wawancara

Nur al-Ghusain (1)

Saya ingin tinggalkan Gaza demi pendidikan lebih baik

Ini soal kesempatan keluar dari Gaza untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya dan memperoleh gelar sarjana jurusan administrasi bisnis.

06 November 2015 14:21

Muda, rupawan, dan bervisi jauh ke depan. Dia dalah Nur al-Ghusain. Gadis 20 tahun ini tinggal di Kota Gaza, bagian dari wilayah diblokade Israel sejak Hamas berkuasa penuh di sana delapan tahun lalu.

Meski hidup dalam daerah tanpa masa depan, Nur menguatkan keyakinan dia bisa keluar dari Gaza untuk memperoleh pendidikan lebih baik. Dia ingin melanjutkan kuliah di Universitas Portland, Amerika Serikat.

Dua tahun dia membuat waktunya terbuang percuma, masing-masing setahun kuliah di Universitas Al-Azhar kemudian pindah ke Universitas Islam Gaza.

Namun ambisinya untuk kuliah di Amerika terganjal dana. Dia memerlukan US$ 7 ribu untuk tahun pertamanya. Sehabis itu, dia akan bekerja untuk membayar kuliah dan biaya hidupnya. Karena itulah, dia meluncurkan kampanye penggalangan dana di Internet sejak Rabu lalu.

Berikut penjelasannya kepada Faisal Assegaf dari Albalad.co melalui WhatsApp semalam.

Kenapa Anda begitu ambisius ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri?

Pertama sekali, sebagai orang tinggal di wilayah diblokade sehingga kurang memiliki kesempatan, saya selalu ingin melihat dunia luar. Saya mau memperoleh pendidikan lebih baik, jauh dari perang dan situasi politik seperti sekarang menyelimuti Gaza.

Karena sejak lulus sekolah menengah atas, dua tahun waktu saya terbuang di kampus milik Fatah (Universitas Al-Azhar) dan kepunyaan Hamas (Universitas Islam Gaza). Saya tidak kuat mengikuti sistem pendidikan di kedua perguruan tinggi itu.

Selain itu, saya ingin mewakili sisi lain dari negara saya sebagai perempuan di negara lain. Jadi sepulang kuliah di luar negeri, saya bisa kembali ke masyarakat dengan suara lantang menyuarakan perubahan ke arah lebih baik. Karena saya percaya kami mampu melakukan itu.

Terjebak di Gaza seperti sekarang membikin segalanya lebih sulit. Sebab saya ingin bercerita bagaimana rasanya menjadi perempuan Gaza sekaligus mengecap pendidikan bagus di negara saya merasa disambut dan disokong.

Waktu musim panas tahun ini saya mengikuti kursus selama lima pekan di Universitas Portland, Amerika Serikat, mereka mendorong saya untuk mendaftar kuliah di sana setelah mendengar cerita saya soal sistem pendidikan di Gaza.

Menjadi orang bebas dan tidak terkait faksi mana pun di Gaza tidaklah mudah.

Maksud Anda, kampus di Gaza tidak kredibel dan di bawah standar internasional?

Yang saya maksudkan kehidupan di kampus membuat saya tertekan. Saya lihat banyak mahasiswa menderita karena beragam alasan. Tiap orang menjalani peran masing-masing bisa membuat Anda merasa sebal pergi kuliah.

Kehidupan kampus seperti apa membuat Anda muak?

Di Universitas Al-Azhar banyak terjadi kesembronoan. Tidak ada kesetaraan. Itulah kenapa dua tahun waktu saya terbuang percuma. Tapi saya tidak putus harapan untuk membuat keluarga, teman, dan masyarakat bangga terhadap saya kalau bisa memperoleh gelar sarjana dari Universitas Portland.

Sudah 20 tahun saya hidup di Gaza dan tidak bisa ke mana-mana, bahkan di Palestina sekalipun. Saya ingin keluar dari blokade ini untuk kuliah. Seperti mengambil napas sebentar. Semua orang di sekeliling mendukung saya.

Apakah pernah terjadi pelecehan seksual di kampus Anda?

Tidak pernah.

Apa yang Anda maksud tidak ada kesetaraan di kampus?

Maksudnya ada perbedaan antara kuliah di Universitas Al-Azhar dan Universitas Islam Gaza, keduanya sudah saya jalani masing-masing setahun.

Saya tidak kuat kuliah di Al-Azhar karena di sana tidak ada tanggung jawab. Tidak ada kesetaraan di antara mahasiswa. Pengajar pun memperlakukan anak-anak didiknya dengan cara buruk.

Kenapa Anda memilih Amerika dan bukannya negara Arab untuk melanjutkan kuliah?

Karena ketika saya di Amerika, saya bertemu orang-orang sungguh ingin tahu kasus saya. Saya berkenalan dengan orang merasa terhormat bertemu saya. Saya bertemu orang-orang mendukung saya, termasuk profesor di kampus. Saya melihat secara langsung negara dan rakyat dalam arti sebenarnya.

Di samping itu, saya sebenarnya sudah pernah mendaftar untuk kuliah di Turki, Yordania, dan negara lain, namun saya tidak mendapat kesempatan.

Ini soal kesempatan keluar dari Gaza untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya dan memperoleh gelar sarjana jurusan administrasi bisnis. Bila saya memperoleh beasiswa di negara lain, mungkin saya akan mempertimbangkan.

Gagasan siapa untuk meluncurkan kampanye lewat Internet untuk memperoleh dana buat kuliah di Amerika?

Keluarga saya karena mereka berharap hal itu bisa menolong. Tanpa mendapat US$ 7 ribu paling lambat pertengahan Desember tahun ini, saya tidak akan bisa kuliah di Amerika.

Kalau tercapai, uang itu untuk apa?

Itu untuk biaya tahun pertama saya di Universitas Portland. Selebihnya saya akan bekerja untuk membayar uang kuliah.

Saya harus menunjukkan saya serius untuk kuliah di Amerika. Saya pernah ke sana dan saya tahu bagaimana menjalaninya.

Kapan kampanye ini diresmikan?

Rabu lalu.

Apakah ada reaksi dari Hamas atau ulama?

Tidak ada. Semua mahasiswa bisa membuat hal seperti saya. Ini soal keberuntungan dapat keluar dari Gaza. Bergantung pada izin Israel dan di perbatasan Rafah.

Belakangan ini Hamas membantu pelajar Gaza mengurus izin di pos pemeriksaan Israel.

Apa rencana Anda bila kampanye ini gagal?

Saya tidak punya pilihan, saya mesti berhasil. Berapapun fulus saya peroleh akan saya kumpulkan. Mungkin saya akan menunda rencana kuliah saya sampai dana saya perlukan terpenuhi.

Jika ada syarat Anda tidak boleh kembali ke Gaza, apakah akan mengambil risiko itu?

Saya akan mengambil segala risiko untuk pulang selesai kuliah.

Jika Anda dan keluarga mendapat kesempatan tinggal di negara lain, negara mana Anda akan pilih?

Saya tidak tahu, tapi pastinya negara muslim moderat, seperti Turki, Malaysia, atau Indonesia. Atau mungkin saya memilih tinggal di Eropa.

Hasil pemungutan suara di Dewan HAM PBB soal resolusi pengiriman tim investigasi buat menyelidiki dugaan kejahatan perang dilakukan Israel terhadap demonstran Gaza. (Twitter)

PBB akan selidiki kejahatan perang dilakukan Israel atas demonstran Gaza

Resolusi itu disahkan melalui pemungutan suara. Sebanyak 29 negara anggota Dewan Hak Asasi Manusia PBB setuju, dua menolak dan 14 negara lainnya abstain.

Suasana dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem di hari pertama Ramadan, 17 Mei 2018. (Albalad.co)

Senyum Ivanka air mata Gaza

Secara keseluruhan, sejak protes berlangsung delapan pekan lalu, sudah 109 orang terbunuh dan sembilan ribu lainnya cedera.

Seorang pengawal pemimpin Hamas memasuki terowongan di perbatasan Rafah,  tembus dari Jalur Gaza ke Mesir, Oktober 2012. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Gaza, simbol perlawanan dan kehomatan

Setelah berjalan menyusuri terowongan, saya akhirnya disambut pemilik terowongan. "Ahlan wa sahlan fii Gaza."

Menachem Klein, professor in political sciences at Bar Ilan University, Israel, poses with the background of the image of  Al-Aqsa in Borobudur Hotel, Jakarta, December 15, 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Prince Muhammad bin Salman is a good partner for Netanyahu on the issue of Iran and Palestine

"But I think Netanyahu policies on the two issues are bad for Israel."





comments powered by Disqus