wawancara

Raphael N. Luzon (1)

Saya ingin kembali tinggal di Libya

"Tentu saya ingin menjadi bagian dari Libya dan kembali aktif di tanah air saya."

20 Maret 2015 09:08

Sejak Revolusi 17 Februari meletus di Kota Benghazi, Libya, tokoh oposisi Libya keturunan Yahudi di London, Raphael N. Luzon, terus memantau perkembangan di tanah airnya itu. Kabar menggembirakan itu akhirnya datang juga. Setelah dua basis pertahanan pasukan Muammar al-Qaddafi di Sirte dan Bani Walid jatuh ke tangan pemberontak.

“Saya sangat gembira kapan pun sebuah kediktatoran berakhir,” kata lelaki 57 tahun ini kepada Albalad.co empat tahun lalu.

Luzon bersama orang tuanya terpaksa meninggalkan harta mereka di Benghazi setelah diusir dari Libya pada 1967. Sentimen anti-Yahudi menguat di sana setelah Perang Enam Hari membuat Israel menguasai Tepi Barat dan Jalur Gaza. Delapan kerabatnya (paman dan istri serta enam anaknya) tewas.

Ketika itu dia masih 13 tahun. Setelah tinggal sementara di kamp pengungsi, dia bersama orang tuanya pindah ke Ibu Kota Roma, Italia, dan tinggal di sana 27 tahun. Sejak 1995-2001, dia menetap di Israel. Dia pernah menjadi direktur sebuah rumah sakit jompo di Ibu Kota Tel Aviv, Israel, dan produser senior di stasiun televisi berita Italia, RAI. Kini dia bermukim di Ibu Kota London, Inggris, dan menjadi manajer sebuah perusahaan.

Berikut penututran Raphael Luzon kepada Faisal Assegaf.

Bagaimana perasaan Anda melihat rezim Qaddafi akhirnya berakhir?

Saya sangat gembira kapan pun sebuah kediktatoran berakhir. Sejak kami diusir dari Libya pada 1967, saya selalu memimpikan terjadinya perubahan rezim. Jadi sekarang saya senang itu bisa terjadi.

Anda merasa terkejut?

Tentu saja karena beberapa bulan sebelumnya saya berada di Libya. Saya diundang oleh Qaddafi sebagai tamu kehormatan pada peringatan hari kemerdekaan (tiap 24 Desember). Saya melihat saat itu situasi Libya sangat tenang dan tidak ada tanda-tanda akan terjadi pemberontakan.

Anda mengatakan ditawari posisi di pemerintahan sementara Libya. Bisa jelaskan soal itu?

Dua tokoh oposisi di London datang ke rumah saya dan meminta saya bertarung pada pemilihan umum mendatang (Presiden Dewan Transisi Nasional Mustafa Abdul Jalil telah menetapkan pemilu bakal digelar dalam delapan bulan ke depan). Saya senang karena itu peristiwa bersejarah. Itu bakal menjadi yang pertama kali sebuah negara Arab mengizinkan orang Yahudi ikut dalam pemilu. Di Israel mereka biasa melihat orang-orang Arab ikut pemilu dan parlemen Israel beranggotakan orang-orang Arab dan muslim.

Apakah Anda siap untuk bertarung dalam pemilu nanti?

Jika Libya benar-benar menjadi sebuah negara bebas dan demokratis, tentu saja saya akan menerima permintaan itu.

Apakah Anda berniat pulang ke Libya setelah era Qaddafi berakhir?

Tentu saya ingin menjadi bagian dari Libya dan kembali aktif di tanah air saya.

Apakah Anda percaya orang-orang Yahudi bisa diterima kembali di Libya?

Saya bukan seorang nabi tapi saya berharap Libya menerima kembali orang-orang Yahudi keturunan Libya datang dan tinggal di sana. Jangan lupa, komunitas Yahudi sudah ada di Libya dua ribu tahun, hampir 1.350 tahun sebelum kedatangan bangsa Arab.

Bagaimana Anda menangani masalah harta dan tanah warga Yahudi dirampas setelah Qaddafi berkuasa?

Ini masalah serius. Jika pemerintahan baru Libya sudah terbentuk, kami harus membahas dan merundingkan persoalan itu.

Apakah Anda belum sempat membahas isu itu dengan Qaddafi?

Ya, kami dan tokoh-tokoh Yahudi Libya lainnya sudah berusaha menyelesaikan persoalan ini selama 35 tahun tanpa hasil, hanya janji-janji kosong.

Sejauh ini berapa jumlah orang Yahudi ingin pulang ke Libya?

Saya tidak tahu tapi pastinya beberapa ribu orang. Jumlah orang Yahudi asal Libya di seluruh dunia hampir 120 ribu.

Apakah benar soal selentingan menyebut Qaddafi keturunan Yahudi?

Saya selalu mendengar rumor semacam ini, namun saya tidak tahu benar atau tidak.

The Prime Minister of the East Turkistan Government in Exile Salih Hudayar. (Albalad.co)

Saudi Arabia surrenders to Chinese pressure to detain and deport Uighurs from its soil.

"We are extremely disheartened by the fact that the OIC and its members states have not only been remaining silent on China genocide and persecution of Uyghurs," said Salih Hudayar.

Foto Aisyah bersama suaminya di pelaminan, pemberian seorang pemberontak kepada saya saat berkunjung ke rumah Aisyah di Tripoli, Libya, 2011. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Janda dan dua anak dari mendiang Muammar Qaddafi diizinkan bepergian ke mana saja

Hanya Saif al-Islam, anak Qaddafi memilih tinggal di Libya.

Saif al-Islam Qaddafi, putra dari mendiang pemimpin Libya Muammar Qaddafi, pada 14 November 2021 mendaftar sebagai calon presiden di Kota Sabha. Pemilihan presiden Libya akan digelar pada 24 Desember 2021. (Al-Marshad)

Relasi Libya-Israel

Selentingan beredar lama di kalangan rakyat Libya menyebutkan ibu dari Qaddafi adalah orang Yahudi telah masuk Islam.

Seorang pemberontak menginjak poster bergambar pemimpin Libya Muammar Qaddafi di pintu masuk Bab al-Aziziyah, Tripoli, Oktober 2011. (Albalad.co)

Kenangan istimewa terhadap keluarga Qaddafi

Kisah-kisah kelam itu berbeda dengan pamor harum Qaddafi di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Indonesia.





comments powered by Disqus

Rubrik wawancara Terbaru

Saudi Arabia surrenders to Chinese pressure to detain and deport Uighurs from its soil.

"We are extremely disheartened by the fact that the OIC and its members states have not only been remaining silent on China genocide and persecution of Uyghurs," said Salih Hudayar.

28 Maret 2022

TERSOHOR