wawancara

Tawfik Mathlouthi (2)

Kami dipalak US$ 5 juta

Kami masih percaya kami memiliki kesempatan untuk menjadi pemian utama di Indonesia karena komitmen rakyat Indonesia terhadap Islam dan persoalan bersama mengenai Islam.

01 Januari 2016 12:09

Barangkali wabah korupsi melanda Indonesia sebagai salah satu ganjalan masuknya investor asing ke negara ini. Tawfik Mathlouthi, pendiri Mecca Cola World Group, pun pernah merasakan pengalaman pahit itu.

Dia dipalak US$ 5 juta atau kini setara Rp 69,2 miliar saat berunding untuk memasarkan Mecca Cola di Indonesia. "Kami diminta membayar US$ 5 juta untuk meneken kontrak distribusi dengan Bulog. Kami menolak keras permintaan itu," kata Mathlouthi.

Berikut penjelasan Tawfik Mathlouthi kepada Faisal Assegaf dari Albalad.co melalui WhatsApp Rabu malam lalu.

Apakah Anda berniat memasuki pasar di Indonesia?

Kami benar-benar sedih tidak pernah mendapat kesempatan memasuki pasar Indonesia meski kami sudah berusaha dan terbang ke Jakarta. Kami masih mencari rekan tepat untuk menjadi pemegang merek (master franchise).

Kapan terakhir kali Anda berusaha memasukkan Mecca Cola ke Indonesia?

Perjalanan pertama saya ke Indonesia pada 2003 dan waktu itu saya bertemu ketua Bulog (Badan Urusan Logistik). Terakhir kali saya ke Jakarta pada 2009.

Kami tidak menyerah. Saya telah bertemu sejumlah pengusaha muslim Indonesia April lalu di Kuala Lumpur (Malaysia), namun tidak ada hasil.

Apa hambatan utama untuk memasuki pasar Indonesia?

Kami telah melakukan studi pasar dan menghabiskan banyak anggaran untuk beragam penelitian pasar. Tapi kami masih tidak mengerti kenapa kami tidak berhasil meski permintaan dari konsumen Indonesia sederhana.

Kami tidak menemukan hambatan apapun kecuali korupsi di awal dan mungkin merek-merek besar berusaha menghalangi kami masuk.

Kami sudah meminta bantuan sejumlah pengusaha muslim berpengaruh di Indonesia untuk berunding dengan kami buat menjadi pemegang merek.

Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia dan kami tidak bisa menerima kenyataan kami tidak dapat memasuki pasar Indonesia.

Siapa para pengusaha itu?

Hal ini bersifat rahasia dan tidak bisa dibuka Faisal. Anda tahu aturan dalam berbisnis.

Apa maksud Anda bilang korupsi sejak permulaan?

Saya pikir itu jelas korupsi. Kami diminta membayar US$ 5 juta untuk meneken kontrak distribusi dengan Bulog. Kami menolak keras permintaan itu.

Jangan minta kami membuka siapa memalak kami. Kami ingin merahasiakan. Kami menolak tegas permintaannya.

Berdasarkan penelitian Anda lakukan, berapa persen pasar bisa direbut Mecca Cola di Indonesia?

Semua studi kami lakukan menunjukkan kami bisa menguasai sepuluh persen sejak awal. Kami masih percaya kami memiliki kesempatan untuk menjadi pemain utama di Indonesia karena komitmen rakyat Indonesia terhadap Islam dan persoalan bersama mengenai Islam.

Apakah sepuluh persen itu dari komunitas muslim?

Kami tidak pernah melakukan penelitian berdasarkan agama atau etnik. Sepuluh persen itu dari total penduduk Indonesia.

Alia al-Huwaiti, an activist for Al-Huwaitat tribe, which become the victims of Bin Salman's Neom city project. (Alia al-Huwaiti for Albalad.co)

Bin Salman disconnected Huwaitat tribe from the world because they refused Neom project

"They have been replaced, they have been scared, they have been terrorized," said Alia al-Huwaiti.

Fadil Elsalameen, anticorruption activist from Palestine. (Fadi Elsalameen for Albalad.co)

Abbas is the most corrupt leader in the history of Palestine

Abbas for example has purchased a US$ 50 million plane for himself to use. He has no financial oversight and orders the destruction of financial records every six months. He and his cronies has stolen US$ 500 million to 1.7 billion since 2005.

Rabbi Elie Abadie from the Association of Gulf Jewish Communities (AGJC). (Rabbi Elie Abadie for Albalad.co)

There are a few dozens Jews living in Saudi Arabia

Rabbi Abadie hopes and also believes that under the rule of Bin Salman, there will be more freedom for minorities in Saudi Arabia, including Jews, to practice their religion.

Basim Naim, member of Hamas' Bureau for International Relations. (Albalad.co)

It is our fundamental right to choose our leadership

"We are committted to our fundamental rights of resisting the occupation by all means, including armed resistance by granting the right of return for all Palestinian refugees and not recognize the occupation of our land."





comments powered by Disqus