pelesir

Ubah wajah Makkah

Sepanjang sejarah Islam, tidak pernah ada penguasa mendirikan bangunan sedempet itu dengan Kabah. Tentu saja tidak ada yang lancang membangun segala hal buat mengerdilkan kiblat umat Islam itu.

11 Juni 2016 22:49

Dulu orang pergi ke Makkah untuk berhaji butuh berbulan-bulan. Ada yang datang berjalan kaki, naik unta, gerobak keledai, atau kapal laut.

Tapi kini perjalanan untuk berumrah atau berhaji ke tanah suci lebih menghemat waktu dengan perkembangan angkutan udara. Berumrah atau berhaji sekarang menjadi hal biasa, bukan lagi sesuatu yang istimewa.

Tahun lalu tiga juta orang tumplek di Makkah dan Madinah untuk berhaji, Lima juta lainnya berumrah. Dan jutaan warga negara Arab Saudi rutin mengunjungi Makkah sebagai pelancong.

Fotografer Italia Luca Locatelli, masuk Islam setelah menikah dengan perempuan Indonesia, tahun ini ke Makkah buat berumrah. Dia memotret perubahan drastis atas kota suci itu buat melayani jamaah umrah dan haji kian bertambah.

Hingga pertengahan pertama abad ke-20, Makkah adalah kota mungil berisi rumah-rumah batu berukuran luas terkenal dengan masyrabiyah atau jendela berteralis dan balkon. Lima bukit dikenal dengan sebutan Pelek Makkah mengelilingi Masjid Al-Haram dan Kabah berlokasi di pusat kota.

Sekarang para jamaah hanya akan mengenali kubah-kubah Masjid Al-Haram peninggalan Kesultanan Usmaniyah, menara-menaranya, dan Kabah dari foto-foto usang Makkah. Bukit-bukit kuno, rumah-rumah tua dari batu, dan banyak situs bersejarah terkait dengan kehidupan Nabi Muhammad sudah lenyap digantikan oleh menara-menara pusat belanja, hotel, dan blok-blok apartemen.

Perubahan ini sudah berlangsung sejak akhir 1970-an, ketika kekayaan melimpah dari minyak membikin rezim Bani Saud berkuasa di Arab Saudi - dulunya memberontak terhadap Kesultanan Usmaniyah - berambisi menggantikan seluruh peninggalan Kesultanan Usmaniyah dan buat memperluas Masjid Al-Haram serta wilayah sekitarnya dengan arsitektur bergaya Arab.

Dengan perkiraan dana US$ 26,6 miliar, perusahaan konstruksi Saudi Binladin Group - kini tengah dililit krisis keuangan - memimpin proyek perluasan Masjid Al-Haram, dengan menambah sayap-sayap bangunan baru, areal salat, eskalator, dan ratusan kamar mandi.

Sebelum meninggal tahun lalu, Raja Abdullah bin Abdul Aziz telah memerintahkan pemasangan payung-payung elektrik terbesar di dunia di pelataran Masjid Al-Haram, buat melindungi jamaah dari sengatan matahari. Penerusnya, Raja Salman bin Abdul Aziz, berencana membangun sebuah jalan lingkar luar, kereta bawah tanah, dan kereta antar kota untuk melayani jutaan jamaah.

Salah satu foto hasil jepretan Locatelli terlihat seperti diambil dari udara, namun sebenarnya difoto dari salah satu titik tertinggi di Menara Jam Makkah, sebuah kompleks hotel dan pusat belanja berjarak hanya beberapa ratus meter saja dari Masjid Al-Haram. Menara Jam Makkah ini 46 kali lebih jangkung ketimbang Kabah dengan sebuah jam besarnya lima kali jam raksasa Big Ben di Ibu Kota London, Inggris.  

Sepanjang sejarah Islam, tidak pernah ada penguasa mendirikan bangunan sedempet itu dengan Kabah. Tentu saja tidak ada yang lancang membangun segala hal buat mengerdilkan kiblat umat Islam itu.

Di hotel-hotel mewah, seperti the Fairmont Makkah Clock Royal Tower dan the Raffles Makkah Palace, mereka memasarkan kamar berlatar Masjid Al-Haram dan kabah buat menggaet tamu. Harga kamar standar di dua hotel ini selama musim haji antara US$ 1.500 sampai US$ 2.700 semalam.

Jadinya seperti inilah suasana Makkah: para jamaah melahap makanan di sebuah pusat jajanan, seorang pemuda berfoto selfie berlatar Kabah, dan ratusan orang salat dalam sebuah mal.

"Saya ingin menunjukkan kepada orang-orang Barat, menjadi pelancong di Makkah tidak jauh berbeda," kata Locatelli. "Sama halnya ketika kita pelesiran ke sebuah candi, Santo Petrus, atau ke Makkah."

Makkah memang telah bersalin rupa. Dia bukan lagi kota biasa, namun sudah menjelma menjadi kota megapolitan. Bahkan pihak Barat menyindir Makkah sudah seperti Las Vegas atau Manhattan.

Dalam wawancara khusus dengan Albalad.co menjelang malam pergantian tahun 2015, Dr Irfan al-Alawi, Direktur Eksekutif the Islamic Heritage Research Foundation, berkantor di London, mengakui Makkah sudah rusak karena modernisasi. Sejarawan kelahiran dan besar di Makkah ini bilang 98 persen situs Islam bersejarah di kota itu sudah dihancurkan.

"Memang sudah terlambat buat menyelamatkan Makkah tapi kita masih ada peluang buat melindungi Madinah," katanya. "Kita harus bertindak sekarang untuk menyelamatkan Madinah lantaran proyek perluasan di Madinah akan segera dimulai."

Makkah memang kota suci, namun bagi sebagian orang Makkah tidak lagi sakral karena wajahnya telah diubah.

Ali Ahmad al-Mulla menjadi muazin Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi, sejak 1975. (Screengrab)

Berkenalan dengan muazin Masjid Al-Haram

Ali Ahmad al-Mulla menjadi muazin Masjid Al-Haram sejak 1975.

Syekh Saud asy-Syuraim, imam Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi. (Middle East Monitor)

Arab Saudi tutup akun Twitter milik imam Masjid Al-Haram

Syekh Saud berkali-kali berkomentar mengenai kebijakan sosial dan politik di Arab Saudi dia anggap berlawanan dengan ajaran Islam.

Mukhtar Alim Syaqdar, penulis kaligrafi di kain penututp Kabah. (Saudi Gazette)

Penulis kaligrafi di kain penutup Kabah

Syaqdar memperkenalkan gagasan untuk menggunakan komputer dalam mencetak kaligrafi.

Pasar dekat Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi. (Arab News)

Pedagang di Makkah dilarang jual suvenir Kabah, Maqam Ibrahim, dan Masjid Al-Haram

Penjualan suvenir bergambar Kabah, Maqam Ibrahim, atau Masjid Al-Haram merupakan penghinaan terhadap kesakralan tempat suci tersebut.





comments powered by Disqus