palestina

Israel bebaskan pemuda Palestina dari penjara setelah 65 hari mogok makan

Abu Atwan ingin menunjukkan betapa kebebasan sangat berharga dirinya.

11 Juli 2021 22:33

Israel Kamis lalu membebaskan Ghadanfar Abu Atwan, pemuda Palestina berumur 27 tahun, dari penjara setelah dia mogok makan dan jarang minum selama 65 hari. Tindakan nekatnya itu sebagai protes terhadap penahanan dirinya tanpa dakwaan dan melalui proses peradilan.

Sejak ditahan pada 16 Juni, dia jarang minum, hanya sekali tiap beberapa hari. Sekitar tiga pekan lalu, dia dipindahkan dari sebuah klinik milik Direktorat Penjara Israel di Ramle ke Rumah Sakit Kaplan dekat Rehovot lantaran keadaannya mengkhawatirkan.

Dalam catatan medisnya sehari sebelum dilepaskan, tubuh Abu Atwan digambarkan kurus kering, benar-benar tidak berdaya, dan hampir tidak dapat berbicara. "Perutnya tegang dan dadanya sakit, terutama di bagian kiri menyebar hingga ke punggung. Dia tidak menggerakkan kedua kakinya."

Besoknya (Kamis lalu), pengacaranya, Jawad Bulus, menjenguk dia lagi di rumah sakit. Sedangkan keluarganya menunggu dengan harap-harap cemas di rumah mereka di Dura, Hebron, Tepi Barat. Bulus berusaha meyakinkan Abu Atwan untuk meneguk air.

Malamnya, Bulus menyampaikan kabar dramatis. Pertama, status tahanan administratif terhadap Abu Atwan dicabut. Kemudian, sekitar pukul delapan, dia mengumumkan perintah penahanan terhadap kliennya itu resmi dibatalkan.

Pada jam 21:15, Abu Aywan sudah ada dalam ambulans tengah melaju menuju pos pemeriksaan Rantis. Dari sana, ambulans milik Palestina membawa dirinya ke sebuah rumah sakit di Ramallah.

Abu Atwan secara sadar memilih jalan menyakitkan dan berbahaya, yakni mogok makan. Menurut Majdulin kepada Haaretz, putranya itu ingin menunjukkan betapa kebebasan sangat berharga dirinya.

Majdulin mengatakan Abu Atwan meminta kepada Shin Bet (dinas rahasia dalam negeri Israel) untuk membatalkan perintahan penahanan administratif terhadap dirinya, dikeluarkan pada Oktober tahun lalu dan diperpanjang enam bulan kemudian, atau memberitahu tuduhannya dan mengadili dirinya.

Tahanan administratif berarti seseorang dipenjara tanpa dakwaan, pengadilan, tidak berhak membela diri. Orang itu ditahan atas kecurigaan atau ketakutan tanpa bukti dia akan melakukan kejhatan di masa depan.

Perintahan penahanan administratif ini dikeluarkan oleh Shin Bet dan ditandatangani oleh komandan wilayah atau komandan militer lainnya di Tepi Barat. Perintah ini berlaku enam bulan dan bisa diperpanjang berulang kali tanpa batas waktu.

Pada 24 Juni lalu, pengadilan tinggi di Israel menangguhkan penahanan Abu Atwan lantaran kesehatannya memburuk sehingga tidak lagi menjadi ancaman, namun dia tetap tidak dibebaskan.

Ini kali ketiga Abu Atwan dikenai tahanan administratif. Majdulin menjelaskan anaknya itu pertama ditahan pada umur 19 tahun. Waktu itu, dia divonis dua tahun penjara atas dakwaan melempar bom molotov ke arah jip tentara Israel.

Total dia sudah pernah mendekam enam tahun dalam penjara Israel. Dia juga sudah dua kali mogok makan, yakni selama 41 hari dan 20 hari.

Tadinya Abu Atwan menolak menyerahkan diri. Hatinya luluh setelah dibujuk ayahnya.

Pertama dia ditahan di Penjara Ramon dan di sanalah dia mulai mogok makan. Kemudian, menurut Banan, abangnya itu dipindah ke Penjara Ohalei Keidar dan ditempatkan dalam sel isolasi. Karena kondisinya memburuk, dia dibawa lagi ke klinik penjara di Ramle dan dari sana ke rumah sakit.

Orang tua tidak bisa memaksa Abu Atwan berhenti mogok makan. Mereka sadar sudah menjadi tradisi keluarganya untuk selalu melawan penjajah Israel. Keluarga Atwan sudah lama bergabung dengan Fatah.

Musa, kakek dari Abu Atwan, pernah dipenjara delapan tahun di israel. Setelah bebas dia dideportasi ke Yordania hingga mengembuskan napas tidak pernah bisa pulang ke kampung halamannya di Dura.

Ikhman, ayah dari Abu Atwan, juga pernah bertahun-tahun menghuni penjara negara Zionis itu, termasuk 1,5 tahun karena memiliki sebuah senjata. Setelah bebas, dia bekerja di Israel sampai fasih berbahasa Ibrani hingga saat ini.

"Saya memiliki satu toko pakaian di Dura dan banyak pelanggan saya orang Yahudi," kata Ikhman dalam bahasa Ibrani.

Anaknya, Abu Atwan, selain bekerja di bagian bea cukai, juga ikut menjaga toko pakaian kepunyaan ayahnya itu. Dia sebelumnya bekerja di badan intelijen Palestina.

 

Resor Bianco segera dibuka di Jalur Gaza. (Albalad.co/Supplied)

Resor mewah segera dibuka di Gaza

Harga sewa tiap vila di resor Bianco sebesar Rp 4,4 juta semalam.

Pemimpin Hamas di Jalur Gaza Yahta Sinwar meninjau kerusakan akibat Perang Gaza pada Mei 2021. (Biro Pers Hamas buat Albalad.co)

Hamas: Kerugian akibat Perang Gaza sekitar Rp 6,9 triliun

Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid menekankan solusi dua negara tidak memungkinkan saat ini. "Kami tidak bisa diminta ambil bagian dalam membangun sebuah negara mengancam keselamatan kami."

Daftar rekening mata uang digital milik orang-orang Hamas. (National Bureau for Counter Terror Financing)

Israel sita 84 rekening mata uang digital milik Hamas

Departemen Kehakiman Amerika tahun lalu merampas paling tidak 150 rekening mata uang digital kepunyaan orang-orang Hamas.

Seorang bocah Palestina meminta uang kepada pengendara lewat di sebuah jalan di utara Israel. (Channel 12)

Makin banyak anak Palestina dijadikan pengemis di Israel

Kalau tidak ada kerjasama serius antara Palestina dan Israel, bakal makin banyak anak Palestina dieksploitasi buat menjadi pengemis jalanan di negara Bintang Daud itu.





comments powered by Disqus