pelesir

Bertandang ke gua Ashabul Kahfi

Hanya satu kuburan masih bisa terlihat sisa tulang lewat kaca kecil.

29 April 2015 07:04

Ada banyak versi soal lokasi gua tempat tujuh orang plus satu anjing dicabut nyawanya dan hidup lagi 309 tahun kemudian. Ada yang bilang di Turki, yang lain menyebut di dekat Ibu Kota Amman, Yordania.

Kaum muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, Cina, meyakini gua itu terletak di wilayah mereka bernama Turpan. Sebagian orang percaya gua Ashabul Kahfi ada di Tunisia, sisanya mengatakan di Aljazair.

Tapi kemarin saya bertandang ke gua Ashabul Kahfi di Yordania, sekitar setengah jam perjalanan bermobil dari Amman. Pintu masuk gua tidak sampai dua meter dan selebar dua orang dewasa.

Ketika saya tiba di sana pintu gua terkunci. Sekitar lima menit kemudian imam masjid, terletak tidak jauh di atas gua, datang membukakan pintu besi penutup gua berwarna coklat tua. Saya bersama empat pelancong lokal segera masuk ke dalam.

Keadaan dalam gua rapih terurus. Tidak ada sarang laba-laba apalagi sampah. Gua ini berukuran sekitar sembilan meter persegi. Di dalamnya terdapat tujuh kuburan berlapis batu. Hanya satu kuburan masih bisa terlihat sisa tulang lewat kaca kecil.

"Di sini ada tujuh kuburan," kata sang imam seraya menunjuk satu-satu makam kepada para pelancong. Di sebelah kiri pintu masuk tiga makam dan sisanya di sebelah kanan. Dia bercerita sinar matahari masuk di bagian belakang karena lubang di atas gua

Banyak orang meyakini kisah Ashabul Kahfi ini. Saking tersohornya, kisah tidurnya tujuh lelaki bersama seekor anjing itu dimuat dalam Al-Quran dengan nama surat Al-Kahfi, berarti gua.

Penulis kitab Fadhailul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300) mengetengahkan suatu riwayat dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Kisah ini berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surat Al-Kahfi. Tapi kalau ditulis semua di sini kepanjangan.

Singkat cerita, riwayat Ashabul Kahfi terjadi di Kota Aphesus, Kerajaan Romawi.  Setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus atau Tarse (sekarang terletak di wilayah Turki).

Setelah raja mereka baik meninggal, Raja Persia bernama Diqyanius mencaplok Aphesus dan menjadikan sebagai ibu kota kerajaan. Dia lantas membangun istana di sana. Saking congkaknya, raja ini mengaku Tuhan dan memerintahkan seluruh rakyat dan pejabat kerajaan menyembah dirinya. Siapa menolak dibunuh.

Rupanya yang menentang adalah enam pembantu setianya. Mereka selalu menjadi teman berdiskusi raja dalam segala urusan. Tiap kali raja duduk di singgasana masing-masing tiga penasihat ini berdiri di kanan dan kiri raja. Di sebelah kanan bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Sedangkan di sisi kiri adalah Martelius, Casitius dan Sidemius.

Hingga suatu hari Tamlikha mulai berdebat sendiri siapa sebenarnya Tuhan sejati. Dia lantas mengajak kelima rekannya untuk kabur karena tidak percaya Raja Diqyanius adalah Tuhan.

Sampai akhirnya mereka bertemu seorang penggembala dan anjingnya bernama Qithmir. Mereka lantas bersembunyi dalam sebuah gua dan tidur selama 309 tahun. Ketika terbangun, Tamlikha diutus teman-temannya pergi membeli makanan mendapati suasana Aphesus berubah total. Rajanya baru dan beriman kepada Allah.

Surat keputusan dari Departemen Kontrol Perbatasan Israel melarang pelancong asal Indonesia berkunjung ke Israel. (Albalad.co)

Israel cabut larangan berkunjung bagi warga Indonesia

Pembatalan ini bersifat sementara, berlaku selama 7-27 Juni 2018.

Restoran di Dubai, Uni Emirat Arab. (Gulf Business)

Restoran dan bar di Dubai boleh sajikan makanan dan minuman beralkohol siang selama Ramadan

Kebijakan ini berlaku sejak 2016, namun ketika itu restoran dan bar baru boleh buka setelah matahari terbenam sekitar pukul tujuh malam.

Puteri Nura binti Faisal as-Saud, cicit dari pendiri kerajaan Arab Saudi Raja Abdul Aziz. (Arabian Business)

Puteri Nura, wajah baru industri fesyen di Arab Saudi

Pengaruh Jepang mulai terlihat di Riyadh, di mana gadis-gadis Saudi berabaya gaya kimono.

Sekeluarga pelancong asing menumpang delman menyusuri kota kuno Petra di Yordania, Kamis, 30 April 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Muslim sekadar jargon

Karena terlanjur sebal, saya terpaksa menerima kembalian sepuluh dinar itu. Dalam hati saya menggerutu, "Sambutan positif karena saya muslim sekadar jargon."





comments powered by Disqus