wawancara

Dian Wirengjurit (1)

Kalau kita tunggu sanksi dicabut, kita akan ketinggalan kereta

Selama Iran terkena sanksi peluang tetap ada dan terbuka, hanya saja tidak dimanfaatkan oleh pelaku bisnis dan pemerintah Indonesia.

31 Juli 2015 04:32

Perjanjian bersejarah itu dicapai bulan ini di Ibu Kota Wina, Austria. Kedua pihak, Iran dan aliansi Barat, sepakat mengakhiri saling tuding soal program nuklir Iran.

Amerika Serikat bersama para sekutunya menuduh Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, namun berkali-kali pula negeri Mullah itu membantah. Teheran menegaskan program nuklir mereka untuk kepentingan energi.

Tercapainya kesepakatan nuklir Iran membuka banyak peluang bisnis dengan negara Persia ini. Indonesia termasuk salah satu negara berpotensi besar mendapatkan kesempatan itu.

Namun Duta Besar Indonesia untuk Iran Dian Wirengjurit ragu pemerintah dan pengusaha Indonesia mampu memaksimalkan peluang ini. Dia beralasan selama Iran terkena sanksi peluang tetap ada dan terbuka, hanya saja tidak dimanfaatkan oleh pelaku bisnis dan pemerintah. "Sebabnya tiga hal: persepsi salah mengenai sanksi, tidak ada keberanian, dan kurangnya kreativitas."

Berikut penjelasan Dian Wirengjurit saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co lewat WhatsApp akhir pekan lalu.

Apakah ada peluang Indonesia di bidang perdagangan dan investasi setelah tercapai kesepakatan nuklir Iran?

Selama ini peluang tetap ada dan terbuka kok. Hanya saja tidak dimanfaatkan oleh pelaku bisnis dan pemerintah. Sebabnya tiga hal: persepsi salah mengenai sanksi, tidak ada keberanian, dan kurangnya kreativitas.

Dengan perjanjian nuklir ini, peluang tetap terbuka karena sanksi belum akan dicabut seketika, melainkan bertahap. Kalau sanksi sudah sepenuhnya dihapus dan kita belum masuk, pasti kita ketinggalan dan mungkin malah tidak dilirik oleh Iran.

Atau memang pemerintah dan pebisnis Indonesia masih menunggu kepastian dari pelaksanaan kesepakatan nuklir?

Iran itu negara punya potensi besar di banyak bidang. Artinya sangat eksotis bagi pebisnis dari banyak negara, khususnya Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Asia Timur.

Kalau sanksi sudah dicabut, kita akan bersaing dengan negara-negara besar itu. Apa iya kita siap? Sayangnya kita tampaknya memang masih menunggu kepastian itu.

Ironisnya, saya kira kita tidak paham isi perjanjian itu. Karena untuk bisa tuntas, impelementasi bisa memakan waktu tahunan, sekitar delapan tahun.

Bisa dijelaskan selama ini bagaimana persepsi salah pemerintah dan pebisnis Indonesia soal sanksi atas Iran?

Pertama, dikira dengan adanya sanksi kita tidak bisa berbisnis. Kedua, kalau sanksi dihapus baru kita bisa berbisnis. Faktanya banyak negara tetap dapat berbisnis dengan Iran selama sanksi, khususnya Malaysia, Singapura, India, Cina, Uni Emirat Arab, Turki.

Saat ini Uni Eropa sudah mulai menjajaki (peluang berbisnis dengan Iran). Kalau kita tunggu sanksi dicabut, kita akan ketinggalan kereta.

Sektor mana saja dapat dimasuki pengusaha Indonesia memang selama ini diminati dan dibutuhkan Iran dari Indonesia?

Sektor perdagangan. Kertas Indonesia dikenal dan dipakai luas di Iran. Juga karet dan kelapa sawit. Sayangnya masuknya lewat Dubai, Malaysia, dan Singapura.

Teh, kopi, dan cokelat pun sangat prospektif, di samping tekstil serta garmen.

Mestinya bisa diupayakan untuk langsung, tapi pebisnis kita sudah puas kalau tidak usah repot. Cukup melalui negara ketiga walau keuntungan berkurang.

Atau memang pengusaha Indonesia tidak siap bersaing dengan negara besar?

Bukan hanya negara besar, sama Malaysia saja kita kalah bersaing dalam segala lini di Iran.

Selama Iran terkena sanksi, berapa nilai ekspor dan impor Indonesia dengan negara itu?

Sanksi sudah berjalan lebih dari 30 tahun, tapi sejak 2012 diperketat dengan sanksi unilateral Amerika Serikat dan Uni Eropa. Akibat salah persepsi, ketakutan, dan ketidakjelasan kebijakan, nilai perdagangan turun terus.

Pada 2011 US$ 1,8 miliar, US$ 1,1 miliar di 2012, US$ 900 juta untuk 2013, dan US$ 500 juta tahun lalu. Sedangkan Malaysia pada 2014 US$ 1 miliar. Semua negara turun, yang naik hanya Amerika Serikat.

Apakah kesepakatan nuklir itu memberikan keistimewaan bagi enam negara perunding, termasuk Uni Eropa, untuk berdagang dan berinvestasi dengan Iran? Mungkin itu bikin pengusaha Indonesia ragu.

Keistiewaan nggak lah. Cuma mereka tahu kapan, tahapan seperti apa, dan kelonggaran macam apa akan diberikan. Jadi bisa diantisipasi peluang bisnis apa dapat masuk.

Kita dari dulu bisa masuk untuk tancapkan kuku kalau mau dan berani. Jadi ketika sanksi bertahap dicabut, kita sudah punya pijakan.

Karena selama terkena sanksi Iran butuh kawan dan Indonesia banyak diharapkan. Tapi kita tidak manfaatkan.

Sebagai duta besar Indonesia untuk Iran, apakah Anda dimintai saran oleh presiden atau menteri terkait soal peluang bisnis dengan Iran setelah ada kesepakatan nuklir?

Sebenarnya saya sudah lelah menyampaikan peluang ini. Laporan-laporan kepada dan pertemuan-pertemuan saya dengan berbagai petinggi lembaga negara dan kalangan bisnis, Kadin (kamar Dagang dan Industri), tampaknya tidak dipahami, dianggap angin lalu, atau mungkin dipandang tidak penting sama sekali.

Akibatnya tidak ada tindak lanjut nyata. Tidak ada pergerakan apa-apa selain janji ini dan itu, nota kesepahaman ini dan itu. Mungkin karena orientasi kita masih tetap mitra tradisional, yakni Barat dan Asia Timur.

Padahal kita disuruh cari pelaung dan pasar non-tradisional. Tapi tidak diimbangi dengan perhatian atau tidak ada koordinasi antar lembaga.

Berdasarkan pengalaman Anda bergaul dengan para pejabat Iran, apakah Anda yakin Iran akan serius melaksanakan kesepakatan nuklir?

Implementasi perjanjian apapun ditentukan oleh komitmen pihak-pihak terlibat. Hambatan utama pelaksanaan adalah perbedaan penafsiran terhadap kewajiban masing-masing pihak. Untuk itu perlu ada verifikasi obyektif.

Masalahnya organisasi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, sering tidak bersikap profesional dan tidak berlaku obyektif karena hanya mewakili atau mencerminkan kepentingan pihak tertentu, khususnya Barat. Indonesia pernah mengalami hal ini ketika referendum Timor-Timur.

Dalam hal nuklir, Iran kali ini di pihak kurang beruntung karena isi perjanjian lebih banyak menuntut kewajiban di pihak Iran. Karena itu Iran dituntut harus benar-benar taat atau sanksi akan diberlakukan kembali. Pilihan ada di pihak Iran.

Marzuq Mashaan al-Utaibi has just launched a revolution against Al Saud regime in Saudi Arabia by establishing the national Mobilization Movement. (Albalad.co)

We will remove Al Saud regime

"We are considering few months to a year to achieve this goal," said Marzuq.

Tiina Jauhiainen and Sheikha Latifa, the daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, were in her escape from UAE on February 24th, 2018. (Tiina Jauhiainen for Albalad.co)

Sheikha Latifa tried to escape because she wants to have a normal life

Tiina was detained in a secret prison for two weeks because she helped the daughter of Dubai emir to escape from her country.

Revital, putri dari seorang rabbi, berpose di depan altar Sinagoge Zargariyan di Ibu Kota Teheran, Iran, 2 Juni 2016. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Amerika berlakukan lagi sanksi ekonomi atas Iran

Iran baru menikmati pencabutan sanksi ekonomi sejak Januari 2016.

Elie Trabelsi, a Tunisian Jews politician. (Elie Trabelsi for Albalad.co)

I protect the Jewish community because it is a minority

"The link of the Tunisian Jews with Tunisia is very strong. Tunisia is known for its tolerance, Jews and Muslims have always coexisted together," said Elie Trabelsi.





comments powered by Disqus