powered by Disqus