wawancara

Jalaluddin Rahmat (3)

Syiah juga haramkan perlihatkan wajah nabi

"Saya pikir banyak pecinta nabi di Indonesia bersedia mengorbankan uang seberapapun untuk membikin film tentang Rasulullah."

23 Januari 2016 11:59

Iran Agustus tahun lalu melansir film tentang Nabi Muhammad berjudul Muhammad: the Messenger of God (Muhammad Utusan Allah). Film berdurasi tiga jam kurang sembilan menit itu bikinan sutradara kenamaan Iran Majid Majidi, tersohor dengan karyanya Children of Heaven, menjadi nominasi dalam ajang Oscar 1998 untuk kategori film berbahasa asing terbaik.

Film termahal produksi negeri Mullah itu, konon menelan anggaran US$ 40 juta, menghadirkan masa kecil Nabi Muhammad hingga berusia 12 tahun, saat dia bertemu Bahira, rahib Nasrani mengetahui keniscayaan bakal datang nabi sekaligus rasul akhir zaman. Mulai hari ini film Muhammad, Utusan Allah diputar di 143 bioskop di seluruh Iran.

Seperti tradisi Syiah – lebih lentur ketimbang Sunni – Majidi tidak ragu menggambarkan sosok Rasulullah meski dari belakang. Dia ingin menampilkan apa yang dilihat dan dialami dari pandangan nabi sendiri, bukan lewat perkataan atau kesaksian orang-orang terdekatnya.

Inilah memicu kontroversi. Paham Sunni mengharamkan menampilkan sosok nabi, termasuk suaranya, dalam film atau versi gambar. Karena itulah lembaga Islam bergengsi Al-Azhar berpusat di Ibu Kota Kairo, Mesir, mengecam film Majidi itu. "Aktor berperan sebagai nabi nantinya bisa berakting sebagai penjahat dan para penonton bisa menilai karakter ini dengan kejahatan," kata Abdil Dayyim Nusair, penasihat imam besar Al-Azhar Syekh Ahmad at-Tayyib.

Menurut salah satu tokoh Syiah di Indonesia, Jalaluddin Rahmat, paham Syiah pun mmengharamkan memperlihatkan wajah Nabi Muhammad. "Kaum Syiah tidak boleh menggambarkan wajah Nabi Muhammad secara utuh karena dikhawatirkan tidak ada wajah manapun bisa menyerupai nabi," katanya saat ditemui Selasa pekan lalu di rumah dinasnya di kompleks perumahan anggota Dewan Perwakilan Rakyat di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan. "Tapi kalau dari belakang atau punggung, bisa sama tiap orang, bahkan nabi sekali pun."

Qatar tidak mau kalah. Negara Arab supertajir ini dua tahun lalu mengumumkan akan membikin film tentang Nabi Muhammad dengan anggaran US$ 1 miliar. Film bakal dipoduksi An-Nur Holdings ini menyewa Barrie Osborne, produser film Lord of the Rings, dan Syekh Yusuf Qardhawi sebagai penasihat. "Mereka tentu saja mempunyai fulus untuk mewujudkan itu," ucap Osborne kepada Hollywood Reporter.

Berikut penjelasan Jalaluddin Rahmat kepada Faisal Assegaf dari Albalad.co.

Apa komentar Anda soal film Muhammad: the Messenger of God bikinan sutradara Majid Majidi?

Itu karya sangat bagus. Tidak heran kalau film ini layak untuk diajukan dalam Piala Oscar.

Kalau kita lihat lamanya film itu bertahan di Iran, tiga bulan terakhir, Muhammad: the Messenger of God tidak turun-turun dan tiap hari diputar di semua bioskop. Penontonnya masih banyak dan penonton datangnya berkali-kali. Ada yang sudah tujuh kali menonton.

Film Muhammad: the Messenger of God hanya bisa disaingi oleh sebuah film India, katanya pernah bertahan dua tahun (tertawa).

Dari segi sinematografi, film itu sangat persuasif dan inspiratif.

Kedua, film itu dibikin secara serius. Dibuktikan dengan konsultannya adalah ulama besar Ayatullah Jawadi Abuli dan melalui studi literatur cukup lama. Sebelum bikin naskah, mereka melakukan studi literatur tentang sejarah nabi.

Saya kira film itu dibikin dengan cinta. Bukan sekadar seni untuk seni atau seni untuk tujuan komersial, tapi karena kecintaan kepada Nabi Muhammad. Dia (Majid Majidi) ingin ungkapkan kecintaan itu.

Kalau kata Jalaluddin Rumi, apa yang datang dari hati akan menyentuh hati. Para penontonnya memang sangat tersentuh.

Beberapa negara Islam katanya mau melarang film itu. Majid Majidi berkata, "Sebelum melarang, coba tontonlah dulu film itu."

Kalau disebut film itu propaganda Syiah, di sana tidak disebut-sebut nama Imam Ali bin Abi Thalib. Ini di seputar kelahiran nabi.

Mungkin ada cerita versi Syiah terdengar asing di kalangan Sunni. Misalnya soal Halimatus Sadiyah, ibu susu Nabi Muhammad. Kisah versi Syiah tidak ada penolakan oleh Halimah lantaran nabi dari keluarga miskin. Tidak ada orang akan menolak menyusui anak bangsawan Quraisy betapapun miskinnya dia. Mereka tampaknya "lebih memuliakan" bayi nabi ketimbang cerita-cerita versi lain.

Menurut versi Syiah, Rasulullah disusukan kepada Halimah bukan karena air susu Aminah (ibunya) tidak ada, bukan karena tradisi orang-orang Arab waktu itu, tapi Abdul Muthalib (kakeknya) ingin menyelamatkan Nabi Muhammad dari pembunuhan oleh orang Yahudi.

Yang menjadi kontroversi karena Sunni mengharamkan penampakan Nabi Muhammad. Bagaimana versi Syiah?

Bukan hanya Rasulullah, film soal Imam Ali , wajah Imam Ali juga tidak pernah diperlihatkan, selalu tampak belakang. Syiah juga mengharamkan memperlihatkan atau menggambar wajah Rasulullah. Yang ada dalam film Muhammad: the Messenger of God, nabi terlihat dari tampak belakang.

Kaum Syiah tidak pernah menggambarkan wajah Nabi Muhammad secara utuh karena dikhawatirkan tidak ada wajah manapun bisa menyerupai nabi. Tapi kalau dari belakang atau punggung, bisa sama tiap orang, bahkan nabi sekali pun. Yang muncul dalam film juga tangan nabi.

Kalau kita tidak bisa menggambarkan nabi secara visual maka kita juga tidak boleh menggambarkan nabi dengan verbal. Karena boleh jadi gambaran kita tidak sempurna. Jadi kesimpulannya, tidak boleh menggambarkan nabi secara visual dan verbal.

Apakah Anda sudah menonton film itu?

Belum, tapi anak saya, Miftah, Pak Zuhairi (Zuhairi Misrawi), dan rombongan jamaah saya kemarin pergi arbain sudah menonton filmnya.

Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, apakah Indonesia juga perlu membikin film soal Nabi Muhammad?

Indonesia perlu sekali membuat film soal Nabi Muhammad. Kita lebih terkesan dengan film ketimbang khutbah para ustad tentang Rasulullah.

Saya pikir banyak pecinta Rasulullah di Indonesia bersedia mengorbankan uang seberapapun untuk membikin film tentang Rasulullah.

Kira-kira siapa sutradara menurut Anda layak membikin film soal Nabi Muhammad?

Menurut saya Garin Nugroho.

Mural of a 16 year old boy who were arrested in Hebron after protesting Trump recognition. (Twitter)

Muslim leaders do not work enough to protect Jerusalem

"Their reaction is not suitable, it is less than what anyone expects from them to support Jerusalem," said Abir.

Menachem Klein, professor in political sciences at Bar Ilan University, Israel, poses with the background of the image of  Al-Aqsa in Borobudur Hotel, Jakarta, December 15, 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

The next Saudi king will be a trouble maker

Iran is the main reason for Saudi to get closer with Israel.

Adolf Derestepanian, the son of Prince Faisal bin Turki bin Abdullah al-Saud. (Adolf bin Faisal bin Turki for Albalad.co)

Prince Faisal bin Turki does not want to recognize me as his son

"My mother said to him, 'if you hear the name of Adolf, you have to remember that you have a child in Lebanon,'" said Adolf

Makkah, Arab Saudi. (www.skycrapercity.com)

Installing a retractable roof over Kaaba is not allowed

"Why hajj has to become luxury? Without feeling the heat like our Prophet did and companions," said Alawi.





comments powered by Disqus

Rubrik wawancara Terbaru

Muslim leaders do not work enough to protect Jerusalem

"Their reaction is not suitable, it is less than what anyone expects from them to support Jerusalem," said Abir.

16 Desember 2017

TERSOHOR