wawancara

Mordechai Vanunu (2)

Tidak ada negara bisa menekan Israel

Vanunu mengaku kini tinggal bersama rekan-rekannya orang Palestina di sebuah apartemen di Yerusalem Timur.

09 Januari 2015 08:07

Kami sudah berteman delapan tahun, yakni sejak Mordechai Vanunu dibebaskan dari penjara. Selama itu pula dia menjalani status tahanan kota.

Dia cukup terkejut lantaran saya sudah lama tidak menelepon. “Apakah kamu masih hidup? Apa kamu masih bekerja sebagai wartawan?” Saya pertama kali mengenal Vanunu ketika mewawancarai dia pada Juli 2004. Sejak itu hubungan kami berlanjut. Berkomunikasi lewat telepon, pesan pendek, atau surat elektronik.

Status Vanunu memang bebas bersyarat. Dia tidak boleh mendekati pelabuhan, bandar udara, kantor perwakilan asing, atau menerima wawancara dengan media asing.

Bagi pegiat perdamaian, Vanunu adalah pahlawan, namun bagi Israel dia pengkhianat. Sebab membocorkan rahasia nuklir Israel kepada surat kabar the Sunday Times pada 1986, dia ditangkap oleh Mossad (dinas rahasia luar negeri Israel). Lewat pengadilan rahasia – tanpa didampingi pengacara – Vanunu divonis 18 tahun penjara, sebelas tahun di antaranya dia mendekam di sel isolasi.

Ahli nuklir pernah bekerja di reaktor Dimona, Gurun Negev (selatan Israel), ini sangat bermimpi bisa meninggalkan negara Zionis itu. Sampai-sampai dia bertanya apakah mungkin memperoleh paspor Indonesia. Dia berharap suatu saat bisa berkunjung ke Jakarta. Meski begitu, dia mengakui boleh dibilang mustahil Israel bakal membiarkan dia pergi.

Berikut penuturan Vanunu saat dihubungi Faisal Assegaf dari Albalad.co melalui telepon selulernya, akhir Desember 2012.

Bagaimana pendapat Anda soal kemungkinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terpilih lagi?

Saya tidak tertarik berbicara soal pemilu Israel. Saya cuma ingin omong mengenai kebebasan saya.

Bagaimana status Anda saat ini?

Masih tahanan kota. Pemerintah israel tidak mengizinkan saya meninggalkan negara ini.

Apakah Anda sudah mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi?

Sudah, namun mereka menolak permohonan saya.

Anda yakin suatu saat bisa meninggalkan Israel?

Israel negara adikuasa, tidak ada yang bisa menekan mereka.

Bagaimana dengan kampanye internasional menuntut Anda segera dibebaskan?

Mereka tidak bisa apa-apa.

Bagaimana keadaan Anda?

Baik-baik saja.

Di mana Anda tinggal sekarang?

Di sebuah apartemen di Yerusalem Timur (sebelumnya Vanunu menetap di Gereja Saint George, Yerusalem).

Dengan siapa?

Bersama sejumlah teman warga Palestina.

Bagaimana perlakuan orang Palestina terhadap Anda?

Mereka baik dan menyukai saya.

Khalid Umar, the Secretary General of the Sudanese Congress Party, during a demonstration in Khartoum, Sudan. (Khalid Umar for Albalad.co)

This revolution driven by the demands of the Sudanese people

"It is always the right time to claim your freedom and dignity," said one of the leader of the opposition group.

Sheikh Dr. Abdul Aziz bin Abdul Rahman al-Thani, the Chairman of the Supervisory Board of Humanitarian Fund INSANIA Qatar. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

We have provided hundreds of million dollars for humanitarian in Indonesia

INSANIA will build many schools in Indonesia every year.

Mordechai Vanunu dan istrinya Kristin Joachimsen setelah menikah di Gereja Sang Penebus, Yerusalem, 19 Mei 2015. (facebook.com)

Vanunu: Israel rahasiakan senjata nuklirnya

"Mereka (Israel) berbohong kepada media soal kejahatan ini dan mengatakan kepada saya untuk tidak memberitahu hal itu (senjata nuklir Israel)."

Mordechai Vanunu, pembocor program nuklir rahasia Israel. (the Sunday Times)

Vanunu divonis tahanan rumah

Dia ingin ke Norwegia tinggal bareng istrinya.





comments powered by Disqus

Rubrik wawancara Terbaru

This revolution driven by the demands of the Sudanese people

"It is always the right time to claim your freedom and dignity," said one of the leader of the opposition group.

19 Januari 2019

TERSOHOR