wawancara

Emmanuel Nahshon (1)

Rakyat Palestina selalu memilih kekerasan ketimbang perundingan

"Perlu berapa banyak lagi orang Israel mesti terbunuh untuk membenarkan kampanye kami terhadap teror."

27 November 2015 01:58

Bagi rakyat Palestina, perlawanan dilakoni anak-anak muda, lelaki dan perempuan, bahkan terhitung belia, sejak awal Oktober lalu adalah Intifadah ketiga. Sebagian orang menyebut sebagai Intifadah Al-Aqsa karena bentrokan bermula setelah kelompok Yahudi garis keras memaksa masuk ke dalam Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur.

Intifadah pertama terjadi pada 1987 hingga penandatanganan Perjanjian Oslo di 1993. Intifadah kedua meletup sejak 2000 sampai Israel mundur dari Jalur Gaza pada 2005.

Tapi buat Israel, gerakan tusuk orang Yahudi itu adalah serangan teror sehingga layak diambil tindakan keras.

"Perlu berapa banyak lagi orang Israel mesti terbunuh untuk membenarkan kampanye kami terhadap teror," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon Selasa lalu dengan nada tinggi. "Di negara Anda pun tidak bakal pernah menerima hal itu!!!

Intifadah ketiga sudah berlangsung hampir dua bulan dan korban tewas dari pihak Palestina 97 orang. Namun hingga kini bentrokan dan penusukan masih terjadi.

Selama wawancara tiga kali emosinya terpancing. Ini ditunjukkan lewat tiga tanda seru dia tulis di akhir kalimat.

Berikut penjelasan Emmanuel Nahshon kepada Faisal Assegaf dari Albalad.co melalui pesan WhatsApp.

Berapa lama kira-kira Intifadah ketiga ini bakal berlangsung?

Sulit memperkirakan. Kami percaya itu bergantung pada seberapa besar tingkat hasutan untuk melakukan kekerasan disebarluaskan Otoritas Palestina dan Hamas. Kami akan mengambil segala tindakan diperlukan untuk melindungi rakyat kami.

Maksud Anda Otoritas Palestina dan Hamas sebagai pemicu Intifadah?

Ya, tapi bukan hanya mereka. Ada atmosfer untuk melancarkan kekerasan di media sosial dan itu mempengaruhi anak-anak muda Palestina.

Bukankah kebanyakan penyerang tidak memiliki akun Facebook berdasarkan hasil interogasi aparat keamanan Israel?

Terdapat iklim hasutan di kalangan generasi muda Palestina.

Apa hasutan dibikin Otoritas Palestina dan Hamas terhadap anak-anak muda Palestina?

Bulan lalu mereka mencoba menciptakan kesan Israel ingin mengubah situasi di Kuil Gunung (Haram asy-Syarif). Usaha mereka gagal. Sekarang mereka mengajak rakyat Palestina untuk membunuhi orang Israel.

Tapi bukankah kelompok Yahudi garis keras pertama kali memprovokasi dengan memaksa masuk ke Masjid Al-Aqsa?

Israel berkomitmen orang Yahudi tidak akan berdoa di sana. Tidak akan ada perubahan atas kebijakan itu.

Sebagian besar pelaku putus asa karena situasi ekonomi dan politik sulit. Jadi mereka tidak perlu dihasut untuk membunuh rakyat Israel. Bagaimana komentar Anda?

Saya tidak setuju. Beberapa dari anak muda melakukan penusukan atau berusaha menyerang berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi dan sosial relatif bagus. Ini lebih soal kebencian dan kejayaan kekerasan dibanding masalah ekonomi.

Secara politik kami ingin memulai lagi perundingan. Kami hari ini (Selasa lalu) menerima lawatan (Menteri Luar Negeri Amerika Serikat) John Kerry. Kita lihat saja hasilnya.

Tapi kenapa tentara dan polisi Israel bertindak berlebihan dengan menembak mati pelaku, bukan menangkap mereka?

Karena mereka membahayakan nyawa orang lain. Bila seseorang mengancam nyawa orang dengan pisau dan berniat membunuh, di negara mana saja di dunia ini, polisi pasti akan menembak dia.

Namun kan tidak adil pisau dibalas dengan peluru. Apakah itu berarti pasukan keamanan Israel tidak mampu membekuk anak muda Palestina dengan pisau di tangan?

Sejumlah orang sudah tewas akibat serangan pisau itu!!! Perlu berapa banyak lagi orang Israel mesti terbunuh untuk membenarkan kampanye kami terhadap teror. Di negara Anda pun tidak bakal pernah menerima hal itu!!!

Tapi mereka melawan karena mereka dijajah?

Mereka sengaja mengabaikan pilihan terbaik, yakni berunding!!! Satu-satunya cara mencapai perdamaian adalah lewat perundingan.

Apakah pemerintah sudah memperkirakan Intifadah ketiga bakal meletup?

Kami selalu siap untuk menghadapi kekerasan karena rakyat Palestina selalu memilih kekerasan ketimbang negosiasi.

Namun bagaimana Israel bisa memulai lagi pembicaraan damai bila Hamas tidak dilibatkan?

Hamas bukan mitra untuk berunding lantaran mereka tidak mengakui hak kami (Israel) untuk berdiri. Bagaimana mungkin Anda berunding dengan organisasi ingin menghancurkan negara Anda?

Kami ingin berunding dengan Otoritas Palestina.

Tapi Hamas juga perwakilan bangsa Palestina karena mereka menang dalam pmilihan umum Januari 2006, namun tidak diakui oleh Amerika Serikat dan Israel?

Seluruh masyarakat internasional tidak akan mempertimbangkan kemenangan Hamas sah selama mereka tidak menghilangkan teror dan terus menolak keberadaan negara Israel.

Mantan pemimpin dua intifadah Marwan Barghuti mengirim opini kepada Albalad.co dari dalam penjara Israel menyikapi Intifadah sedang terjadi. Dia  bilang akhir dari penjajahan adalah awal dari perdamaian. Bagaimana komentar Anda atas pendapatnya?

Tiap kali kami membuat langkah ke arah perdamaian, Palestina menjawb dengan kekerasan. Barghuti di penjara karena kasus pembunuhan dan dia benar-benar terbukti bersalah...

Elie Trabelsi, a Tunisian Jews politician. (Elie Trabelsi for Albalad.co)

I protect the Jewish community because it is a minority

"The link of the Tunisian Jews with Tunisia is very strong. Tunisia is known for its tolerance, Jews and Muslims have always coexisted together," said Elie Trabelsi.

Adolf bin Prince Faisal bin Turki bin Abdullah al-Saud. (Albalad.co)

I want to get my status as the son of a Saudi prince

Adolf will go to the European Highest Court in Brussels to prove he is the son of Prince Faisal bin Turki from Saudi Arabia.

An Israeli archeologist Zachi Dvira (Albalad.co)

For safety, Jewish worshippers should pray five meters from the Western Wall

Many of the stones have cracks and pieces could fall appart. .

Sheikha Latifa, daughter of Dubai Emir Sheikh Muhammad bin Rashid al-Maktoum, with her Finnish friend, Tiina Jauhiainen. (@detainedindubai for Albalad.co)

Dubai emir has allegedly detained and tortured his two daughters

Sheikha Latifa fled in late February 2018 and arrested on the 4th of March off the coast of India. She was taken back to the UAE against her will where it is believed that is being held in prison. .





comments powered by Disqus

Rubrik wawancara Terbaru

I protect the Jewish community because it is a minority

"The link of the Tunisian Jews with Tunisia is very strong. Tunisia is known for its tolerance, Jews and Muslims have always coexisted together," said Elie Trabelsi.

07 Agustus 2018

TERSOHOR