opini

Perlukah Indonesia berdamai dengan Israel?

Sapri Sale, penulis kamus Indonesia Ibrani dan Ibrani-Indonesia pertama, berkontribusi untuk menjembatani warga Indonesia dan Israel ingin mengetahui kehidupan masing-masing negara lewat bahasa.

19 Agustus 2020 07:38

Kamis malam pekan lalu, dalam hitungan menit sehabis Presiden Amerika Serikat Donlad Trump mengumumkan peristiwa bersejarah melalui akun Twitternya - tercapai perjanjian damai antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel - saya menerima pesan WhatsApp dari dua pihak berlawanan.

Teman-teman saya orang Yahudi asal Israel bersorak menyambut keberanian UEA menjadi negara berpenduduk mayoritas muslim keempat mengakui eksistensi negara Zionis itu setelah Turki, Mesir dan Yordania. Salah satunya dari Steve Stein, perintis hubungan dagang Israel-Indonesia sekaligus teman dekat mendiang Presiden Abdurrahman Wahid. Dia sudah menjalin relasi dengan pengusaha dan tokoh di Indonesia sejak 1992.

Dia juga aktif sebagai aktivis kemanusiaan Israel-Indonesia. Dia menjadi koordinator pengiriman bantuan kemanusiaan sebanyak 75 ton dari rakyat Israel bagi korban tsunami di Aceh pada 2004. Dia pula membantu mengurus seorang bocah Indonesia penderita kelainan jantung menjalani operasi dan perawatan selama enam bulan Israel hingga sembuh dan hidup normal sampai sekarang.

Stein bilang sudah saatnya Indonesia menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Sebab dia meyakini hal itu sangat menguntungkan bagi kedua negara.

Sila baca: Pengusaha Israel: Sudah saatnya Indonesia buka hubungan diplomatik dengan Israel

Pesan kedua saya terima dari Rabbi David Rosen, Direktur Urusan Antar Agama di AJC (Komite Yahudi-Amerika), lembaga lobi pro-Yahudi dan Israel. Dia adalah rabbi pertama diundang oleh Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke istananya di Ibu Kota Riyadh.

Sila baca: Raja Salman undang rabbi ke istana buat pertama kali

Pesan WhatsApp lainnya saya dapatkan dari sejumlah sahabat saya di Hamas, kelompok pejuang Palestina berbasis di Jalur Gaza. Mereka murka dan merasa telah dikhianati. Sebagai respon atas kesepakatan damai UEA-Israel itu, Hamas dan kelompok pejuang Palestina lainnya meningkatkan serangan ke wilayah Israel, roket, peluru kendali, dan balon berisi bahan peledak.

Tindakan berani UEA itu menunjukkan Timur Tengah khususnya dan negara-negara berpenduduk mahyoritas muslim telah berubah. Palestina bukan lagi kepentingan nasional mereka sehingga tidak pantas diperjuangkan seperti dulu: gigih dan lantang.

Perjanjian normalisasi hubungan UEA-Israel juga menunjukkan dunia Islam sudah menyerah buat memerdekakan Palestina. Solidaritas juga tidak tampak, termasuk di Indonesia. Tidak ada demosntrasi besar-besaran menentang hal itu seperti ketika Presiden Trump mendeklarasikan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel di awal Desember 2017. Pandemi Covid-19 kian menegaskan wabah penyakit, senjata pemusnah massal lebih mengancam peradaban manusia dan ini jauh lebih darurat buat dihadapi bareng-bareng ketimbang isu Palestina.

Bahkan sudah ada antrean negara muslim ingin berdamai dengan Israel: Bahrain, Oman, Sudan, Chad, Arab Saudi, dan Maroko. Kalau negara-negara muslim sudah menjalin hubungan gelap dengan Israel tidak malu-malu lagi, seperti Indonesia, tentu antrean makin bertambah panjang.

Sila baca: Antre berdamai dengan Israel

Jadi apakah perlu Indonesia berdamai sekaligus mengakui eksistensi Israel? Kalau dilihat dari sudut kepentingan, Indonesia memang membutuhkan negara Zionis itu dalam hal politik, investasi, perdagangan, pendidikan, teknologi informasi dan komunikasi, intelijen, keamanan, pertanian, dan air.

Sejak 2014, seorang pengusaha Indonesia bekerjasama dengan Arava International Center for Agricultural Training (AICAT) untuk belajar dan praktek lapangan mengenai pertanian lahan kering. Perode ini saja, 2019-2020, terdapat 81 mahasiswa Indonesia belajar ke sana.

Sila baca:

81 mahasiswa Indonesia tengah belajar sekaligus bekerja di pertanian Israel

Teknologi pertanian Israel bisa diterapkan di Indonesia

Hubungan wisata melalui kunjungan ke Yerusalem (Masjid Al-Aqsa) juga sudah lama berlangsung. Biasanya dilakukan kaum muslim setelah umrah atau peziarah Nasrani. Jangan lupa, izin masuk ke Tepi Barat melalui Ibu Kota Amman Yordania, adalah memakai visa Israel dan bukan Palestina. Bahkan Presiden Mahmud Abbas saja baru bisa keluar dari sana jika mendapat izin dari negara Bintang Daud itu.

Relasi budaya dengan Israel sudah terjalin dalam beberapa tahun belakangan. Sapri Sale, penulis kamus Indonesia Ibrani dan Ibrani-Indonesia pertama serta pengajar Ibrani pertama di Indonesia, berkontribusi untuk menjembatani warga Indonesia dan Israel ingin mengetahui kehidupan masing-masing negara lewat bahasa.

Sila baca: Saya ingin orang Indonesia bisa belajar bahasa Ibrani

Juga ada nama Profesor Ronit Ricci dari Universitas Hebrew di Yerusalem. Dia adalah satu-satu pengajar bahasa Indonesia di Israel. Kemudian juga Roy Grant, pembuat sekaligus pedagang tempe satu-satunya di Israel.

Sila baca:

Saya ingin mengenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada masyarakat Israel

I am the only producer of tempe in Israel

Tentu saja tidak mudah mendambakan Indonesia-Israel membina hubungan diplomatik. Perlu keberanian dari pemimpin dan elite-elite politik. Sebab ganjalannya sangat besar. Menjalin relasi resmi dengan negeri Yahudi itu sama saja melanggar pembukaan Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Belum lagi umat Islam mayoritas di tanah air. Semua ini hanya akan memicu ketidakstabilan politik dan keamanan.

Alhasil, jangan berharap dukungan Indonesia selama ini dapat menolong bangsa Palestina meraih mimpinya: memiliki negara merdeka dan berdaulat dengan ibu kota Yerusalem Timur dan wilayah Jalur Gaza serta seluruh Tepi Barat. Ibarat bermain sepak bola, diplomasi dan sokongan Indonesia terhadap Palestina seperti bermain bola setengah lapangan atau di wilayah sendiri saja. Jadi tidak akan pernah menciptakan gol atau tujuan.

Meski begitu, sikap dan posisi Indonesia masih jauh lebih baik ketimbang Turki, Mesir, Yordania, serta negara-negara muslim lainnya ingin berbaikan dengan Israel. Indonesia mempunyai harkat dan martabat karena tidak mau berkhianat dan masih memegang prinsip etika serta moral.

Kemudian pertanyaan yang pas adalah etiskah berdamai dengan Israel? Jawabannya tentu saja tidak. Sebagai negara menjunjung demokrasi dan hak asasi manusia, menjalin relasi dengan negara penjajah adalah tidak etis dan tak bermoral.

 

 

Steve Stein, pengusaha Israel menjadi fasilitator bagi program pelatihan dan beasiswa bagi orang-orang Indonesia ke Israel. (Steve Stein buat Albalad.co)

Pejabat Israel: Kami sangat ingin menormalisasi hubungan dengan Indonesia

Indonesia dan Israel akhir tahun lalu terlibat dalam pembicaraan untuk meningkatkan hubungan ekonomi bilateral secara lebih terbuka.

Sokongan untuk Taliban demi stabilitas Afghanistan

Tanpa sokongan komunitas global, Afghanistan akan menjadi medan jihad baru.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett. (tabletmag.com)

Parlemen Israel akan temui Perdana Menteri Bennett bahas isu relasi dengan Indonesia

Dia mendukung jika kerjasama ekonomi kedua negara dapat dilakukan secara lebih terbuka ketimbang yang berjalan selama ini. 

Menteri Luar Negeri Maroko Nasir Burithah (kanan) mengadakan jumpa pers bersama tamunya, Menteri Luar Negeri Israel Yair Lapid, di Ibu Kota Rabat, 11 Agustus 2021. (Shlomi Amsalem/GPO)

Parlemen Israel dorong pemerintahan Bennett untuk dekati Indonesia

"Kami memiliki banyak teknologi mutakhir dapat bermanfaat bagi Indonesia," ujar Ben Barak. 





comments powered by Disqus