opini

Islam, Palestina, dan komoditas politik Erdogan

Erdogan juga meletakkan karangan bunga di Yad Vashem (museum peringatan Holocaust) dan menziarahi kubur Theodore Herzl, penggagas gerakan Zionis.

15 Agustus 2020 03:02

Sebagai politikus ulung, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pintar menggaet sokongan. Dia mampu memainkan emosi umat Islam dan Palestina sekaligus.

Setelah keluar pengumuman tercapainya perjanjian damai antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel Kamis lalu, Erdogan - menjabat perdana menteri selama 2003 hingga 2014 dan menjadi presiden sedari 2014 - langsung berkoar akan membekukan hubungan diplomatik dengan UEA. Dia menuding negara Arab Teluk itu mengkhianati perjuangan bangsa Palestina.

Pemimpin berumur 66 tahun ini seolah pura-pura lupa Turki adalah negara berpenduduk mayoritas muslim pertama mengakui eksistensi Israel, setahun setelah negara Zionis itu dibentuk. Erdogan sepertinya ingin menghapus memori sejarah: dirinya pernah mengunjungi Israel pada 2005.

Dalam lawatan resmi selama dua hari itu, Erdogan bertemu Presiden Moshe Katsav dan Perdana Menteri Ariel Sharon, dikenal sebagai Penjagal Beirut lantaran memerintahkan pasukan Israel membantai warga Palestina di kamp Sabra dan Shatilla. Dia juga meletakkan karangan bunga Yad Vashem (museum peringatan Holocaust) dan menziarahi kubur Theodore Herzl, penggagas gerakan Zionis.

Alhasil, gertakan Erdogan ini mirip retorika politik. Menuduh UEA pengkhianat namun dirinya sendiri masih memelihara hubungan diplomatik dengan Israel. Memang pada Desember 2017, Erdogan mengancam memutus hubungan diplomatik dengan Israel setelah Trump mengakui Yerusalem ibu kota negara Bintang Daud itu, namun ancamannya tidak jadi dilaksanakan.

Manuver politik Erdogan itu untuk menutupi pamornya sudah anjlok dan tercoreng. Dia menentang kesepakatan UEA dengan penjajah Palestina itu ketika Turki masih menginvasi wilayah kedaulatan Suriah. Dia kerap mengutuk kebiadaban Israel terhadap rakyat Palestina padahal dirinya masih memerintahkan pembantaian etnis Kurdi.

Erdogan seperti mengklaim dirinya penerus Kekhalifahan Usmaniyah. Visi islamis Erdogan membikin dirinya agresif dan arogan. Erdogan ingin merebut kembali posisi pemimpin dunia Islam dari Arab Saudi. Padahal kenyataannya, kedua negara ini sama-sama memecah belah kaum muslim lantaran intervensi mereka di berbagai konflik di negara muslim, termasuk Libya dan Suriah.

Agar populer di kalangan umat Islam sejagat, bulan lalu Erdogan mengubah Museum Hagia Sophia di Kota Istanbul, menjadi masjid lagi. Di kota ini pula citranya sudah melorot, partai dia pimpin, AKP kalah dua kali dalam pemilihan wali kota tahun lalu meski diulang kembali. Dia juga dicap otoriter karena getol menangkapi para pengkritiknya: wartawan dan aktivis.

Akhirnya kian terang benderang, Islam dan Palestina sekadar komoditas politik bagi Erdogan agar langgeng berkuasa. 

 

Istana kepresidenan Turki di Ibu Kota Ankara. (Wikimedia Commons)

Tagihan listrik di istana Erdogan sebesar Rp 102,7 juta sehari

"Rakyat sudah muak melihat keangkuhanmu," kata pemimpin oposisi Kemal Kilicdaroglu.

Sokongan untuk Taliban demi stabilitas Afghanistan

Tanpa sokongan komunitas global, Afghanistan akan menjadi medan jihad baru.

Biarkan Taliban berkuasa dan Afghanistan berdaulat

Nihil intervensi asing inilah akan membuat Taliban leluasa bekerja untuk membuktikan komitmen mereka: Afghanistan ramah dan bersahabat meski di bawah kendali Taliban.  

Belajar menerima Taliban

Perubahan ini perlu dan sudah dilakukan Taliban agar bisa melanggengkan kekuasaan: mendapat simpati dan dukungan rakyat Afghanistan serta memperoleh legitimasi internasional. 





comments powered by Disqus