pelesir

Dua wajah Amman

Menjauh dari Al-Balad, yakni ke daerah Suwaifiyah dan Abdun, kita akan menemukan Amman masa kini. Muda, segar, dan bercahaya.

28 April 2015 11:49

Kusam dan keriput tapi ramai serta hiruk pikuk. Beginilah gambaran kota tua Al-Balad di jantung Ibu Kota Amman, Yordania.

Al-Balad mewakili masa lalu Amman. Bangunan-bangunan tua berhimpitan. Hotel, toko pakaian, restoran, toko buku, toko suvenir, toko perhiasan dan jam tangan, toko minyak wangi, agen perjalanan, kios hummus, kios jus, kios buah, dan sebagian kecil kantor berebut rezeki.

Bangunan flat juga bergandengan. Dinding mereka sebagian sudah robek. Bahkan kadang jemuran pakaian terlihat dari jalan, persis seperti di Ibu Kota Kairo, Mesir.

Saat matahari pagi mulai mencorong, jalan-jalan segera ramai oleh orang-orang. Banyak sekali orang memilih berjalan kaki untuk sampai ke tempat mereka berkegiatan walau berjarak dua kilometer. Memang tidak terasa lantaran banyak yang dilihat selain trotoar di Al-Balad lebar dan nyaman untuk pejalan kaki. Tidak ada pedagang asongan atau pangkalan ojek sepeda motor merampas trotoar.

Meski begitu, arus lalu lintas juga bising. Di Amman hanya terdapat dua jenis transportasi: bus dan taksi. Bus-bus berseliweran dengan kondisi seadanya, masih jauh lebih baik dan beragam bus beroperasi di Jakarta. Paling banyak adalah taksi - cuma satu warna kuning - bertarif paling tidak 1 dinar atau sekitar Rp 18 ribu.

Bukan sekadar masa lalu Amman, Al-Balad bahkan mewakili usia jauh lebih renta. Di sini terdapat Teater Romawi, Citadel, dan Gua Al-Kahfi berumur ribuan tahun.

Meski tua, keriput, dan kusam, Al-Balad hidup hingga larut malam. Roda perekonomian berjalan di daerah ini. Mulai beranjak sore trotoar kian penuh oleh orang berseliweran.

Masa lalu ini pula menjadi daya tarik pelancong asing. Mudah sekali menemukan turis bule, Arab, dan Asia berseliweran di sekitar Al-Balad.

Menjauh dari Al-Balad, yakni ke daerah Suwaifiyah dan Abdun, kita akan menemukan Amman masa kini. Muda, segar, dan bercahaya. "Di sini daerah elite," kata seorang warga Indonesia telah lama menetap di Amman.

Bangunan perkantoran dan permukimannya enak dilihat. Mobil-mobil terparkir di pinggir jalan mulus dan mengkilap. Kebanyakan bermerek, seperti Range Rover, BMW, dan Mercedes Benz. Ada saja satu atau dua pengendara motor besar berpacu dengan suara knalpot terdengar gagah.

Bahkan tidak jauh dari kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia di kawasan Suwaifiyah terdapat kediaman milik Raghad dan Rania, dua putri mendiang Presiden Irak terguling Saddam Husain. "Rumahnya dijaga tentara," ujarnya.

Secara umum Amman adalah kota modern dan tidak menutup diri dari pengaruh luar. "Tapi jangan coba-coba omong politik di sini, sensitif," tutur seorang sumber kepada Albalad.co.

Orang Yordania amat menjaga penampilan tanpa peduli status sosial. Meski sekadar penjaga toko atau tukang mengantar makanan, mereka tetap tampil ciamik: rambut basah dan kelimis, celana jins dipadu kaus dan dibalut jaket. Juga minyak wangi mencolok lubang hidung. Bedanya cuma merek dan harga barang dipakai.

Restoran di Dubai, Uni Emirat Arab. (Gulf Business)

Restoran dan bar di Dubai boleh sajikan makanan dan minuman beralkohol siang selama Ramadan

Kebijakan ini berlaku sejak 2016, namun ketika itu restoran dan bar baru boleh buka setelah matahari terbenam sekitar pukul tujuh malam.

Puteri Nura binti Faisal as-Saud, cicit dari pendiri kerajaan Arab Saudi Raja Abdul Aziz. (Arabian Business)

Puteri Nura, wajah baru industri fesyen di Arab Saudi

Pengaruh Jepang mulai terlihat di Riyadh, di mana gadis-gadis Saudi berabaya gaya kimono.

Bioskop empat dimensi. (Arabian Business)

Bioskop empat dimensi akan beroperasi di Arab Saudi tahun ini

Bakal dibuka di Riyadh dan dua kota lainnya.

Sekeluarga pelancong asing menumpang delman menyusuri kota kuno Petra di Yordania, Kamis, 30 April 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Muslim sekadar jargon

Karena terlanjur sebal, saya terpaksa menerima kembalian sepuluh dinar itu. Dalam hati saya menggerutu, "Sambutan positif karena saya muslim sekadar jargon."





comments powered by Disqus