pelesir

Pedagang di Makkah dilarang jual suvenir Kabah, Maqam Ibrahim, dan Masjid Al-Haram

Penjualan suvenir bergambar Kabah, Maqam Ibrahim, atau Masjid Al-Haram merupakan penghinaan terhadap kesakralan tempat suci tersebut.

11 Januari 2018 22:21

Kementerian Perdagangan dan Investasi Arab Saudi telah melarang para pedagang di Kota Makkah untuk menjual beragam suvenir menggambarkan Kabah, Maqam Ibrahim, dan Masjid Al-Haram.

Msnurut seorang sumber dalam kementerian itu, inspkesi sudah dilakukan oleh tim dan mereka telah menyita berbagai suvenir menggambarkan Kabah, Maqam Ibrahim, dan masjid Al-Haram. Para pedagang sudah diperingatkan untuk tidak menjual suvenir semacam itu dan yang melanggar bisa dikenai sanksi.

Profesor Hukum Islam Ali at-Tawaim bilang kepada Arab News, penjualan suvenir bergambar Kabah, Maqam Ibrahim, atau Masjid Al-Haram merupakan penghinaan terhadap kesakralan tempat suci tersebut. Dia menilai itu praktek keliru.

Bagai para jamaah umrah dan haji, suvenir mengenai Makkah dicari sebagai oleh-oleh dan kenangan dari perjalanan ibadah mereka ke kota suci itu.

Syekh Bandar Abdul Aziz Balila, imam Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi. (Twitter)

Arab Saudi tangkap satu lagi imam Masjid Al-Haram

Alhasil, sudah dua imam Masjid Al-Haram ditahan setelah Syekh Dr. Saleh bin Muhammad at-Talib dibekuk bulan lalu.

Imam Masjid Al-Haram Syekh Faisal bin Jamil al-Ghazawi. (Twitter)

Satu lagi imam Masjid Al-Haram dilarang berdakwah

Sudah dua imam Masjid Al-Haram dilarang berdakwah dan satu lagi ditahan.

Syekh Khalid bin Ali al-Ghamdi, salah satu imam Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi. (Twitter)

Arab Saudi larang imam Masjid Al-Haram berdakwah

Arab Saudi bulan lalu menangkap Syekh Dr. Saleh bin Muhammad at-Talib, juga salah satu imam Masjid Al-Haram.

Syekh Dr. Saleh bin Muhammad at-Talib, imam Masjid Al-Haram di Kota Makkah, Arab Saudi. (Twitter)

MUI kutuk penangkapan imam Masjid Al-Haram

"Tidak sedikit ulama atau tokoh menghindar untuk menyuarakan kebenaran ini karena takut menerima risiko," ujar Muhyiddin.





comments powered by Disqus