wawancara

Sayyid Muhammad Husaini (1)

Tidak boleh ada KFC di Iran

KFC membuka gerai pertama di negeri Mullai itu awal Maret 2012.

20 Februari 2015 11:28

Sama seperti pejabat Iran lainnya, Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran Sayyid Muhammad Husaini juga tegas jika berbicara soal pengaruh budaya Barat terhadap negara-negara muslim, termasuk Iran. Dia menegaskan tidak hanya Iran menyensor produk asing, negara Barat pun juga bertindak serupa.

Alhasil, kata dia. Iran tidak khawatir terhadap pengaruh budaya Barat bisa mengancam generasi muda menjadi mayoritas penduduk negeri Mullah itu. “Kalau kami diam saja, wajar kami khawatir terhadap nasib generasi muda,” katanya kepada Faisal Assegaf dari Albalad.co.

Sikap antibudaya Barat ini termasuk menolak berdirinya restoran cepat saji asal Amerika Serikat Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia membantah sudah ada KFC perdana di Ibu Kota Teheran berdiri awal Maret 2012. “Tidak ada dan kami tidak akan memberi izin.” Dia bercerita dulu pernah ada KFC di negaranya namun ditutup.

Kabar berdirinya KFC pertama di negeri Persia itu dilansir surat kabar independen asal Israel Haaretz akhir Februari 2012. Restoran milik Amir Hussein Ali Zadeh itu diberi tambahan nama menjadi KFC-Iran.

Wawancara berlangsung sekitar setengah jam dengan penerjemah. Dia menolak diwawancara dengan bahasa Inggris karena takut salah kutip. Di tengah perbincangan, dia memutar-mutar tasbih kecil berwarna cokelat.

Meski menolak budaya Barat, dia tampil dengan setelan jas hitam melapisi kemeja putihnya. Dia pun tidak risih walau percakapan kami ditemani suara penyanyi perempuan Amerika meluncur dari pengeras suara di lobi Hotel Gran Melia, Kuningan, Jakarta Selatan.

Berikut penuturannya saat ditemui awal Maret 2012.

Seberapa bahaya kebudayaan Barat sekarang ini bagi generasi muda Iran?

Hal itu sangat berbahaya karena mereka menggunakan kekuatan lunak menyerang akhlak mulia bangsa-bangsa muslim. Ketika masyarakat tidak sadar, mereka akan terpengaruh oleh invasi budaya Barat.

Invasi budaya Barat bukan hal baru. Dulu di Eropa sebetulnya masyarakat muslim pernah berkuasa, tapi invasi budaya Barat mempengaruhi norma-norma kemanusiaan dan agama masyarakat muslim di sana sehingga mereka kalah.

Target utama mereka adalah pemuda muslim lewat berbagai cara, misalnya industri film, musik, video game, sehingga pikiran anak muda negara-negara muslim terpengaruh. Maka dari itu perlu kewaspadaan agar mereka menyadari dampak buruk itu.

Apakah pemerintah Iran merasa khawatir terhadap dampak buruk budaya Barat mengingat mayoritas rakyat Iran generasi muda?

Kalau kami diam saja wajar khawatir terhadap nasib generasi muda. Namun kami aktif membuat berbagai film, buku, dan game kami rasa dapat mencegah invasi budaya Barat dari ranah populer di kalangan anak muda.

Dengan alasan menghadang dampak buruk budaya Barat, pemerintah Iran merasa wajib memblokir Internet di situasi genting?

Tentu di setiap negara ada aturan untuk mengatur Internet, seperti di Cina. Sehingga tidak hanya Iran mengatur sambungan Internetnya. Tidak bisa serta merta diberikan kebebasan bagi masyarakat buat mengakses Internet.

Pada prinsipnya, di waktu-waktu biasa rakyat negeri kami mudah mengakses Internet. Tapi saat pemilihan presiden dua tahun lalu, beberapa situs berita BBC berbahasa Parsi dan beberapa situs lainnya berupaya mengarahkan dan memberi fitnah kepada rakyat. Maka kami perlu mencegah hal semacam itu di waktu-waktu tertentu.

Lantas seperti apa prinsip kebijakan sensor di Iran?

Kami memiliki komite ahli menganalisa suatu produk dari Barat. Kami menganalisa dari pelbagai dimensi atas produk kebudayaan asing memasuki negeri kami, seperti buku, perangkat lunak, film, karikatur.

Jika sebuah produk menghina agama, akhlak, dan kepercayaan kami, hal itu tidak dapat ditolerir dan tidak akan mendapat izin. Produk-produk kebudayaan Barat memecah belah mazhab, suku, juga tidak kami izinkan.

Jangan lupa, tidak tepat bila menganggap hanya Iran saja mengontrol produk budaya asing memasuki negaranya. Barat pun melakukan hal serupa. Televisi Iran Al-Alam, Press TV, atau televisi milik Hizbullah, Al-Manar, sering tidak bisa tayang di negara-negara Barat, padahal mereka menyiarkan kebenaran. Pelarangan Barat hanya karena mereka menentang hegemoni Barat dan kapitalisme.

Kebijakan kami akhirnya sama saja dengan mereka. Kami hari ini (kemarin) baru saja membentuk dewan nasional akan mengawasi dunia virtual. Saya merupakan salah satu anggotanya.

Mengingat jejaring sosial banyak dibuat dan dimiliki orang-orang Yahudi, apakah Anda khawatir ada agenda tersembunyi dari Zionis untuk memanfaatkan data pribadi masyarakat muslim internasional?

Jangan lupa, Internet pertama kali dibuat di markas besar angkatan bersenjata Amerika Serikat dan Pentagon. Wajar bila mereka sampai sekarang mengawasi Internet atau menyalahgunakan data-data warga muslim dunia bisa mereka akses secara diam-diam.

Namun tidak bisa dipungkiri, Internet bisa digunakan secara positif. Contohnya kebangkitan masyarakat Arab melawan pemerintahan otoriter berlangsung berkat adanya jejaring sosial.

Bagaimana tanggapan Anda dengan kabar pembukaan gerai KFC di Ibu Kota Teheran?

Tidak ada sama sekali, dari mana Anda mendapat kabar itu? Kalaupun ada maka kami tidak akan mengizinkan.

Apakah Anda merasa senang dengan kemenangan film karya Asghar Farhadi “A Separation” di ajang Oscar bulan lalu?

Sebelum Barat menghargai film itu, kami sudah memberikan penghargaan lebih dulu di ajang utama perfilman di Iran, yaitu Piala Fajr.

Seperti insan perfilman di Iran, saya senang dengan kemenangan film ini di ajang internasional. Baru karya ini pertama kali mampu mendapatkan Oscar di Amerika.

Hanny Sobol, the head of the Israel Tourism and Travel Agents Association. (Albalad.co)

Tourism has connected Indonesians and Israelis

"People on both sides will pay the price of this banning," said Hanny Sobol.

The Deputy Spekaer of Knesset Yehiel Hilik Bar. (Yehiel Hilik Bar for Albalad.co)

There will be two benefits when Indonesia has a formal relationship with Israel

Indonesian government can only be an effective mediator if they want to establish a diplomatic relationship with Israel.

Menachem Klein, professor in political sciences at Bar Ilan University, Israel, poses with the background of the image of  Al-Aqsa in Borobudur Hotel, Jakarta, December 15, 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

Prince Muhammad bin Salman is a good partner for Netanyahu on the issue of Iran and Palestine

"But I think Netanyahu policies on the two issues are bad for Israel."

Guma al-Gamati, a Libyan politician who heads Taghyeer Party. (Albalad.co)

Qaddafi family has no more influence in Libya

"They have right one day to come back and to live in their own country peacefully as long as they don't make any trouble at all," said Gamati.





comments powered by Disqus