wawancara

Marwan Barghuti (1)

Penderitaan terberat adalah terpisah dari keluarga

Pemimpin intifadah Marwan Barghuti mendekam di Penjara Hadarim dengan masa hukuman lima kali seumur hidup ditambah 40 tahun.

13 Maret 2015 09:26

Dia kemungkinan besar tidak bakal dibebaskan dari penjara Israel. Negara Zionis ini menganggap lelaki kini berusia 56 tahun itu terlalu berdosa telah menumpahkan darah banyak orang Israel.

Nama lengkapnya Marwan Hasib Ibrahim Barghuti, pemimpin dua intifadah pada 1987 dan 2000. Dia sekarang menghuni sel nomor 28 seksi 3 di Penjara Hadarim, Nataniyah, sekitar enam kilometer dari Tel Aviv. Hukumannya lima kali penjara seumur hidup ditambah 40 tahun.

Kepada Faisal Assegaf dari Albalad.co, ayah empat anak ini bercerita soal konflik berkepanjangan Palestina-Israel. Berikut penuturannya dalam jawaban tertulis disampaikan lewat pengacaranya, Ilyas Sabbagh, 18 November 2007.

Siapa mesti disalahkan atas pemisahan Tepi Barat dan Jalur Gaza?

Hamas bertanggung jawab sepenuhnya atas kejadian di Gaza karena mengakhiri pemerintahan persatuan nasional mereka pimpin. Mereka memutuskan menguasai Gaza dengan cara kekerasan dan membubarkan pemerintahan legal di sana.

Anda masih yakin Hamas dan Fatah bisa didamaikan?

Fatah tak mungkin mengabaikan eksistensi dan pengaruh Hamas seperti halnya Hamas tidak mungkin melecehkan Fatah. Sangat disayangkan Hamas merusak persatuan nasional. Seandainya Hamas mau melepas penguasaannya dan mengembalikan pemerintahan sah di Gaza di bawah kepemimpinan Presiden Mahmud Abbas, itu akan membuka dialog serius dan strategis demi kepentingan nasional.

Menurut Anda, Hamas juga berniat menguasai Tepi Barat?

Saya yakin Fatah masih kuat di Tepi Barat dan pemerintahan nasional tidak akan mentolerir berulangnya kasus Gaza. Semestinya Hamas memfokuskan usahanya menghentikan pendudukan Israel atas Tepi Barat, bukan menguasainya dan mengakhiri pemerintahan nasional dan Fatah.

Sejak Hamas menang pemilu 2006, masyarakat internasional memutuskan bantuan bagi Palestina. Menurut Anda, Hamas menjadi korban standar ganda demokrasi Amerika?

Blokade dipaksakan terhadap bangsa Palestina menyusul kemenangan Hamas adalah suatu kezaliman dan tidak dapat diterima. Ini kebijakan standar ganda. Bangsa Palestina bersatu menentang blokade ini. Pemerintahan persatuan nasional terbentuk atas dasar kompromi nasional dan Kesepakatan Makkah sesungguhnya telah mengawali berakhirnya blokade. Namun ini berhenti sejak Hamas melakukan kudeta di Gaza. Akibatnya, bangsa Palestina harus membayar harga blokade itu, bukan kelompok ini atau pihak lain.

Apa rencana Anda untuk mendamaikan kedua pihak?

Kami tidak akan pernah berhenti berusaha mencapai pesatuan bangsa Palestina, persatuan di Gaza dan di Tepi Barat, serta kembalinya kehidupan demokrasi. Tentu saja berakhirnya dominasi Hamas di Gaza dan kembali ke meja perundingan nasional hendaknya diarahkan pada penentuan waktu pemilu legislatif dan pemilu presiden baru. Saat ini ada upaya-upaya dari berbagai pihak guna meyakinkan Hamas mengenai hal ini.

Apa harapan Anda terhadap Konferensi Annapolis?

Kami berharap digelar suatu muktamar akan mengakhiri pendudukan Israel sudah berlangsung 40 tahun. Menghentikan agresi, kepungan, kesewenangan, kelaparan, penghinaan, pembunuhan, penghancuran, penyitaan tanah, hingga penangkapan tiap hari. Kita mengharapkan terbukanya pintu perdamaian nyata antara kedua bangsa dan munculnya peluang berdirinya negara independen Palestina hidup berdampingan secara damai dengan tetangganya.

Sampai sekarang tampaknya belum ada isyarat menjanjikan. Israel belum mengambil langkah nyata, baik dengan mengakhiri blokade, pos pemeriksaan, atau menghentikan serangkaian penangkapan, pembunuhan, dan melepaskan tahanan jumlahnya sudah sebelas ribu orang. Bahkan ada yang telah mendekam di penjara Israel lebih dari 30 tahun. Kenyataan ini mengindikasikan Israel tidak serius berunding dan tidak berani mengambil keputusan bisa menjadi kenyataan.

Anda takut Abu Mazin (Presiden Palestina Mahmud Abbas) akan memberikan konsesi dalam perundingan itu?

Abu Mazin mempunyai mandat sesuai kesepakatan nasional ditandatangani oleh Hamas dan Fatah bersama sebelas faksi Palestina lainnya untuk berrunding dan berkomitmen terhadap cita-cita nasional. Dan melimpahkan setiap kesepakatan kepada referendum nasional atau voting di Majelis Nasional Palestina. Dalam hal ini Abu Mazin berjanji tetap komitmen pada prinsip-prinsip dasar Palestina.

Anda lelah berkonflik dengan Israel?

Bangsa Palestina tentu saja mengalami penderitaan berat di luar kemampuan manusia biasa. Penderitaan tidak terkira di berbagai bidang. Ekonomi terpuruk, tingkat pengangguran lebih dari 50 persen, kemiskinan melampaui 70 persen, dan puluhan ribu syuhada, luka-luka dan yang masih di tahanan.

Blokade dan tersebarnya 600 pos pemeriksaan militer di dalam wilayah tidak lebih dari lima ribu kilometer persegi. Meski demikian, tidak ada bangsa di bumi ini bisa melepaskan mimpi dan haknya mengenyam kebebasan, kedaulatan, kemerdekaan, dan hidup mulia. Bisa saja suatu partai, organisasi, atau pemimpin akan letih atau menyerah, tetapi suatu bangsa tak mungkin melakukan hal itu.

Bangsa Palestina adalah bangsa legendaris berjuang lebih dari seratus tahun menghadapi satu musuh kuat dan bengis tetapi tetap tegar dan bersikeras mencapai kebebasan, menentukan nasib sendiri, berkukuh mendirikan negara independen Palestina dengan ibu kotanya Al-Quds (Yerusalem).

Anda yakin bakal dibebaskan?

Saya yakin akan bebas dari penjara, cepat atau lambat. Tapi lebih penting adalah bebasnya rakyat Palestina dan derita akibat pendudukan Israel. Kebebasanku raib adalah kebebasan bangsaku, Saya yakin impian ini tidak jauh. Saya akan keluar dari penjara lambat atau cepat.

Menurut Anda, Abbas telah melakukan yang terbaik untuk membebaskan Anda?

Saya yakin Presiden telah mengupayakan pembebasanku dan pembebasan semua tahanan Palestina.

Seberapa besar Anda merindukan keluarga?

Penjara Israel amat menyakitkan sepanjang masa. Kondisi penjara sangat mengenaskan. Aku sangat menderita dalam penjara, terisolir sendirian selama beberapa tahun, interogasi menyakitkan selama beberapa bulan. Kini aku hidup dalam sel seluas 2,5×2,5 meter bersama dua tahanan lainnya.

Penderitaan lebih berat adalah memisahkan seseorang dengan keluarganya. Berpisah dengan keluarga sudah sering kualami, namun kali ini tersulit bagiku. Kerinduan kepada keluarga tak dapat dibayangkan. Meski demikian, aku tahu keluargaku dan keluarga para tahanan lain tetap tegar dan solider dengan kami.

Sulit menemukan keluarga seperti ini. Secara umum, para tahanan hidup tanpa pelayanan kesehatan dan diisolir sendirian. Juga tidak diperkenan menerima kunjungan keluarga dan diinterogasi dalam keadaan telanjang.

Anda menyesal menjadi pejuang Palestina sehingga jauh dari keluarga? Anda berharap anak-anak Anda mengikuti jejak Anda?

Kita semua adalah korban pendudukan Israel zalim. Apa yang kita lakukan sekarang adalah kewajiban terminim dapat dilakukan oleh seorang warga baik. Adalah hal alamiah melihat bangsaku menentang pendudukan Israel. Kita telah belajar dari kehidupan dan telah membayar mahal umur ini demi kemerdekaan bangsa dan negeri.

Dan ini adalah kebanggaan tersendiri. Kami berharap anak-anak kita tidak mengalami penderitaan dan dapat menikmati kemerdekaan dan hak-hak sepenuhnya. Kita berharap mereka hidup dalam suatu negara independen dengan kedaulatan penuh menikmati kebebasan, kedamaian, keamanan, seperti bangsa-bangsa lain.

Aku merasa sedih seorang kader Al Qassam (putra Marwan Barghuti) telah ditahan selama empat tahun dan menjadi teman satu sel selama dua bulan. Dan yang lebih penting adalah melakukan kewajiban terhadap tanah air dan bangsa.

Apa saja kegiatan Anda sehari-hari di penjara?

Aku melewati waktu panjang dengan membaca dan mengaji. Sejumlah buku berbahasa Arab, Inggris, dan Ibrani sudah kulahap. Banyak sekali membaca novel Arab dan internasional. Setiap hari membaca tiga koran berbahasa Ibrani tersedia. Belakangan juga disediakan koran Palestina Al-Quds.

Setiap hari di halaman penjara aku berolah raga dua jam. Selain kegiatan di atas, juga tak lupa mengajar berbagai bahasa asing, sejarah dan politik serta menggelar diskusi dengan kawan-kawan tahanan. Dalam penjara ini terdapat sejumlah tokoh dari berbagai faksi Palestina. Hubungan di antara mereka sangat akrab dan saling menghormati.

Apa peran bisa dimainkan Indonesia dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel?

Sesungguhnya pemerintah Indonesia dapat memainkan peran besar dalam mendukung dan membela bangsa Palestina memperjuangkan kemerdekaan dan mendirikan negaranya. Adalah kewajiban bangsa Indonesia mendukung bangsa Palestina, terlebih lagi Indonesia adalah negara Islam terbesar di dunia dan mempunyai sarana dan kemampuan serta posisi penting di dunia Islam dan internasional.

Image of Marwan Barghuti. (Qassam Barghuti for Albalad.co)

Israel refused anybody to visit Barghuti since the hunger strike launched

"It is not allowed for him to have visitors, from his family, from his lawyer, or from the Red Cross. We don't know his situation, we don't know his health condition," said Qassam Barghuti.

Pasukan Brigade Izzudin al-Qassam, sayap militer Hamas. (abdurrahim khatib/flash 90)

2014 tahun paling berdarah dalam konflik Palestina-Israel

Sepanjang tahun lalu 2.314 warga Palestina terbunuh dan 17.125 cedera. Sedangkan di pihak Israel cuma 85 orang tewas dan 2.629 luka.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal berjalan bareng Presiden Palestina Mahmud Abbas (kiri) dan Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad (tengah). (english.al-akhbar.com)

PLO setuju hentikan kerja sama keamanan dengan Israel

PLO juga serukan boikot terhadap semua produk Israel.

Sergah Palestina rangkul Israel

Bagi rezim militer di Mesir, bersahabat dengan Israel lebih menguntungkan ketimbang menolong Palestina.





comments powered by Disqus