wawancara

Khalid Misyaal (1)

Bakal ada intifadah ketiga

"Rakyat Palestina tahu kapan waktu pas buat memulai intifadah ketiga," kata Khalid Misyaal.

13 Februari 2015 09:12

Situasi kian memburuk di Jalur Gaza dan Tepi Barat akibat kebiadaban Israel.

Sekitar 1,6 juta penduduk Gaza kekurangan pasokan bahan makanan, obat-obatan, bahan bakar, listrik, dan barang lainnya lantaran sudah hampir delapan tahun negara Zionis itu memblokade Gaza. Kondisi mereka kian mengenaskan setelah rezim militer di Mesir menutup perlintasan Rafah dan menghancurkan semua terowongan. Padahal, itu satu-satunya pintu bagi warga Gaza melihat dunia luar.

Suasana muram juga membekap Tepi Barat. Israel terus menangkapi dan membunuh orang Palestina. Mereka juga melanjutkan proyek merampas tanah dan menggusur rumah warga Palestina buat membangun permukiman Yahudi. Proyek Tembok Pemisah masih dikerjakan dan seruan merebut Masjid Al-Aqsa dari kelompok Yahudi radikal makin luas bergema.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal mengakui situasi semacam itu bakal makin memperkuat keyakinan bangsa Palestina untuk terus melawan penjajah Israel. Sebab itu, dia yakin intifadah ketiga bakal meletup.

“Intifadah ketiga juga bakal meletup pada waktunya,” kata Misyaal kepada Faisal Assegaf dari Albalad.co November 2013 dalam wawancara khusus di sebuah kamar lantai 37 Hotel PNB Darby Park, Kuala Lumpur, Malaysia. “Rakyat Palestina tahu kapan waktu pas buat memulai intifadah ketiga.”

Dengan setelan safari hitam dan seraya berzikir memakai tasbih coklat terang di tangan kiri, Misyaal menjawab semua pertanyaan dengan lugas. Berikut penuturannya.

Tidak ada harapan di Gaza dan bentrokan di Tepi Barat, termasuk di Masjid Al-Aqsa, terus meningkat. Apakah menurut Anda ini saat tepat buat melancarkan intifadah ketiga?

Saya yakin rakyat Palestina tidak akan pernah bosan berjuang sebab Israel terus melancarkan kekejaman di Tepi Barat. Mereka meneruskan pembangunan permukiman, melancarkan yahudisasi di tempat-tempat suci umat Islam dan Nasrani, menangkapi dan memenjarakan ribuan orang Palestina, memecah Masjid Al-Aqsa. Mereka juga melanjutkan blokade terhadap Gaza, melancarkan sejumlah agresi ke sana.

Semua ini kian menguatkan keyakinan kami, perlawanan merupakan satu-satunya cara menghadapi Israel. Intifadah pertama dan kedua terjadi di saat tepat. Intifadah ketiga juga bakal meletup pada waktunya. Rakyat Palestina tahu kapan waktu pas buat memulai intifadah ketiga.

Hingga kini perundingan masih buntu. Kami percaya tidak ada masa depan dalam negosiasi terutama di masa kepemimpinan Benjamin Netanyahu.

Misyaal minta izin buat menerima telepon. Dia berbicara dalam bahasa Arab sekitar dua menit.

Soal prinsip final Hamas, apakah Hamas bakal menerima solusi dua negara atau hanya ada satu negara Palestina meliputi Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Israel sekarang?

Dia menghela napas sekali dan membaca basmalah sebelum menjawab pertanyaan ini.

Hamas berprinsip bangsa Palestina berhak atas seluruh wilayah Palestina (sebelum berdirinya negara Israel). Hamas tidak akan pernah mengakui penjajahan dan negara Israel.

Wawancara terhenti lima menit karena Misyaal kedatangan tamu.

Jadi Israel harus enyah dari wilayah mereka anggap sebagai hak mereka saat ini?

Kami memiliki kesepakatan dengan faksi-faksi lain disebut program politik bersama untuk membentuk visi politik Palestina bersatu. Kami tidak menolak prinsip itu dan kami percaya seluruh wilayah Palestina menjadi hak orang Palestina. Kami tidak akan melepaskan sedikitpun wilayah kami. Penjajahan Israel tidak sah dan tak bakal langgeng.

Sejujurnya, Anda yakin negara-negara Arab dan muslim selama ini jujur mendukung Palestina? Sebab sampai sekarang belum ada satu pun dari mereka mengakui kemenangan Hamas dalam pemilihan umum Januari 2006.

Saya akan menjawab pertanyaan Anda dari dasar hati saya (seraya tertawa). Tidak diragukan lagi, negara-negara Arab dan muslim memiliki banyak persoalan. Umat Islam saat ini masih lemah dan terpecah-pecah. Tiap negara memiliki masalah sendiri dan tidak ada strategi bersama buat menghadapi penjajahan Israel.

Di saat sama, kami menerima sokongan sangat besar dari penduduk dan pemerintah mereka buat perjuangan bangsa kami. Banyak pemerintah dari negara Arab dan muslim membantu Hamas secara rahasia dan terbuka. Mereka memandang Hamas sebagai harapan untuk mengakhiri penjajahan Israel.

Kami percaya umat Islam yakin Palestina adalah prioritas utama dan isu sentral mereka. Kami memang memperoleh dukungan dari beberapa negara, namun kami mengharapkan lebih banyak lagi negara menyokong.

Hamas berharap dukungan resmi dan terbuka bakal makin meningkat. Dengan gagalnya saban perundingan telah meyakinkan negara-negara muslim perjuangan Hamas satu-satunya harapan buat meraih kembali hak-hak bangsa Palestina.

Ismail Haniyah terpilih sebagai Kepala Biro Politik Hamas pada 6 Mei 2017, menggantikan Khalid Misyaal. (Al-Manar)

Haniyah terpilih sebagai pemimpin baru Hamas

Dia pernah menjabat Perdana Menteri Palestina setelah Hamas menang pemilihan umum.

Kepala Biro Politik Hamas Khalid Misyaal saat diwawancarai Faisal Assegaf dari Albalad.co, November 2013. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Hamas bilang perang dengan Israel bukan konflik agama

Hamas menyokong pembentukan negara Palestina dengan batas sebelum Perang 1967 dengan ibu kota Yerusalem.

Bentrokan antara warga Palestina di perlintasan Bait Hanun, utara Jalur Gaza, dengan pasukan Israel. Kejadian ini berlangsung Jumat, 16 Oktober 2015. (Abdillah Onim buat Albalad.co)

Kami tidak bisa menunggu hingga Israel membagi dua Al-Aqsa

Intifadah ketiga mesti berlangsung sampai penjajahan Israel berakhir.

Pemimpin dua intifadah Marwan Barghuti. Dia kini mendekam di Penjara Hadarim, Israel. (www.timesofisrael.com)

Penderitaan terberat adalah terpisah dari keluarga

Pemimpin intifadah Marwan Barghuti mendekam di Penjara Hadarim dengan masa hukuman lima kali seumur hidup ditambah 40 tahun.





comments powered by Disqus