pelesir

Membayangkan gladiator bertarung

Setelah mengetahui saya dari Indonesia dan muslim, saya gratis masuk ke dalam teater.

27 April 2015 10:56

Setelah mendaki hampir seratus anak tangga, saya tiba di bagian paling atas dari teater Romawi di jantung Ibu Kota Amman Yordania. Puncak berada di bagian tengah ini disebut Dewa dan di sini terdapat bekas kuil kecil peninggalan Kekaisaran Romawi.

Di bagian puncak ini terdapat tiga poster besar keluarga penguasa Yordania. Raja Abdullah tengah memerintah saat ini diapit mendiang Raja Husain (ayah) di sebelah kiri dan Putera Mahkota Pangeran Husain (anak) di sisi kanan.

Dari puncak itu terasa sekali kemegahan teater. Bisa dibayangkan betapa gegap gempitanya ribuan penonton menyaksikan para gladiator saling bertarung atau menonton mereka bertarung dengan singa. Barangkali mirip penonton sepak bola di stadion-stadion Inggris selalu penuh dan kerap antusias menyemangati klub kesayangan mereka.

Suasana kemarin pagi di sekitar teater Romawi masih sepi. Loket tiket belum dibuka. Kawasan ini menjadi akses bebas para pejalan kaki. Untuk masuk ke sana, warga Yordania atau pemilik kartu izin tinggal cuma dikenakan 15 sen dinar, namun orang asing seperti saya mesti membayar satu dinar atau sekitar Rp 18 ribu.

Setelah mengetahui saya dari Indonesia dan muslim, saya gratis masuk ke dalam teater. Begitulah kebiasaan di Timur Tengah. Setelah ditanya asal negara lantas berlanjut dengan agama. Bila Anda muslim sungguh beruntung, mereka langsung tersenyum lebar dan makin ramah.

Bahkan di beberapa negara masih ada pertanyaan lanjutan: sunni atau syiah. Seperti saya alami waktu ke Libanon (2007) dan Jalur Gaza (2012). Sambutan selanjutnya bergantung dari paham mana paling mayoritas di wilayah itu.

Teater Romawi ini dibangun di masa Kaisar Marcus Aurelius, memerintah sejak 169-177. Teater ini mampu menampung sekitar enam ribu penonton duduk di tribun terbagi atas tiga bagian. Tribun paling atas terdiri dari 20 tingkat, bagian tengah (16 tingkat), dan paling bawah (15 tingkat).

Ketinggian antara tempat duduk penonton paling bawah dengan lapangan pertarungan sekitar dua meter. Di sisi kiri dan kanan bagian bawah teater terdapat dua tempat kini dijadikan museum, yakni Museum Dongeng Rakyat dan Museum Tradisi Populer.

Teater ini dibangun menghadap ke arah utara buat menghindari penonton silau saat menyaksikan pertarungan.

Seraya berjalan meninggalkan teater Romawi saya mencoba membayangkan keriuhan terjadi 19 abad silam. Ramai-ramai menonton pertarungan antar gladiator atau gladiator menghadapi binatang buas.

Restoran di Dubai, Uni Emirat Arab. (Gulf Business)

Restoran dan bar di Dubai boleh sajikan makanan dan minuman beralkohol siang selama Ramadan

Kebijakan ini berlaku sejak 2016, namun ketika itu restoran dan bar baru boleh buka setelah matahari terbenam sekitar pukul tujuh malam.

Puteri Nura binti Faisal as-Saud, cicit dari pendiri kerajaan Arab Saudi Raja Abdul Aziz. (Arabian Business)

Puteri Nura, wajah baru industri fesyen di Arab Saudi

Pengaruh Jepang mulai terlihat di Riyadh, di mana gadis-gadis Saudi berabaya gaya kimono.

Bioskop empat dimensi. (Arabian Business)

Bioskop empat dimensi akan beroperasi di Arab Saudi tahun ini

Bakal dibuka di Riyadh dan dua kota lainnya.

Sekeluarga pelancong asing menumpang delman menyusuri kota kuno Petra di Yordania, Kamis, 30 April 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Muslim sekadar jargon

Karena terlanjur sebal, saya terpaksa menerima kembalian sepuluh dinar itu. Dalam hati saya menggerutu, "Sambutan positif karena saya muslim sekadar jargon."





comments powered by Disqus