wawancara

Fadel Muhammad al-Haddar (1)

Arab Saudi dan Iran bersaing rebut pasar di Indonesia

Pemerintah sama-sama memberi akses bagi dua musuh bebuyutan itu.

19 Februari 2016 17:45

Dua negara ini musuh bebuyutan. Di tingkat kawasan, keduanya bersaing memperebutkan pengaruh di Timur Tengah.

Tengok saja posisi masing-masing dalam Perang Suriah. Arab Saudi menyokong para pemberontak, sedangkan Iran mendukung rezim Presiden Basyar al-Assad.

Dalam Perang Yaman juga demikian. Iran membantu milisi Syiah Al-Hutiyun dan Saudi membela Presiden Abdu Rabbu Mansyur Hadi.

Persaingan keduanya meluas hingga berebut pamor di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Indonesia. Kompetisi antara Arab Saudi dan Iran ini juga merambah ke sektor bisnis.

Kalau ditinjau dari komitmen investasi tahun lalu, menurut data BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), Iran paling getol ingin memasuki pasar Indonesia. Negara Mullah ini berkomitmen menggelontorkaan Rp 51 triliun untuk tiga proyek investasi. Sedangkan Saudi berkomitmen dengan 36 proyek investasi seharga Rp 1,6 triliun.

Fadel Muhammad al-Haddar, pengusaha sekaligus ketua Komite Kerja Sama Iran Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia, pun mengakui ada persaingan antara Arab Saudi dan Iran dalam merebut peluang investasi di Indonesia. "Saya melihat ada kompetisi besar antara Arab Saudi dan Iran untuk merebut pasar di Indonesia dan bekerja sama dengan Indonesia," katanya.

Wawancara berlangsung singkat karena mantan gubernur Gorontalo pertama itu terlihat lelah dan mengantuk. Sepanjang wawancara tidak sampai sepuluh menit ini, dia beberapa kali menguap.

Berikut penjelasan Fadel Muhammad, berkemeja batik coklat, saat ditemui Faisal Assegaf dari Albalad.co hari ini di kantornya di gedung Anugerah, Pancoran, Jakarta Selatan.

Seberapa besar peluang Indonesia merebut kesemoatan investasi dan perdagangan di Iran setelah sanksi ekonomi atas negara Mullah itu dicabut?

Saya kira suatu hal sangat baik sekali karena Iran ini adalah teman Indonesia. Waktu pemerintahan SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono), saya ditugaskan beberapa kali dari kabinet untuk ke Iran dan akhirnya saya sekarang menjadi ketua Indonesia-Iran dan ketua Dewan Bisnis Indonesia-Iran.

Maka ada beberapa peluang besar sekali dapat kita laksanakan dalam bidang minyak dan gas, kita juga bisa kirim bubur kertas dan kertas ke sana. Tinggal kita segera mengatur transaksi pembayarannya.

Dalam konferensi minyak di Ibu Kota Teheran akhir tahun lalu, Iran menawarkan skema kontrak baru bagi calon investor. Apakah Indonesia juga bisa mendapat kontrak minyak atau gas di sana?

Peluangnya besar sekali karena di saat sama Pertamina sedang menyiapkan hulu di luar negeri untuk mengisi kebutuhan kita. Kebutuhan kita 1,6 juta barel sehari, sedangkan kemampuan produksi kita di dalam negeri 600-an ribu barel per hari.

Pertamina hanya bisa mengisi 200 ribu lebih, yang lain modal-modal asing. Maka ada peluang besar bisa diisi dari Iran.

Apakah sudah ada tawaran kontrak dari Iran untuk Pertamina?

Sudah ada pembicaraan.

Berapa nilainya?

Saya nggak tahu. Saya kan di DPR (Fadel Muhammad menjabat ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat), bukan urusan detail begitu. Itu urusan bisnis toh.

Menurut data BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), Iran tahun lalu berkomitmen menggelontorkan Rp 51 triliun untuk berinvestasi di Indonesia. Kira-kira realisasinya seberapa besar?

Saya kira lebih dari setengah akan terealisasikan. Saya optimistis mereka bisa mengembangkan dengan baik di Indonesia. Insya Allah.

Paling besar di sektor mana?

Di sektor bubur kertas dan kertas, di sektor-sektor memang kebutuhan pasarnya besar di Iran.

Bagaimana soal rencana pembangunan kilang?

Saya telah tugaskan saudara Rudy Radjab (Presiden Direktur PT Kreasindo Resources Indonesia) untuk menangani ini dan tampaknya berbagai kendala harus dilewati. Jadi sedang diusahakan oleh Pak Rudy Radjab. Rencananya Maret ini mau ke sana tapi di sana sedang libur (tahun baru Iran). Jadi mungkin kita ke sana April.

Puncak acaranya adalah kita mau mengusahakan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Iran Mei nanti.

Apakah Anda melihat ada persaingan antara Arab Saudi dan Iran dalam merebut peluang investasi di Indonesia?

Saya melihat ada kompetisi besar antara Arab Saudi dan Iran untuk merebut pasar di Indonesia dan bekerja sama dengan Indonesia. Sekarang peluang di Iran sudah terbuka lebar dan Iran lebih fleksibel dalam pengaturan-pengaturan kesepakatan dibanding Arab Saudi, sehingga saya optimistis (kerja sama dengan Iran) akan lebih maju.

Apakah persaingan itu bakal berpengaruh juga hingga politik?

Saya nggak melihat sampai sejauh itu. Biar saja ini merupakan bisnis daripada politik. Cara berpolitik Arab Saudi juga berbeda dengan Iran. Kita usahakan hanya bisnis saja.

Pemerintah lebih condong ke mana? Iran atau Arab Saudi?

Saya kira sama-sama. Keduanya sama-sama diberi akses sama. Tinggal persaingan di antara mereka berdua saja.

Jadi Anda melihat tidak ada yang diberi keistimewaan?

Belum ada.

Guma al-Gamati, a Libyan politician who heads Taghyeer Party. (Albalad.co)

Qaddafi family has no more influence in Libya

"They have right one day to come back and to live in their own country peacefully as long as they don't make any trouble at all," said Gamati.

Mural of a 16 year old boy who were arrested in Hebron after protesting Trump recognition. (Twitter)

Muslim leaders do not work enough to protect Jerusalem

"Their reaction is not suitable, it is less than what anyone expects from them to support Jerusalem," said Abir.

Menachem Klein, professor in political sciences at Bar Ilan University, Israel, poses with the background of the image of  Al-Aqsa in Borobudur Hotel, Jakarta, December 15, 2015. (Faisal Assegaf/Albalad.co)

The next Saudi king will be a trouble maker

Iran is the main reason for Saudi to get closer with Israel.

Adolf Derestepanian, the son of Prince Faisal bin Turki bin Abdullah al-Saud. (Adolf bin Faisal bin Turki for Albalad.co)

Prince Faisal bin Turki does not want to recognize me as his son

"My mother said to him, 'if you hear the name of Adolf, you have to remember that you have a child in Lebanon,'" said Adolf





comments powered by Disqus

Rubrik wawancara Terbaru

Qaddafi family has no more influence in Libya

"They have right one day to come back and to live in their own country peacefully as long as they don't make any trouble at all," said Gamati.

25 Februari 2018

TERSOHOR