pelesir

Klub malam bebas alkohol marak di Turki

"Saya pikir pertumbuhan tempat-tempat hiburan non-alkohol di Turki merupakan hasil dari terbelahnya masyarakat antara kalangan sekuler dan islami," ujarnya.

17 November 2016 10:55

Klub-klub malam dan bar bergaya Barat tapi bebas minuman beralkohol di Turki kini mulai bermunculan. Semua ini demi memenuhi tuntutan kaum muslim tajir di negara itu: ingin bergaya hidup modern tanpa melanggar ajaran Islam.

Huqqa adalah salah satu klub malam favorit bagi muslim saleh di Turki. Berlokasi di Distrik Kurucesme di Kota Istanbul dan dekat dengan Selat Bosphorus, kaum muslim ingin menghabiskan malam tidak perlu khawatir bakal pulang dalam keadaan teler berat karena di sini tidak disediakan minuman beralkohol.

Klub malam ini beroperasi sejak tiga tahun lalu dengan slogan tempat trendi bagi muslim konservatif. Waktu buka mulai pukul sepuluh pagi hingga jam empat sore di hari kerja dan jam sembilan pagi sampai pukul empat subuh di akhir pekan. Saban Kamis, Jumat, dan Sabtu ada pemandu musik beraksi.

Selain di Istanbul, Huqqa juga memiliki cabang di Ibu Kota Ankara dan kawasan wisata pantai elite Bodrum. Jangan kaget bila di halaman parkirnya tampak mobil-mobil supermewah, seperti Ferrari.

Ratusan menu disajikan melalui layar iPad bersertifikat halal dengan minuman tanpa khamr. Menurut kepala korporat Huqqa, Efe Dogan, Huqqa di Istanbul saban hari kebanjiran sekitar 1,500 pengunjung, 55 persennya kaum hawa dan 40 persen lainnya pelancong, kebanyakan dari negara-negara Arab.

Mulanya, menurut Dogan, sebagian kaum sekuler mengkritik Huqqa karena tidak menyajikan minuman beralkohol. "Sehabis itu mengejutkan, banyak orang-orang sekuler tadinya mengkritik malah menjadi pelanggan karena mereka senang dengan kualitas layanan kami," katanya kepada Al-Arabiya.

Restoran sisha Al-Fakhir juga sejenis dengan Huqqa, merupakan tempat nongkrong kegemaran kaum muslim saleh di Turki. Lalu ada Sazeli, restoran dan kafe juga bebas khamr.

Asisten peneliti bernama Ayse Nazli Oruc mempunyai pandangan berbeda soal menjamurnya klub malam dan kafe bebas alkohol di negara Bosphorus itu. "Saya pikir pertumbuhan tempat-tempat hiburan non-alkohol di Turki merupakan hasil dari terbelahnya masyarakat antara kalangan sekuler dan islami," ujarnya.

Hasan Husain Aygul mengamini. Dia bilang fenomena ini sudah ada sejak 1980-an di mana ada ruang pemisah antara lelaki dan perempuan bukan muhrim di hotel, pusat belanja, restoran, dan tempat-tempat hiburan islami. "Ini mampu memelihara jarak fisik dan mental antara kaum sekuler dan islami dalam masyarakat Turki," tuturnya.

Alhasil, kalau ingin menikmati malam di Istanbul tanpa takut ingin mencoba khamr, Huqqa pilihan terbaik.

Aplikasi Absyir membuat lelaki Arab Saudi dapat mengontrol pergerakan muhrimnya. (Twitter)

Lelaki Saudi bisa mengontrol muhrimnya lewat aplikasi Absyir

Lewat Absyir, pria Saudi bisa menentukan ke negara mana dan kapan muhrimnya bisa terbang serta pulang.

Penyanyi kondang dunia Mariah Carey tampil dalam konser perdananya pada Kamis malam, 31 Januari 2019, di King Abdullah Economic City, Arab Saudi. (Arab News)

Mariah Carey jadi artis perempuan internasional pertama konser di Arab Saudi

"Saya sangat girang melihat kalian semua berkumpul malam ini (Kamis malam)," kata Mariah dengan gaun hitam ketat hingga mata kaki.

Penyanyi kondang asal Amerika Serikat Mariah Carey. (Saudi Gazette)

Mariah Carey tampil di Arab Saudi pekan depan

Saudi akan menggelontorkan anggaran US$ 64 miliar buat membangun fasilitas hiburan.

Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz dan cucunya, Pangeran Abdul Aziz bin Khalid bin Salman. (Al-Arabiya/Supplied)

Raja Salman izinkan musik dan lagu dimainkan di restoran

Sebagian ulama Wahabi masih mengharamkan musik dan lagu.





comments powered by Disqus