opini

Selamat tinggal Palestina

Palestina harus tahu diri isu Palestina bukan lagi menjadi kepentingan nasional negara-negara muslim.

09 September 2020 07:21

Para pemimpin dan rakyat Palestina tentu sedang galau melihat kenyataan pahit saat ini berlangsung. Negara-negara Arab dan yang berpenduduk mayoritas muslim mulai terang-terangan berhubungan dengan Israel. Tabir hubungan gelap selama ini terjadi bertahun-tahun kian tersingkap setelah bulan lalu Uni Eirat Arab dan Israel mencapai kesepakatan damai, bakal ditindaklanjuti dengan penandatanganan dokumen perjanjian di Gedung Putih Selasa pekan depan.

Bangsa Palestina mesti sadar jauh-jauh hari: mereka tidak boleh terlalu berharap pada dukungan negara-negara Arab dan muslim, tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), dan harus mengandalkan perjuangan sendiri.

Mereka mesti memahami negara-negara Arab dan muslim memiliki kemauan dan kemampuan terbatas untuk mendukung Palestina mencapai angan-angan mereka, yakni memiliki negara berdaulat dengan Ibu Kota Yerusalem Timur dan wilayah sebelum Perang Enam Hari. Sebab negara-negara Arab dan muslim masih mengandalkan Amerika Serikat, merupakan sekutu istimewa Israel, masih mendominasi panggung politik global dalam konteks ekonomi, politik, dan militer.

Yang terjadi sekarang angan-angan bangsa Palestina itu kian mendekati kenyataan: Palestina cuma negara khayalan.

Tidak ada pemimpin dari negara muslim bisa diandalkan buat memerdekakan Palestina. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan - tengah bersaing dengan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz untuk diklaim sebagai pemimpin Islam dunia - juga tidak berdaya. Erdogan boleh saja dielu-elukan menolak bersalaman dengan Perdana Menteri Israel benjamin Netanyahu atau mengkritik komitmen Kosovo membina hubungan diplomatik dengan Israel.

Tapi nyatanya sampai sekarang Turki masih menjalin hubungan resmi dengan negara Zionis itu. Turki bahkan merupakan negara muslim pertama mengakui Israel, setahun setelah negara Bintang Daud itu dibentuk pada 1948.

Raja Salman boleh mengklaim pemelihara Dua Kota Suci, Makkah dan Madinah, tapi Saudi baru-baru ini untuk pertama kali dan secara permanen mengizinkan semua maskapai rute UEA-Israel, termasuk askapai Israel, melewati wilayah udaranya. Bahkan pemimpin de facto Saudi, Putera Mahkota Pangeran Muhammad bin Salman, setidaknya sudah kali mengadakan pembicaraan dengan Netanyahu.

Presiden Joko Widodo, pemimpin dari negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, juga bungkam atas tercapainya perjanjian normalisasi hubungan UEA-Israel. Padahal Jakarta selalu mengklaim Palestina adalah jantung politik luar negeri Indonesia.

Hal ini dapat dimaklumi lantaran Indonesia membutuhkan kerjasama ekonomi dan investasi dari UEA, negara dengan sumber fulus seolah tidak terbatas. Di kuartal kedua tahun ini saja, ketika banyak negara defisit gegara perekonomian global lesu akibat pandemi Covid-19, negara Arab Teluk itu mencatat surplus US$ 2,65 miliar.

Israel tentu saja girang. Meski Arab Saudi dan Indonesia - dua negara menjadi target utama diplomasi Israel - belum menjalin hubungan diplomatik, namun keluwesan dalam menyikapi makin mesranya hubungan Israel dan negara-negara muslim lainnya sudah merupakan pertanda baik.

Meski begitu, Palestina tidak boleh merasa ditinggalkan apalagi menuding negara-negara muslim berkhianat. Palestina harus memahami dunia menghadapi ancaman peradaban manusia bersifat global, seperti pandemi Covid-19, membutuhkan perhatian dan kerjasama seluruh negara. Israel menjadi solusi terbaik dalam mengatasi hal ini.

Newsight Imaging Limited, perusahaan dari Israel, berhasil menciptakan SpectraLIT, alat deteksi Covid lebih mutakhir, gampang digunakan, dan lebih akurat ketimbang tes PCR yang membutuhkan waktu berjam-jam buat mengetahui hasil dengan tingkat akurasi 80 persen. Sedangkan SpectraLIT bisa menunjukkan seseorang terinfeksi Covid-19 atau tidak hanya dalam dua detik dengan tingkat akurasi 95 persen. Itu pun cukup dengan berkumur-kumur sendiri tanpa perlu bantuan tenaga medis.

Tim peneliti dari Migal Galilee Research Institute di Israel, telah berhasil menciptakan vaksin Covid-19 dengan cara ditetskan melalui mulut, bukan disuntik. Vaksin oral ini tentu lebih disukai warga global ketimbang vaksin suntik bikinan Cina, Amerika, Inggris, dan Rusia. Vaksin oral buatan Israel ini dijadwalkan diproduksi massal akhir tahun ini.

Gegara jumlah penderita Covid-19 meningkat, pemimpin Hamas di Jalur Gaza Yahya Sinwar akhirnya bersedia melakoni gencatan senjata dengan Israel karena mereka membutuhkan alat deteksi Covid-19 disalurkan UEA melalui Israel. Keputusan Sinwar ini ditentang oleh Kepala Biro Politik Hamas Ismail haniyah, kini menetap di Doha.

Palestina harus tahu diri isu Palestina bukan lagi menjadi kepentingan nasional negara-negara muslim. Semua penguasa berusaha mempertahankan kekuasaan mereka dan Israel menjadi pilihan terbaik untuk itu. Karena itu wajar banyak penguasa negara muslim menjalin kerjasama pertahanan dan intelijen dengan negeri Yahudi itu.

Sebagai contoh, Arab Saudi, Bahrain, dan UEA adalah konsumen Pegasus, aplikasi perets dan penyadap telepon seluler buatan NSO Group, perusahaan dari Israel. Rezim di tiga negara Arab Teluk itu membutuhkan Pegasus untuk memamata-matai kegiatan para pembangkang baik di dalam dan luar negeri. Mereka taut Revolusi Arab pernah bertiup sejak 2011 tapi berhenti di Suriah bisa menyentuh negara mereka.

Palestina harus memahami Mesir berdamai dengan Israel lewat Perjanjian Camp David untuk memperoleh kembali Semenanjung Sinai. Yordania berjabat tangan dengan Israel pada 1994 supaya tetap bisa mempertahankan hak eksklusif mengelola situs-situs keagamaan Islam dan Nasrani di Yerusalem.

UEA berhubungan dengan Israel karena ingin berperan lebih di kawasan Timur Tengah. Apalagi di bawah kendali Putera Mahkota Abu Dhabi Syekh Muhammad bin Zayid an-Nahyan, UEA sangat agresif melakukan intervensi, termasuk di Yaman dan Libya saat ini. Dengan fulus sangat banyak, UEA memerlukan teknologi Israel untuk ketahanan energi, pertahanan, dan pangan.

Turki juga menikmati keuntungan lantaran berbaikan dengan Israel. Negara itu masuk dalam NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) sehingga riskan kalau diserang.

Meski begitu, Palestina tidak boleh menyetop atau menutup keinginan negara-negara muslim buat memberikan bantuan meski itu terbatas. Setidaknya negara-negara muslim masih memiliki moral karena mau menolong bangsa sedang dijajah oleh Israel.

Pilihan Palestina sejak dulu cuma dua: berunding tapi akan selalu diperdaya oleh Israel dan Amerika. Kalau pilihan yang didukung masyarakat internasional ini diambil, sama saja sebuah kebodohan lantaran mengulangi kegagalan terus berulang.

Opsi kedua adalah terus melakukan perlawanan bersenjata dalam skala terbatas atau luas (perang) walau tidak sebanding dengan kekuatan Israel, namun alternatif ini menjadikan bangsa Palestina bermartabat.

 

Arab Saudi siap berdamai dengan Israel

Bin Salman mesti memutuskan: menormalisasi hubungan dengan Israel sekarang atau menunggu hasil pemilihan presiden di Amerika, itu pun dengan syarat Trump menaklukkan Joe Biden, calon dari Partai Demokrat.

Jangan biarkan Netanyahu jatuh

Kedigdayaan Netanyahu makin kukuh membuktikan tidak ada persatuan dan kesatuan, bahkan ada pengkhianatan dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina

Jika Mandela Orang Palestina

Jika Mandela itu orang Palestina dan berjuang menghadapi rezim Zionis rasis dan diskriminatif. Kenyataan tentu bakal berkata lain.

Toleh Israel lupa Palestina

Mesir dan Yordania menjadi contoh membina hubungan diplomatik dengan Israel menguntungkan terutama terkait relasi dengan Amerika.               





comments powered by Disqus