wawancara

Laila Khalid (1)

Saya tidak pernah menyesal

Laila Khalid ingin masyarakat internasional peduli dengan penderitaan bangsa Palestina akibat penjajahan Israel.

06 Februari 2015 07:00

Namanya pernah menggetarkan dunia. Dia perempuan pertama Palestina membajak dua pesawat sebagai protes terhadap penjajahan Israel atas negerinya: Palestina. Dialah Laila Khalid, anggota Barisan Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP).

Aksi pertama dilakukan pada 29 Agustus 1969 dengan sasaran Boeing 707 milik maskapai Trans World Airlines bernomor penerbangan 840 dalam perjalanan Roma menuju Athena. Dia memaksa pilot mendarat di Bandar Udara Internasional Damaskus, Suriah, setelah terbang di atas Haifa, kota kelahirannya. Setelah semua penumpang dan awak pesawat turun, Laila dan timnya meledakkan pesawat itu.

Laila sempat ditahan aparat keamanan Suriah. Setelah bebas, dia melakukan operasi plastik pertama untuk menyembunyikan identitas. Tapi dia tidak kapok. Misi keduanya berlangsung pada 6 September 1970.

Dia bersama Patrick Arguello, pria Nikaragua, membajak pesawat bernomor 219 dengan rute Amsterdam ke New York milik maskapai Israel, El Al. Nahas. Arguello tewas ditembak polisi Israel, sedangkan Laila diringkus dengan dua granat di tangan. Pesawat mendarat di Bandar Udara Heathrow, London, Inggris. Dia dibebaskan pada 1 Oktober sebagai bagian dari pertukaran tahanan.

Politik bukan hal baru bagi Laila. Di usia 15 tahun, dia bergabung dengan Gerakan Nasionalis Arab dimotori George Habash pada 1940-an. Meski sempat mengecap pendidikan kedokteran di American University of Beirut, dia lebih tertarik pada politik. Laila masuk ke PFLP bentukan Habash setelah Perang Enam Hari 1967.

Dunia politik tak ditinggalkan meski dia sudah 62 tahun. Laila lahir di Haifa pada 9 April dan sempat mengungsi setelah Israel merebut kota itu dalam perang 1948. Dia kini menjadi anggota Dewan Nasional Palestina dan aktif di Forum Sosial Dunia.

Setelah bercerai dengan suami pertamanya, dia menikah dengan dokter Fayiz Rasyid dan tinggal bersama kedua anaknya, Badir dan Basyar, di Amman, Yordania. Dia juga mengajar bahasa Inggris di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Kuwait. Lina Makbul, sutradara Swedia mengagumi keberanian Laila, membuat film dokumenter tentang kisahnya. Film berjudul Leila Khaled the Hijacker (2005) itu sembilan tahun lalu diputar di Jiffest (Jakarta International Film Festival).

Melalui telepon seluler, Desember 2006, Laila bertutur kepada Faisal Assegaf dari Albalad.co tentang kisah heroiknya itu. Hanya satu pertanyaan tak dijawab, yakni soal operasi plastik dia lakoni untuk menghindari kejaran aparat Israel. Berikut penuturannya.

Film dokumenter tentang Anda tengah diputar di Jakarta. Apa komentar Anda?

Saya pikir film itu sudah fokus pada perjuangan rakyat Palestina dan menekankan peranan perempuan Palestina. Saya kira film itu sama baiknya dengan film dokumenter lain.

Apa pengaruh positif dari film itu?

Film ini dapat membantu memahami latar belakang perlawanan rakyat Palestina dan akan benar-benar menaikkan kesadaran orang soal perjuangan bangsa Palestina.

Apa tujuan pembajakan pertama Anda?

Kami ingin menarik perhatian masyarakat internasional mengenai keadaan menyedihkan dialami rakyat Palestina akibat penjajahan Israel masih terus berlangsung dan pengusiran dilakukan dari tanah air mereka.

Kenapa menjadi sasaran pesawat milik maskapai TWA?

Karena kami kira di antara penumpang pesawat itu terdapat Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat Yitzhak Rabin. Semula kami ingin menjadikan Rabin sebagai pertukaran bagi tahanan Palestina di penjara-penjara Israel. Kami ingin masyarakat internasional peduli dengan persoalan Palestina dan Israel bersedia melaksanakan kewajibannya melepaskan tawanan Palestina.

Berapa orang terlibat dalam pembajakan itu?

Kami hanya berdua bersama sahabat saya, Aman. Sayalah memimpin operasi itu.

Bagaimana perasaan Anda ketika itu?

Saya sangat senang bisa memimpin misi itu dan ini sebuah kehormatan. Kami masing-masing dilengkapi dengan sebuah granat tangan dan sepucuk pistol.

Menurut Anda, pembajakan pertama itu berhasil?

Ya, misi itu berhasil dipenuhi. Kami berdua lalu menyerahkan diri ke polisi Suriah. Setelah ditahan 45 hari, kami dibebaskan.

Soal pembajakan kedua?

Pemimpin saya menugasi saya bersama tiga rekan lain. Namun aparat keamanan bandara mencegah dua teman saya masuk. Jadi kami hanya berdua.

Ketika itu Anda sudah punya anak?

Saya belum menikah.

Apakah Anda pernah berniat melakukan bom bunuh diri?

Tidak sama sekali. Kenyataannya tidak ada orang lain luka. Kami diberi aturan ketat untuk tidak melukai siapa pun. Kami melakukan tanpa korban.

Menurut Anda, pembajakan adalah taktik terbaik untuk melakukan perlawanan?

Untuk jangka waktu tertentu, ya. Tapi kini itu sudah tak berguna lagi.

Mana terbaik, melakukan perlawanan bersenjata atau diplomasi?

Saya percaya perjuangan dapat dilakukan dengan dua cara itu. Namun saya meyakini sejarah mengajarkan rakyat bisa menggapai kebebasan mereka melalui revolusi.

Apa kegiatan Anda sekarang?

Saya anggota Kongres Nasional Palestina. Saya juga anggota Biro Politik PFLP dan anggota Persatuan Umum Perempuan Palestina. Saya menyeimbangkan tugas-tugas berat itu dengan kepentingan keluarga.

Anda ingin kedua anak mengikuti jejak Anda?

Anak-anak saya punya hak memilih masa depan mereka, bukan saya menentukan. Kami keluarga demokratis.

Anda pernah kembali ke Haifa?

Saya tidak pernah kembali ke Haifa karena pengungsi Palestina dilarang pemerintah Israel berdasarkan Hak untuk Kembali.

Anda menyesal telah membajak dua pesawat?

Saya tidak menyesali perbuatan saya

Apakah Anda yakin Palestina bisa merdeka?

Tentu saja saya sangat yakin. Ini hanya tinggal menunggu waktu. Saya sangat percaya jika rakyat Palestina terus berjuang, mereka akan mencapai itu.

Pasukan Brigade Izzudin al-Qassam, sayap militer Hamas. (abdurrahim khatib/flash 90)

2014 tahun paling berdarah dalam konflik Palestina-Israel

Sepanjang tahun lalu 2.314 warga Palestina terbunuh dan 17.125 cedera. Sedangkan di pihak Israel cuma 85 orang tewas dan 2.629 luka.

Pemimpin dua intifadah Marwan Barghuti. Dia kini mendekam di Penjara Hadarim, Israel. (www.timesofisrael.com)

Penderitaan terberat adalah terpisah dari keluarga

Pemimpin intifadah Marwan Barghuti mendekam di Penjara Hadarim dengan masa hukuman lima kali seumur hidup ditambah 40 tahun.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal berjalan bareng Presiden Palestina Mahmud Abbas (kiri) dan Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad (tengah). (english.al-akhbar.com)

PLO setuju hentikan kerja sama keamanan dengan Israel

PLO juga serukan boikot terhadap semua produk Israel.

Sergah Palestina rangkul Israel

Bagi rezim militer di Mesir, bersahabat dengan Israel lebih menguntungkan ketimbang menolong Palestina.





comments powered by Disqus